Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Alasan Bunda


__ADS_3

Gio dan Gavin mengantar Bara dulu ke rumahnya. Setelah mengajarkan Bara, Gio dan Gavin langsung pulang ke rumah.


"Vin, sampai kapan kamu akan bersikap dingin sama Gilang?" Gio menatap Gavin sebentar, Gavin sudah pindah duduk di depan setalah Bara turun dari mobil.


"Selamanya," jawab Gavin dengan mudah. Gavin memakan keripik milik Gio yang masih baru.


"Gak kasihan sama dia? Kamu harus ingat kalau kamu itu saudara dia!" Gio mendengar Gavin berdecak kesal, Gio melirik Gavin dengan sudut matanya.


"Gue ingat dan gue gak akan lupa kalau dia saudara gue. Tapi, gue gak bisa dekat sama dia." Gavin sudah kehilangan selera ngemilnya, jika berbicara masalah dengan Gilang ia sangat sensitif dan akan berakhir dengan rasa kesal.


"Jangan bersikap dingin sama Gilang!"


"Om kasih nasihat ke gue tapi Om sendiri gak akrab sama dia."


"Om bukan gak dekat sama dia, tapi dia sepertinya berusaha menjaga jarak dengan om."


"Gue gak setuju, selama ini Gilang selalu nyapa, Om. Selalu bergabung sama kita juga tapi kita yang bersikap acuh sama dia." Perkataan Gavin memang sangat benar, merekalah yang menghindar dari Gilang, bukan Gilang yang menghindar dari mereka.


"Dia itu anak yang baik, ayah sama bunda aja sayang banget sama dia," ucap Gio dengan senyum sinis dan sedih.


"Kakek sama nenek sayang sama kita semua, Om," balas Gavin yang tidak tahu perasaan Gio saat ini.


"Yang sayang sama gue cuma mama kamu. Bunda gak pernah perhatian sama gue, yang bunda perhatikan cuma Gilang sama kamu." Gio terkekeh sedih, ia merasa cemburu dengan kedua keponakannya.


"Itu cuma perasaan Om aja, nenek sayang kok sama, Om," ucap Gavin dengan yakin.


"Jangan bahas itu, bikin hati gue makin sakit aja!" Gavin ternyata baru paham jika Gio merasa kurang diperhatikan.


***


Gilang sudah memarkirkan motor di garasi, ia membuka helm kemudian masuk ke rumah setelah mengucapkan salam.


Gilang melihat Satya sedang duduk di sofa sambil membawa koran baru. Gilang berjalan menghampiri Satya.


"Siang, Kek." Gilang menyapa Satya.


"Siang, kamu kok sudah pulang, Gi?" tanya Satya sambil meletakkan koran yang ia baca ke meja.


"Ujian akhir jadi pulang cepat," jawab Gilang tersenyum.

__ADS_1


"Kamu gak bareng sama Gavin?"


"Gak, Kek. Tadi Gavin dijemput sama Om Gio."


"Kamu kenapa kalau berangkat sekolah gak pernah bareng sama mereka?" Pertanyaan Satya membuat Gilang terdiam.


Gilang menatap wajah Satya dengan seksama kemudian tersenyum simpul.


"Usia Kakek sekarang sudah 60 lebih, Kakek panjang umur, ya?" Gilang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


"Alhamdulillah," ucap Satya.


"Gilang ke atas dulu, ya. Gilang capek mau istirahat sebentar." Satya mengangguk, Gilang langsung berdiri dan berjalan cepat ke lantai dua.


***


Gavin dan Gio sudah sampai di rumah. Mereka langsung masuk dan menuju kamar masing-masing karena tidak melihat siapa pun di ruang depan.


Gio malah melihat Satya yang sedang berdiri di depan kamar Gavin.


"Ayah kenapa berdiri di sini?" tanya Gio penasaran.


"Kakek kenapa berdiri di depan kamar aku? Kalau Kakek mau masuk, masuk aja!" ucap Gavin dengan sopan.


Satya tersenyum pada putra bungsunya yang sekarang sudah tumbuh besar dan lebih tinggi darinya.


"Benar gak apa-apa?" tanya Gio lagi.


"Iya, ayah gak apa-apa, kok. Kamu kuliahnya lancar?" tanya Satya sambil merangkul bahu Gio.


"Lancar, Yah," jawab Gio.


"Nenek sama mama di mana Kek?"


"Di kamar Gilang."


"Oh," jawab Gavin singkat.


Gavin masuk ke kamar setelah Gio dan Satya pergi.

__ADS_1


Satya ikut ke kamar Gio untuk berbincang-bincang dan mengobrol masalah pekerjaan kantor dan juga kuliah Gio.


Di dalam kamar Gilang, Ranti dan Jasmine tidak bicara apa pun, mereka hanya menatap Gilang yang tidur dengan pulas dan tidak terusik walau mereka ganggu.


Jasmine duduk di tepi ranjang, tangan kanannya mengusap kepala Gilang dangan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sepertinya Gio udah pulang, bunda lihat Gio dulu, ya!"


"Iya, Bun."


Ranti langsung keluar kamar dan berjalan ke kamar Gio yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar Gilang.


Ranti masuk ke kamar dan melihat suaminya berada di sana. Ranti berjalan menghampiri mereka.


"Bunda, Gio kangen." Gio langsung berdiri dan memeluk Ranti dengan erat.


Ranti tersenyum dan membalas pelukan Gio, Ranti mengusap punggung Gio dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tumben meluk bunda, ada apa?" tanya Ranti.


"Gio sayang sama, Bunda. Bunda gak sayang lagi sama Gio." Rupanya anak bungsu sedang merajuk.


"Kata siapa bunda gak sayang sama kamu? Bunda itu sangat sayang sama kamu, kamu lahir ketika kakak kamu sudah berusia dua puluh tahun lebih, bunda sayang banget sama kamu karena kamu lahir ketika bunda ingin punya anak lagi." Ranti mengatakan apa adanya.


"Selama ini aku kira Bunda cuma sayang sama Gavin dan Gilang." Gio menyembunyikan wajahnya di leher Ranti.


"Bunda sayang kalian sama kalian semua." Ranti mencium kepala Gio lembut.


"Kenapa kamu bisa punya berpikiran kalau bunda cuma sayang sama keponakan kamu?" tanya Satya penasaran.


"Perasaan Gio aja, Yah," jawab Gio jujur.


"Bunda, Gio mau tanya."


"Kita duduk dulu, bunda capek berdiri terus." Gio mengangguk, Gio melepaskan pelukannya dan duduk di sofa.


"Sekarang kamu mau tanya apa sama bunda?"


"Kenapa Bunda terlihat sangat perhatian sama Gilang, sedangkan kalau sama aku dan Gavin biasa aja?" Ranti terdiam beberapa saat.

__ADS_1


Ranti sadar jika selama ini ia memang sedikit lebih memerhatikan Gilang dan ini juga bukan tanpa alasan.


"Setelah lulus SMA, Gilang akan kuliah di luar negeri. Maka dari itu sekarang bunda sering bersama dengan Gilang karena menggunakan waktu sebelum Gilang berangkat."


__ADS_2