Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Gia Pulang


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Gia langsung berniat menemui Gilang untuk mengatakan tentang pertemuannya dengan Syala. Namun, saat ia akan berjalan menaiki tangga, suara Jasmine menghentikan langkahnya.


"Sayang, kamu sudah tidak mendengar perkataan mama lagi," kata Jasmine sambil berjalan menghampiri Gia dengan senyum lebar.


"Gia cuma dari taman, Ma. Cuma menepati janji yang sudah dibuat sama teman, sudah aku bilang kalau aku gak mau jadi orang munafik. Mama paham?" jawab Gia dengan datar dan mata menatap ke arah lain.


"Mama cuma gak mau kalau Gilang-"


"Yang pergi bukan Koko Gilang tapi aku. Jadi, Mama gak perlu khawatir!" Gia menyela dengan cepat.


"Gia, mama hanya-"


"Gia tahu kalau mama melakukan ini untuk kebaikan Koko Gilang. Gia minta maaf karena jadi anak pembangkang, walau baru satu kali sih." Gia nyengir kuda.


"Gia ke atas dulu, Ma." Gia meninggalkan Jasmine di dekat tangga, ia tidak mau menambah dosa dengan mamanya.


Gia membuka pintu kamar Gilang yang tidak dikunci, di dalam ternyata ada Gio dan Gavin juga yang sedang berbincang dengan mereka. Gia berjalan cepat menghampiri Gilang kemudian ia berbisik padanya.


"Ko, dapat salam dari Kak Syala. Dia pergi hari ini, semoga bisa bertemu lain kali." Gilang mengangguk dan tersenyum lemah, Gio dan Gavin menatap mereka penasaran.

__ADS_1


***


Waktu makan siang tiba, semua orang sudah berkumpul di meja makan dan menikmati menu makan siang yang dimasak langsung Jasmine dan Gia.


Setelah selesai makan siang, Gia kembali ke kamar mengambil koper miliknya dan membawanya turun lagi.


"Nenek, Kakek, semuanya. Gia pulang dulu, ya. Gia pulang diantar sama Bang Gavin dan Om Gio," pamit Gia sambil mencium punggung tangan keluarga dari pihak Gibran.


"Kenapa buru-buru?" Wajah Ranti terlihat sangat sedih.


"Hari ini Paman Ridwan pulang, Gia mau minta oleh-olehnya," jawab Gia jujur.


"Koko ikut dong, kangen sama nenek dan kakek di sana," pinta Gilang sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Kapan lagi bisa jalan bareng sama kalian, aku memutuskan untuk memperbaiki hubungan persaudaraan kita." Gavin sangat senang, ia langsung memeluk Gilang dengan erat, sedangkan Gio hanya tersenyum tipis, akhirnya mereka akrab juga.


"Boleh, Ma?" Gilang menatap Jasmine penuh permohonan.


Jasmine sebenarnya tidak ingin mengizinkan Gilang. Namun, ketika melihat kedua anaknya ingin memperbaiki hubungan, maka dengan senang hati Jasmine mengizinkan mereka pergi ke rumah orangtuanya.

__ADS_1


"Iya, boleh. Bilang sama nenek dan kakek kalau mama rindu sama mereka, ya!" pinta Jasmine pada mereka.


"Siap, Ma," jawabnya penuh semangat.


"Kalau ada waktu lain kali ke sini lagi lagi, ya!" Ranti memeluk Gia penuh kasih, Gia membalas pelukan Ranti dan mengangguk tanda setuju.


***


Kini, mereka berempat sudah berada di mobil menuju rumah orangtua Jasmine. Gia duduk di kursi depan bersama Gio, ia terus berbicara di sepanjang perjalanan dan ditanggapi oleh semuanya.


"Kalian menginap, 'kan?" tanya Gia sambil menoleh ke belakang.


"Iya, kamu sudah sepuluh kali tanya itu," jawab Gavin dengan sinis.


"Idih! Aku lupa, Bang." Gia terkekeh, Gio yang gemas langsung mengacak-acak rambut panjang Gia.


"Kenapa kamu panggil mereka dengan panggilan berbeda?" tanya Gio yang sudah kembali fokus mengemudi.


"Suka-suka, Om. Biar beda aja, cukup wajah mereka yang sama," jawab Gia sambil nyengir.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2