Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 95


__ADS_3

☘☘Achte auf deine Worte, denn sie sind manchmal schärfer als ein Schwert☘☘


"Bunda ngapain di sini?" Bidadari cantik tepat berada di hadapan Satya ketika netra laki-laki itu terbuka.


"Nyuci baju," jawab Ranti asal. "Ayo masuk ke kamar, ayah mandi terus siap-siap berangkat ke kantor!" Ranti membantu Satya berdiri tapi Satya malah menarik tangan Ranti hingga terjatuh dalam pelukannya.


"Ayah, lepasin!" Ranti memberontak saat Satya memeluknya.


"Sebentar aja, Bun." Satya terkekeh.


"Nanti keburu siang, itu ayah dicariin sama si bungsu ... eeeh." Ranti terkejut saat Satya tiba-tiba menggendongnya dengan posisi berhadapan, kedua kaki Ranti melingkar di tubuh Satya, Satya menahan ****** istrinya agar tidak jatuh.


Satya membawa Ranti masuk ke dalam kamar kemudian menurunkannya dengan perlahan ke atas ranjang, posisi Satya yang mendidih Ranti, Satya mencium bibir istrinya dan meluma*tnya sebentar.


Gio sepertinya tidak terima bundanya dicium oleh sang ayah, Gio menangis kencang sampai air matanya mengalir di sisi kanan dan kiri kepalanya.


Satya tersenyum, ia bangun kemudian menggendong Gio yang berada tepat di sebelah Ranti.


"Pelit banget sih kamu, sebelum kamu lahir bunda kamu itu milik ayah." Satya menatap tajam si bungsu yang semakin kencang menangis saat melihat mata Satya yang melotot.


"Ayah bawa kamu ke kandang kelinci." Satya membawa Gio keluar kamar, Ranti gelagapan langsung menyusul Satya yang membawa putranya keluar kamar. Satya kalau bicara jarang main-main, walau terdengar bercanda tapi ucapannya itu serius.

__ADS_1


"Gio kenapa sih nangis kejer gitu?" tanya Jasmine di tengah-tengah percintaannya dengan Gibran.


"Palingan ulah, ayah." Gibran mencium leher istrinya yang sudah berkeringat banyak.


"Cepetan keluar dong, Mas! Aku mau lihat Gio," pinta Jasmine sambil menjambak rambut suaminya.


Gibran mengangguk, ia mempercepat gerakannya sampai beberapa saat kemudian terkapar lemas di samping Jasmine dengan napas yang memburu.


"Terima kasih, Sayang." Jasmine mencium dahi Gibran kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak lama kemudian, Jasmine keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Jasmine mengambil baju rumahan santai kemudian segera memakainya.


Gibran heran dengan istrinya, apa pinggang istrinya itu tidak pegal setelah percintaan mereka? Gibran saja rasanya sangat lelah setelah bercinta dengannya.


Gibran mengambil gawai miliknya kemudian menghubungi Bayu. Setelah mendengar suara Bayu di seberang telephone, Gibran langsung mengatakan maksudnya.


"Bay, Lo gantiin semua pekerjaan gue, ya! Gue nggak bisa datang ke kantor karena gue punya pekerjaan yang lebih penting. Lo santai aja, nanti gaji Lo gue bayar dua kali lipat." Gibran tersenyum saat Bayu menyanggupi permintaannya.


"Sering-sering gantiin Gibran sih gue siap-siap aja, siapa sih yang nggak mau dapat gaji dua kali lipat?" Bayu berjingkrak senang di rumahnya.


...***...

__ADS_1


"Kamu mau dimakan sama kelinci?" Satya sudah sampai di kandang kelinci milik Gibran yang sekarang hanya tersisa 4 kelinci, satu ayah kelinci dan 3 anak kelinci.


Wajah Gio sudah merah karena terus menangis, hidungnya juga kembang kempis menggemaskan sekali. Tapi, kasihan juga karena matanya terus mengeluarkan air mata karena dimarahi ayahnya.


"Adu-duh ... sakit, Bun!" Kepala Satya miring ke kiri saat tangan Ranti menarik telinganya dengan sangat kencang.


"Kamu itu sudah tua tapi kelakuannya kaya anak kecil, bercanda boleh tapi jangan kelewatan. Nanti Gio bisa sakit kalau terus menangis kaya gini, nanti kalau dia rewel yang repot siapa? Bunda juga, 'kan?" Tidak biasanya Ranti marah-marah sampai seperti ini, memang suaranya tetap rendah karena seorang istri itu tidak boleh berkata dengan nada tinggi pada suami.


"Sakit, Sayang." Telinga Satya rasanya seperti mau putus saking kencangnya Ranti menarik.


Ranti melepaskannya dengan kasar, ia langsung mengambil Gio dari gendongan Satya. Benar saja, suhu badan Gio sekarang sudah panas, Gio memang tidak mudah demam, tapi kalau dia menangis kencang dalam waktu yang lama, pasti dia akan langsung demam.


"Kita pisah ranjang selama dua minggu," ucap Ranti dengan sangat kesal, suaranya bergetar dan lirih karena ia sekarang menangis merasa kasihan dengan Gio yang jadi demam gara-gara ayahnya.


Satya hanya mematung ditempat, ia merasa bersalah namun tidak mau mengakuinya.


Gio awas saja kamu, ya. Nanti ayah bawa kamu ke rumah eyang (ibu Satya).


...*** ...


Bersambung ...

__ADS_1


☘Bercandalah secukupnya saja, jangan cemburu berlebihan apalagi pada anak sendiri☘


__ADS_2