Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 84


__ADS_3

"Dia nggak mau lepas dari kamu." Ranti tersenyum, ia dengan hati-hati melepaskan tangan Gio yang berpegangan erat pada baju menantunya.


Setelah terlepas, Gio langsung digendong Ranti dan diajak duduk di sofa. Gio menangis kencang membuat Jasmine tidak tega dengan adiknya itu, tangisan Gio semakin kencang kala Ranti memasukkan ****** susunya ke mulut Gio. Gio menolaknya dan menggeliat tidak suka.


"Gio udah besar nggak boleh nakal, nanti kalau Gio nakal ayah sama bunda buat adik buat Gio, lho." Satya mengusap kepala bocah kecil itu dengan sayang, Jasmine tersenyum mendengar perkataan mertuanya yang ... tidak perlu dijelaskan.


Gio sepertinya paham dengan maksud perkataan Satya, bukannya berhenti menangis, tangisan Gio malah semakin kencang.


"Ayah nih suka banget gangguin anak kecil. Nih gendong anaknya, nggak mau minum ASI dia." Ranti marah-marah dan langsung menyerahkan Gio ke gendongan suaminya.


Satya mencebikkan bibir, ia duduk lalu memasukkan jari jempol Gio ke mulut Gio sendiri, dan saat itu juga Gio langsung diam walau masih sesenggukan.


Jasmine tersenyum, ia mengusap perutnya yang masih datar. Jasmine memang tidak bertanya pada dokter, tapi ia tahu jika dirinya sekarang sedang hamil, hasil buah cinta dari dirinya dan suaminya.


"Airin, aku memang buta dan ini kenyataan. Tapi, buta yang aku alami adalah jenis buta parsial atau buta sementara atau juga buta warna. Penyebabnya bisa karena benturan, pendarahan, efek psikis, dan masih banyak lagi." Jasmine mulai menjelaskan kenapa ia masih bisa melihat Airin padahal matanya buta.


"Aku bisa melihat kalian, tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas. Semua yang aku lihat hanya hitam dan putih." Jasmine tersenyum pedih, hatinya merasa sangat perih menerima kenyataan yang begitu menyakitkan dalam hidupnya.


"Sayang, maaf! Ini semua terjadi karena aku." Gibran menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf!" Jasmine mengusap punggung suaminya yang terlihat sangat rapuh.


"Mel, gue nggak paham sama penjelasan, Lo." Airin menggaruk kepalanya yang terasa gatal, mungkin karena ketombe.


"Nggak paham nggak masalah, tapi Lo ngerti kan kalau gue buta tapi sementara?" Jasmine tersenyum.


"Enggak." Airin menjawab dengan wajah polosnya.


"Ya udah." Jasmine tersenyum paksa.


...***...


Airin, Ranti dan Satya sudah pulang ke rumah masing-masing, kini hanya tinggal Gibran dan Jasmine yang berada di rumah sakit.


Gibran berjanji tidak akan pernah lagi cemburu berlebihan pada istrinya, sudah cukup semua yang ia lakukan membuat Jasmine merasakan rasa sakit karenanya.


"Mas, kamu bisa tidur nyenyak tanpa aku?" tanya Jasmine ketika mereka masih di perjalanan menuju taman rumah sakit.


"Nggak bisa, biasanya kan kalau tidur suka ehem-ehem dulu sama kamu." Gibran terkekeh.

__ADS_1


"Tujuh bulan biasa aja tuh." Jasmine mendongak, menatap wajah tampan suaminya dari bawah.


"Itu beda lagi, Sayang." Gibran tersenyum manis sekali, tapi Jasmine kesal karena banyak perawat dan dokter wanita yang terpesona dengan ketampanan Gibran Satya Dinarta, CEO dari perusahaan ternama dan terbesar di Asia, GS Group.


"Jangan senyum, Mas!" Jasmine mengerucutkan bibirnya sampai monyong 2cm.


"Emang kenapa kalau aku senyum?" Gibran yang tidak tahu langsung bertanya.


"Lihat sekitar kamu!" Jasmine berdecak kesal.


Gibran menuruti permintaan istrinya, ia lalu tersenyum lebar saat tahu jika banyak orang yang menatapnya kagum.


"Kok malah senyum sih?" Jasmine mencubit punggung tangan suaminya kesal.


"Jadi selebritis dadakan aku, Sayang." Gibran terkekeh lalu mendorong kursi roda istrinya dengan berlari.


"Maaaaaaaasss ...." Jasmine berteriak panik.


"Kaaaaawiiiinn." Gibran membalas sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


...***...


Bersambung ...


__ADS_2