Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 23


__ADS_3

"Pak Kiai, ini kenapa bunda Gibran malah pingsan?" tanya Gibran dengan panik.


"Itu salah kamu karena tiba-tiba memeluk ibumu, tahu sendiri kalau ibumu tahu kalau kamu sudah meninggal, Nak Gibran." Kiai tersebut mendekati Gibran dan membantu Gibran membaringkan Ranti di sofa.


"Aduh, Pak! Bagaimana ini, bunda malah piknik bikin saya jadi khawatir." Gibran mengusap keringat di dari Ranti dengan tangan kanannya.


"Siapa yang piknik, Nak Gib?" Kiai tersebut bingung dengan perkataan Gibran.


"Ya bunda lah, Pak. Masa saya." Gibran menatap sendu pada Kiai tersebut.


"Pisang bukan piknik." Mulai lagi kesalahan dalam pengucapan mereka.


"Pingsan maksud saya." Gibran berlari ke dapur meninggalkan Kiai dan juga bundanya.


"Kamu mau ngapain di dapur?" teriak Kiai dengan keras.


"Ambil air," balas Gibran dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Satya yang ditinggal Ranti keluar kamar memutuskan untuk menyusul istri tercintanya itu. Dia mengabaikan rasa takutnya jika hantu Gibran kembali.


"Induk ayam mancari, terus cari anaknya yang hilang." Di sepanjang perjalanan Satya bernyanyi untuk mewakili rasa sedih yang dia rasakan.


Satya yang baru saja turun karena mengejar istrinya malah dibuat terkejut saat melihat istrinya pingsan dan dia tambah terkejut dengan kehadiran kakek tua dengan baju putih yang kotor di beberapa bagian dan sedang berdiri sambil memerhatikan Ranti.


Sepertinya Satya tidak tahu jika Gibran kembali karena saat Satya turun Gibran sudah ada di dapur.


Siapa kakek tua itu? Kenapa dia memerhatikan istriku? Satya berjalan mendekat dan menepuk pundak Kiai tersebut dengan pelan penuh kewaspadaan.


Kiai itu menoleh dan tersenyum ramah pada Satya yang malah bergerak mundur dengan cepat karena melihat wajah Kiai tersebut.


"Jangan takut, Tuan Satya. Ini saya Pak Zainudin," ucap Kiai tersebut yang ternyata bernama Zainudin.


"Oh, saya kira malaikat." Satya tersenyum ramah dan menjabat tangan Kiai Zainudin dengan sopan.

__ADS_1


Satya mundur beberapa langkah untuk melihat dengan jelas wajah Kiai Zainudin sampai dia merasakan tubuhnya menabrak sesuatu.


Gibran yang baru saja dari dapur untuk mengambil kom yang dia isi dengan air garam tidak sengaja terjatuh karena tertabrak tubuh Satya yang mundur secara tiba-tiba.


"Aduh, Ayah! Kalau jalan pakai mata dong!" Gibran kesal karena bokongnya terasa berdenyut sakit dan tubuhnya basah karena tersiram air yang dia bawa tadi.


"Di mana-mana jalan itu pakai tangan." Satya membalas dengan cepat sampai tidak sadar jika perkataannya itu salah.


"Kaki Tuan Satya, bukan tangan." Pak Kiai meralat kata-kata Satya yang salah.


"Nah itu maksud saya." Satya belum sadar jika tadi Gibran bicara dengannya agan Satya baru sadar setelah beberapa saat.


Satya merasakan hawa dingin di belakang tubuhnya, Satya merasa ada seseorang yang berada di belakangnya sekarang dan dengan pelan Satya menoleh ke belakang, betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Gibran yang sedang tersenyum bodoh dengan bagian tubuh bawahnya yang masih ditutupi kain kafan.


"Astaghfirullah, tuyul." Satya berlari dan bersembunyi di belakang Kiai yang tersenyum karena tingkah keluarga Gibran yang menurutnya lucu.


"Tuyul? Mana tuyul ... mana?" Gibran ikut berlari dan bersembunyi di belakang ayahnya, hal itu tentu saja membuat Satya semakin takut dan Kiai terkekeh.


