
Jasmine duduk di kursi taman karena ia menolak jika terus duduk di kursi roda yang ia rasa kurang nyaman, sejak mereka sampai di taman, Jasmine hanya diam saja tidak mau bicara. Ia masih kesal dengan suaminya yang membuat ia senam jantung.
Baru saja ia sembuh dan Gibran berjanji tidak akan melukainya lagi. Tapi belum juga hari berganti Gibran sudah melupakan janjinya.
Lihat saja, Gibran tidak merasa bersalah sama sekali, ia malah dengan nyaman berbaring di pangkuan sang istri.
"Jangan cemberut, Sayang. Kalau kamu cemberut begitu lucunya mengalahkan marmut." Gibran membenamkan wajahnya di perut Jasmine.
Jasmine melotot tidak suka saat dirinya disamakan dengan semut ... eh marmut. Jasmine memukuli tubuh suaminya sambil menggerutu tidak jelas.
"Ampun, Sayang!" Gibran menggeliat menghentikan pukulan dari tangan Jasmine.
"Kamu nakal." Jasmine mengusap rambut suaminya dengan sayang, rasa kesalnya menguap begitu saja setelah mendapati sikap usil suaminya yang diam-diam sangat dirindukannya.
"Nakal-nakal begini, tapi kamu sayang kan sama aku?" Gibran memeluk pinggang Jasmine erat, ia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan selama Jasmine sakit dan dirawat di rumah sakit.
"Siapa bilang?" Jasmine mengelak.
"Bilang apa?" tanya Gibran memancing Jasmine.
"Jangan plagiat Dilan." Jasmine bisa menebak isi otak suaminya.
__ADS_1
"Gagal sudah," ucap Gibran sambil mendesah kesal.
"Kok kamu tahu kalau tadi banyak perempuan yang terpesona dengan ketampanan suami kamu yang paripurna ini?" Gibran penasaran, bukankah Jasmine mengatakan kalau dirinya tidak bisa melihat dengan jelas?
"Dari pakaiannya, kan laki-laki sama perempuan pakaiannya beda," jawab Jasmine dengan jujur.
"Masa sih, Yang?"
"Pala kamu peyang." Jasmine membelai wajah suaminya, sayang sekali ia tidak bisa melihat dengan jelas, kalau seumpama dia tidak buta, mungkin dia akan tersenyum puas memandangi wajah tampan suaminya yang telah terekam jelas dalam ingatannya.
"Iya, Sayang." Gibran menyentuh bukit kembar milik istrinya.
"Tambah besar, ya, hahaha." Gibran tertawa dengan suara yang lucu karena hidungnya ditekan Jasmine dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya.
"Makannya ayo kita pulang bikin anak lagi!" Gibran tersenyum takut saat Jasmine menatapnya dengan tatapan tajam.
"Haha, aku cuma bercanda, Sayang." Gibran duduk lalu memeluk istrinya dengan erat, ditempelkannya kepala Jasmine ke dadanya dan dikecupnya pelan puncak kepala Jasmine.
"Cepat sembuh, ya! Aku kesepian tanpa kamu." Gibran terdengar sedang menggombal padahal itu sungguh-sungguh dari hatinya.
"Iya." Jasmine menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang membuat ia candu.
__ADS_1
"Kamu pengen punya anak cewe atau cowok?" tanya Gibran sambil mengusap punggung Jasmine.
"Dua-duanya," jawab Jasmine dengan mata berbinar terang.
"Mau punya anak berapa?" Gibran bertanya lagi.
"Tiga, aku pengen tiga. Tapi, kalau diizinin sama kamu." Jasmine melepaskan pelukannya lalu menatap suaminya lekat.
Warna hitam dan putih sepertinya tidak akan pernah berubah lagi.
"Seribu pun aku kasih sayang, kan enak bikinnya." Gibran meneteskan air matanya pelan, ia membelai pipi Jasmine lalu mencium dahinya lama.
"Aku yang membuat, kamu yang melahirkan." Jasmine mendongak lalu mencium bibir suaminya lembut, lama kelamaan bukan hanya ciuman biasa, namun senyuman yang mendamba.
"Aku pengen," bisik Jasmine setelah ciuman mereka terlepas.
"Harus sembuh dulu!" Mereka kembali berciuman, tidak peduli dengan tatapan iri orang lain.
"Aku pengen, Yaaaang!" Jasmine meremas pusaka suaminya sampai Gibran menggigit bibir bawahnya menahan pusakanya agar tidak bangkit.
***
__ADS_1
Baca dan like bab 84 juga ya