Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 12


__ADS_3

🌹LIKE, VOTE, SHARE 🌹


"Aw ...." Tangan Gibran menjauh dari dada Jasmine dan bergantian mengusap pipinya yang terasa sangat perih dan panas.


"Apa yang kamu lakukan gadis tengil, pendek, putih seperti mayat, bisa nampar hidup lagi." Gibran mengumpat kesal bahkan meledek gadis yang baru saja mencium pipinya dengan tangan.


"Serigala berbulu manusia, kurang asam kamu mainin punya saya. Mau kamu saya rebus terus saya makan karena sudah berbuat asusila." Jasmine menatap mata Gibran lekat.


"Dasar kamu keong racun," umpat Gibran tertawa sinis.


"Apa?" teriak Jasmine mengalahkan suara letusan Gunung Krakatau.


"Baru ketemu udah ngajak tidur." Jasmine yang mendengar ini langsung kesal.


"TIDAK PUNYA SOPAN SANTUN," teriak Jasmine membuat Bayu dan Gibran harus menutup telinganya.


"Oh my God! Tuan, Anda sudah melakukan pelecehan pada gadis ini, Anda akan terkena masalah," ucap Bayu yang menyaksikan secara langsung kejadian memalukan yang terputar jelas seperti sebuah film tepat di depan matanya.


"Gue tadi megang benda kenyal banget, Bay. Tapi gue nggak tahu itu apa." Gibran menatap Bayu dengan tatapan menusuk, dan pura-pura bodoh.


"Dan kamu! Kenapa kamu menampar saya?" Gibran menatap gadis di depannya itu dengan tatapan dingin tidak ramah seperti biasanya. Bahkan selera humornya hilang begitu saja saat mendapat tamparan pertama kali dari gadis yang dia sendiri tidak mengenalinya.


"Tuan, yang tadi Anda pegang itu bukan mainan, tapi benda berharga milih seorang wanita." Bayu sedikit iba saat melihat gadis yang ada di depannya itu terlihat marah karena perbuatan Gibran.


"Dasar laki-laki breng***," teriak Jasmine sambil memukul dada Gibran dengan kuat sampai Gibran pun bisa merasakan sakitnya saat tangan mungil gadis itu meninju ulu hatinya.


"Cewe kurang ajar, kamu yang menarik tangan saya dan kamu juga yang mengarahkan tangan saya ke dada, kamu." Gibran tidak terima jika dirinya yang disalahkan. Dia mengakui kalau dia juga salah tapi dia tidak mau jika kesalahan hanya dilimpahkan padanya karena jika gadis itu tidak menarik tangannya maka Gibran tidak akan sampai melakukan hal di bawah kendali alam bawah sadarnya.


"Tapi kenapa kamu malah mainin, kamu kan bisa menarik tangan kamu!" teriak Jasmine yang sudah dikuasai emosi.


"Salah terus salah terus. Wanita memang selalu benar dan makhluk paling egois di dunia." Gibran berkata dengan sinis dan terlihat sangat kesal.


"Nona, sebaiknya Anda ikut kami masuk ke kantor dulu, kita bicarakan masalah ini di dalam, bagaimana?" Bayu menawarkan solusi agar orang-orang yang di sini tidak melihat pertengkaran mereka berdua.

__ADS_1


Gibran menatap gadis itu dengan sinis. Baru kali ini sifat Gibran bisa berubah seperti bukan dirinya. Tatapan penuh luka ada di mata Gibran saat mengingat perkataan gadis tersebut yang mengatai 'laki-laki brengsek'.


Gadis tengil, sok cantik, sok imut. Tapi itunya lumayan juga hehe. Gibran berbicara dalam hati.


Astaghfirullah Gibran, itu dosa jangan pikirkan itu lagi, nggak boleh. Allah maafkan pikiranku!


Gibran memukul kepalanya merutuki kebodohan dirinya yang berpikiran tidak baik.


"Bayu, bawa gadis tengil ini ke dalam ruangan saya, pastikan dia tidak melakukan perbuatan yang nekat padaku." Gibran menduhului mereka masuk ke dalam perusahaan.


"Tuan, apa dia marah kepada saya?" tanya Jasmine saat melihat wajah Gibran yang terlihat kesal dengannya.


"Entahlah, lebih baik Anda ikuti saya sesuai dengan perintahnya jika Anda tidak mau terkena masalah." Bayu mempersilakan Jasmine untuk mengikutinya menyusul Gibran.


"Laki-laki curut, enak banget dia mainin dadaku, ini sudah keterlaluan. Aku nggak mau tahu dia harus tanggung jawab." Jasmine bergumam sambil menyusul langkah Bayu yang panjang.


