Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 33


__ADS_3

Gibran melemparkan sesuatu yang bergerak itu sampai jatuh di atas bibir Bayu. Gibran melompat ke atas sofa dan berteriak. "Aaa ... Cicak." Gibran melihat ke arah Bayu dengan sejuta perasaan yang tidak bisa dia jabarkan menjadi kata-kata.


"Pftt ... bwahahaha, gue nggak nyangka kalau bibir Lo bakal Lo serahin ke cicak, Bay." Gibran tertawa terbahak-bahak sampai matanya mengeluarkan air.


Kuasa Allah itu memang tidak ada yang bisa menduga. Semua kehidupan dan alam semesta ini sudah diatur oleh Allah. Tidak ada yang bisa menandingi kekuatan dari ciptaan Allah. Manusia boleh berusaha, tapi Allah yang menentukan hasilnya.


Jika keajaiban itu ada, maka percayalah! Jika kamu percaya, maka iman kamu akan kuat dan tidak mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang berbahaya. Mungkin Allah menjatuhkan cicak di kepala Gibran karena Allah ingin memberi Gibran sebuah kejutan yang istimewa.


Lihat saja sekarang, beberapa saat setelah cicak itu jatuh di bibir Bayu, pergerakan demi pergerakan dari tubuh Bayu terutama tangan mulai terlihat, berawal dari pelan lama-lama semakin kuat. Gibran bisa melihat itu, dan Gibran benar-benar terharu karena jika ada pergerakan, itu artinya Bayu akan segera sadar.


"Gue nggak salah lihat, kan? Tangan Bayu bergerak." Gibran tersenyum.


Gibran turun dari sofa, dia melangkahkan kakinya mendekat kepada Bayu. Mata Gibran tidak lepas dari tangan Bayu yang bergerak, seulas senyum tipis tersemat di bibirnya. "Apakah ini tanda karena kamu mau bangun dan membuka mata kamu untuk melihat matahari terbit, Bay?" tanya Gibran dengan suara lembut dan lirih.


"Gue senang kalau Lo mau bangun, Bay." Gibran meneteskan air mata harunya.


"Lo harus tahu, Bay. Gue merasa bersalah sama Lo karena gue penyebab Lo bisa ada di rumah sakit ini." Gibran mengusap air matanya yang mengalir di pipi.


"Gue anak durhaka, gue nggak mendengarkan nasihat bunda gue. Sekarang gue sadar kalau perbuatan gue salah, Bay." Gibran terus bicara tanpa berhenti.


"Gue janji, Bay. Kalau Lo bangun dari tidur Lo, gue nggak akan buat Lo kerepotan karena permintaan gue." Gibran menatap Bayu dengan sendu dan serius.


"Gue pernah di hukum dengan mati satu kali. Gue udah dibungkus jadi permen, bahkan gue udah sampai dimasukan ke dalam liang lahat." Air mata Gibran menetes saat teringat kembali dengan apa yang terjadi dengan dirinya.

__ADS_1


"Lo tahu? Waktu itu gue merasa sangat takut, gue berteriak-teriak meminta tolong kepada orang-orang yang ada di sekitar gue tapi mereka seakan tuli. Gue bisa lihat apa yang mereka lakukan, tapi gue nggak bisa berinteraksi dengan mereka." Gibran terus bercerita.


"Dan hal paling menyakitkan dalam hidup gue adalah, saat gue melihat dengan mata kaki gue sendiri, ralat mata kepala gue sendiri kalau bunda menangisi gue, tapi gue nggak bisa meluk bunda dan memenangkan dia."


"Gue berada tepat di depannya, melambaikan tangan di depan matanya, mengusap pipinya, tapi bunda nggak lihat gue, bunda nggak merasakan sentuhan tangan gue."


Gibran semakin mendekat ke arah Bayu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Bayu bangun secara tiba-tiba dengan posisi duduk. matanya terbuka lebar dan langsung menatap ke arah Gibran. Jantung Gibran seperti dipasangi bom yang siap meledak saat melihat tatapan Bayu yang sangat berbeda dari biasanya, tatapan itu sangat menyeramkan.