Sesaat Satya bergeming saat melihat Gibran dengan penampakan seperti tuyul itu berdiri tepat di sampingnya. Namun, Satya sadar jika Gibran bukan tuyul karena dia tidak botak.


Satya ingat jelas kalau dia sempat melihat jasad Gibran membuka mata dan mengucapakan beberapa kata saat di pemakaman tadi. Hal itu membuat Satya percaya jika yang tadi dia lihat adalah sebuah kenyataan.


"Gibran, apa ini benar-benar kamu?" Satya menoel pipi Gibran lalu menariknya dengan keras membuat pipi Gibran sedikit merah karena ulahnya.


"Aduh, Yah. Sakit." Gibran menjauhkan tangan Satya dari wajahnya.


"Hiks ... Nak." Satya memeluk Gibran dengan terisak pelan, sungguh dia benar-benar merasa sangat bahagia saat melihat Gibran benar-benar masih hidup dan kembali ke rumah.


Satya memeluk Gibran erat seakan dia tidak mau jika Gibran pergi dari hadapannya saat ini. Rasa sakit kehilangan Gibran, rasa sedih saat melihat istrinya terpukul karena kematian Gibran sekarang berubah menjadi rasa bahagia karena putranya masih hidup.


Satya melepaskan Gibran dari pelukannya setelah dia merasa puas. Satya mengecup dahi Gibran sebagai bentuk rasa sayangnya, aneh memang karena tidak biasa seorang ayah mengecup dahi anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan.


"Gantilah pakaianmu, Nak! Ayah yang akan mengurus bunda." Satya mendorong pelan tubuh Gibran agar pergi ke kamarnya, dan setelah Gibran pergi Satya menatap Kiai yang masih berdiri itu dengan tatapan ramah dan menyuruh beliau duduk.

__ADS_1


"Silakan duduk, Pak." Satya berjalan mendekati Ranti dan berlutut sambil memerhatikan wajah cantik istrinya yang belum juga sadar dari pingsannya.


"Sayang bangun! Putra kita telah kembali, dia tidak meninggalkan kita." Satya mengusap kepala Ranti dengan penuh kasih sayang sampai Kiai yang melihatnya tersenyum teduh melihat Satya yang sangat mencintai ibu dari anaknya.


"Sayang bangunlah!" Satya mengecup dahi Ranti dan punggung tangannya agar istrinya tersebut segera bangun dan melihat kehadiran Gibran yang sempat membuatnya menangis frustasi.


***


"Gue heran sama diri gue sendiri, kenapa gue bisa dengar kata hati Pak Kiai dan kenapa gue bisa melihat bayang-bayang kejadian di masa depan?" Gibran berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.


Pusing memikirkan hal itu, Gibran memutuskan untuk mandi dan berendam air hangat sebentar.


Gibran mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat dia merasa dia sedang bermimpi melihat jasadnya sendiri sedang dimandikan dan disalati, dia juga bermimpi seakan dia sudah dimasukan ke dalam liang lahat sampai sebuah suara membuatnya bangun dan membuka mata.


"Ternyata itu semua bukan mimpi, gue benar-benar ngalamin hal itu." Gibran merasa sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk hidup satu kali lagi di dunia.


Gibran menyelesaikan mandinya dengan cukup cepat dan dia sudah memakai pakaian santai sekarang. Gibran merebahkan dirinya di ranjang dan melupakan Ranti yang tadi pingsan.


"Duh, kenapa gue jadi rindu sama cewe waktu, ya?" Gibran merasa rindu dengan Jasmine, gadis cantik yang menciumnya.


Gibran memukul kepalanya karena tidak ingin mengingat Jasmine. Sekarang pikiran Gibran tertuju pada sahabatnya.


"Ayah, Bunda di mana adikku?" Gibran melompat dari kasur dan berlari sambil berteriak memanggil orangtuanya.


Satya yang masih berada di lantai satu segera menjawab pertanyaan Gibran. "Ayah ada di bawah."


Mendengar suara ayahnya Gibran segera turun ke lantai satu. "Yah, di mana adikku?" tanya Gibran setelah sampai di lantai satu.


"Di rumah sakit," jawab Satya dengan sedih.


***


Maaf telat upnya ... maaf kalau nggak lucu

__ADS_1


__ADS_2