Gibran duduk santai di kursi kebesarannya. Matanya mengarah pada pintu masuk ruang kerjanya. Dia menunggu Bayu dan si gadis tengil itu masuk namun mereka tidak kunjung masuk juga.


"Tuan, boleh kamu masuk?" Suara Bayu yang didahului suara ketukan pintu ruangan itu.


"Tidak." Satu jawaban dari mulut Gibran yang sudah tidak perlu penjabaran.


"Lalu kami harus apa?" tanya Bayu yang tidak mengerti dengan sikap Gibran yang berubah-ubah seenaknya.


"Masuk." Lagi-lagi hanya satu kata saja yang dia lontarkan. Apa mungkin mulutnya pusing atau pita suaranya dipotong sebagai acara peresmian untuk diam? Atau mungkin dia tidak tahu caranya berbicara panjang dengan jeda dan kalimat yang tepat? Maaf dia bukan penyair.


"Nona, ayo kita masuk. Saya tahu betul jika atasan saya tidak mau menunggu lama." Bayu menyatakan hal yang sebenernya.


"Tapi, kalau di dalam dia berbuat macam-macam bagaimana?" tanya Jasmine sedikit was-was.


"Tidak akan macam-macam, cukup hanya satu macam saja, Nona." Bayu jengah jika harus mengahadapi makhluk yang namanya wanita.


***

__ADS_1


"Tinggalkan kami, Bay!" perintah Gibran setelah cukup lama Bayu terlibat dalam perbincangan panjang mereka.


"Anda tidak akan berbuat macam-macam dengan gadis ini kan, Tuan?" Bayu terlihat waspada dan takut jika Gibran akan berbuat macam-macam dengan gadis tersebut.


"Beli bayclin di toko sana, Bay!" perintah Gibran tanpa ragu.


"Untuk apa pemutih itu?" tanya Bayu karena dia tidak tahu.


"Merendam otakmu agar bersih dari kotoran." Gibran mendelik tajam pada Bayu yang masih belum mencerna ucapan Gibran.


Tcih, yang harus dicuci itu otakmu, Tuan. Kalau perlu di mandikan dengan kembang tujuh rupa sambil bakar kemenyan dan di rendam di air terjun semalaman. Jasmine mengumpat dengan sangat kesal.


"Saya akan pergi, Tuan. Jangan lupa Anda makan kain kafan biar selalu ingat dengan Tuhan." Bayu langsung berlari keluar ruangan dengan terburu-buru karena takut mendapat amukan dari Gibran.


"Kain kafan tidak bisa dimakan, tol**."


"Haha ... benar apa yang dia katakan baru saja." Jasmine tertawa saat melihat Bayu yang berani berkata sembrono dengan Gibran.


"Gajimu akan aku potong dua minggu," teriak Gibran yang sudah tidak bisa didengar Bayu.


"Tuan, ada yang mau dibicarakan lagi atau tidak? Kalau tidak saya mau keluar sekarang." Jasmine bertanya setelah diam seribu bahasa.


"Kamu duduklah di sini!" Gibran menunjuk sofa di sebelahnya.


Jasmine tidak langsung duduk, dia terlihat ragu dan meremas tangannya yang terasa dingin karena rasa takut dengan Gibran. Gibran yang menyadari itu langsung memperhalus ucapannya. "Kemarilah! Saya tidak akan berbuat macam-macam kepada kamu."


Mendengar suara Gibran yang tidak lagi dingin dan besar. Jasmine melangkah perlahan menuju sofa yang ditunjuk oleh Gibran. Langkah Jasmine yang perlahan dan masih menyisakan rasa gugup karena sebuah kesalahan tadi membuat dia tidak terlalu fokus.


"Aaa ... cup." Mata Gibran terbelalak lebar saat ciuman pertamanya harus direnggut sebuah gadis tanpa sengaja. Jasmine terjatuh karena tersandung kakinya sendiri dan karena jarak dia dengan Gibran sudah dekat. Jasmine jatuh di dalam pelukan Gibran dan mencium bibirnya. Lima detik kejadian itu berlalu.


"Mmm-mmaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja." Jasmine terlihat kelimpungan dan saat dia hendak bangun. Kancing kemeja yang dia pakai tersangkut dengan kancing kemeja Gibran. Sehingga saat dia menarik dirinya mundur kancing bajunya terlepas dan lagi-lagi Gibran disuguhi pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat.


Sengaja author buat bab ini sedikit serius.

__ADS_1


__ADS_2