"Aaa ... Setan." Gibran berteriak ketakutan, dia berbalik badan dan segera lari seribu langkah agar Bayu tidak menangkap dirinya. Gibran sangat takut karena melihat penampakan Bayu yang benar-benar menyeramkan, bola matanya merah menyala, tatapannya kosong namun tajam, wajahnya yang pucat semakin menambah kesan seram karena warna matanya.


Bruk ... prang ... gubrak ... bunyi benda-benda yang Gibran tabrak sampai jatuh dan hancur di lantai. Gibran tidak peduli kakinya yang merasa sakit akibat benturan dengan semua barang-barang itu, yang ada di otak Gibran hanyalah pergi dari ruangan ini secepat yang dia bisa.


Gibran memutar kenop pintu tapi pintu tidak mau terbuka. Pintu itu seakan malah terkunci dari luar, padahal terlihat jelas kalau pintu itu tidak dikunci.


"Jangan mendekat, gue mohon jangan ke sini!" teriak Gibran semakin panik, jantungnya semakin berpacu dengan cepat, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Tangan Gibran terus berusaha membuka pintu, dia berteriak keras meminta bantuan kepada orang-orang yang berada di luar kamar inap Bayu.


"Lontong sate, bukain pintunya lontong!" Teriakan Gibran rasanya percuma, orang-orang yang berada di luar seolah-olah tidak bisa mendengar suaranya.


"Lontongin gue, buka pintunya!" Gibran terduduk di lantai, tangannya sekarang menggedor pintu dengan keras sampai suara itu terdengar saat gaduh.


Tidak ada harapan, pintu tidak ada yang membuka. Sekarang Gibran hanya bisa pasrah. Gibran berbalik badan dan dua sudah mendapati Bayu berjongkok tepat di hadapannya.


Bayu menyeringai, matanya yang merah menyala menatap Gibran dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Bay, Lo mau apa?" tanya Gibran ketika tangan Bayu menjulur ke lehernya.


"Jangan kurang ajar, Lo!" Gibran menepis tangan Bayu sampai terhempas cepat.


Bayu kembali mengarahkan tangannya ke leher Gibran, dengan cepat Gibran menggeser tubuhnya ke samping kiri. "Eits, nggak kena, nggak kena wlek!" Gibran menjulurkan lidahnya mengejek Bayu.


Bayu menatap Gibran dalam-dalam sambil menggeram keras mengerikan. Bayu tidak suka main-main. Tangannya kembali menyerang Gibran.


"Lo harus mati, Lo udah bunuh gue, Lo harus mati!" Tangan Bayu dengan cepat mencekik leher Gibran dan menarik Gibran agar beridiri. Tangan Gibran berusaha melepaskan tangan Bayu dari lebarnya tapi percuma saja.


Gibran terbatuk-batuk mulai kesulitan bernapas, mata Gibran menatap Bayu dengan tatapan yang sendu yang penuh dengan perasaan bersalah. Di detik-detik terakhirnya, kaki Gibran berhasil menendang Bayu sampai Bayu jatuh ke lantai, karena tendangan Gibran sangat kuat, Bayu jatuh dengan benturan keras di kepalanya.


Tubuh Bayu menggelepar hebat di lantai saat darah mulai mengalir dari kepalanya yang pecah. Bayu memekik kesakitan dengan suara keras yang memilukan.


"Gue nggak bunuh Bayu, Bayu mati karena ulahnya sendiri. Gue nggak bunuh dia." Gibran menggigit jarinya kuat-kuat sambil menggelengkan kepalanya.


Gibran melangkahkan kakinya yang gemetar mendekat pada mayat Bayu. Gibran berjongkok di samping mayat Bayu dan mengguncang tubuh Bayu. "Bayu, bangun Bay! Bangun! Bayuuu ...." teriakan Gibran sangat menyayat dan memilukan.


Gibran merasakan ada sebuah tangan menepuk bahunya. Gibran menoleh ke arah empunya tangan. Lalu ...


***


Lalu ... lanjut besok ya 🤪

__ADS_1


__ADS_2