
Betapa bahagianya Gibran ketika ia melihat dua malaikat kecilnya tidur dengan begitu pulas setelah berhasil melihat indahnya dunia dengan banyak warna dan rasa di dalamnya. Gibran meng-azani mereka secara bergantian kemudian meletakkan kembali ke ranjang kecil di ruang khusus untuk bayi.
Setelah beberapa jam tidak sadarkan diri dengan keadaan yang bisa dibilang cukup buruk, Jasmine akhirnya sadar dan ia sekarang duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menatap wajah suaminya yang memancarkan aura kebahagian yang teramat sangat sampai Jasmine tidak bisa lagi mendeskripsikan-nya.
Jasmine bahkan tidak sadar jika ada sesuatu dalam dirinya yang berubah, tentu saja bukan perut melainkan bagian tubuhnya yang lain. Jasmine terus tersenyum ketika mulut suaminya itu terus komat-kamit beribu kali mengucapkan kata terima kasih karena telah membuat hidupnya begitu sempurna.
"Kamu jatuh di mana?" Jasmine melihat dahi suaminya sedikit memar.
"Dahiku dicium lantai tadi di ruang persalinan karena dirimu." Gibran menyentuh bagian dahinya yang terasa sedikit ... uh, sakit.
"Karena aku?" Jasmine menatap tidak paham pada suaminya. Jasmine malah melihat mata Gibran sekarang berkaca-kaca dan menatap dirinya dengan sendu.
__ADS_1
"Aku kira kamu meninggal tadi karena bedside monitor ... ah sudahlah, Sayang! Tidak perlu membahas itu lagi." Gibran menatap ke arah lain ketika buliran kristal bening dan hangat mengalir melewati pipinya sampai di ujung dagu dan menetes dengan pelan di dada.
"Mas, aku ingin melihat anakku." Jasmine mengalihkan perhatian Gibran karena ia tidak sanggup melihat kesedihan suaminya sekarang, siapa yang tidak ada sedih ketika melihat orang yang dicintai menangis karena takut kehilangan dirinya, memang kematian itu sudah sesuatu yang pasti dan tidak bisa ditawar walau hanya satu detik.
Gibran mengangguk lalu ia keluar dari ruang rawat Jasmine. Ketika Gibran keluar kamar, tiga orang yang Jasmine kenal masuk ke ruangannya dengan senyuman dan raut wajah bahagia.
"Kamu sudah merasa baikan, Sayang?" Ranti duduk di tepi ranjang rawat Jasmine, jelas sekali ia sangat mengkhawatirkan putrinya yang baru saja melahirkan cucu kembarnya dengan normal. Bisa dibayangkan betapa sakit perjuangan putrinya yang berhasil melahirkan dua cucu laki-lakinya dengan selamat tanpa cacat.
"Anak kamu laki-laki semua, Sayang." Ranti dengan semangat menjawab pertanyaan putrinya yang satu ini.
"Hem, sedihnya diriku." Jasmine menghembuskan napas panjang dan lemah dengan bibir yang mengerucut dia centimeter.
__ADS_1
"Why? Kenapa kamu sedih?" Ranti menatap Jasmine dengan tajam seakan mengintimidasi menantunya tersebut.
"Semuanya pasti tampan, Bun. Jadi, Jasmine menjadi yang paling cantik sendiri di antara mereka. Rumah kita jadi banyak laki-lakinya, Bun. Mas Gibran, ayah, Gio, dua anakku." Saat Ranti mendengar jawaban putrinya, wajahnya langsung berekspresi sedih sama seperti Jasmine.
Ranti mengangguk dan membenarkan ucapan putrinya namun ia sedikit meralat. "Kita berdua, Sayang. Bukan hanya kamu." Satya memutar bola matanya jengah melihat ekspresi dua wanita di depannya. Gio bahkan ikut menatap bundanya dengan datar seperti anak kecil itu juga sama jengah-nya seperti sang ayah.
Namun, beberapa saat kemudian Gio tiba-tiba mengigit telinga Satya sampai ayahnya itu menjerit merasakan geli serta sakit karena ulah putra bungsunya.
"Kalau bunda kamu yang gigit enak, Gio. Tapi kalau kamu yang gigit sakit tahu." Satya langsung menghujani wajah putranya dengan banyak ciuman sampai anaknya itu terkikik sambil menggeliat kegelian dengan tangan yang berusaha menjauhkan wajah ayahnya darinya.
Gibran telah kembali dengan seorang bayi dalam gendongannya dan satu orang perawat ikut membantu membawa bayi yang satunya lagi. Jasmine matanya langsung berbinar melihat tubuh yang begitu mungil dengan kulit masih kemerahan itu di dekatnya sekarang.
__ADS_1
Perawat memberikan bayi itu pada Jasmine sedangkan Gibran memilih duduk di sofa di samping ayahnya sambil menggendong putranya yang lidahnya melet-melet keluar dengan tangan kanan dan kiri berusaha keluar dari balutan kain tipis yang mengikatnya.