
"Kenapa Gilang tidak kuliah di sini saja?" tanya Gio sangat penasaran.
"Karena dia ingin berpisah dengan kamu dan Gavin." Ranti mengatakannya dengan sangat sedih, Ranti jelas sangat tahu jika hubungan mereka tidak baik.
Gio terkesiap, Gio tidak pernah berpikir kalau Gilang akan menghindarinya dengan cara seperti itu.
"Kenapa harus menghindar? Gilang bodoh, kalau dia mau bergabung kenapa dia malah selalu menjauh?"
"Kamu dan Gavin yang lebih tahu itu, Gio. Sejak kecil yang selalu bersama dengan kamu hanya Gavin, sedangkan Gilang tidak pernah dekat dengan kamu." Ranti menatap Gio dengan tegas.
"Bunda harap kamu tidak pilih kasih dengan keponakan kamu, mereka hanya berbeda umur beberapa bulan dengan kamu. Tidak seharusnya kamu hanya menyayangi salah satu dari mereka. Kamu harus memikirkan perasaan Gilang juga yang setiap hari kamu acuhkan, Gilang pasti sedih." Ranti yang sudah ingin mengatakan ini cukup lama, tetapi selama ini ia hanya memendam akhirnya sekarang mengucapkannya juga.
"Kenapa Bunda jadi bela Gilang?" Gio merasa sangat kesal.
"Bunda gak bela dia, bunda bela kalian semua," tutur Ranti tegas.
"Bunda selalu mengatakan tentang Gio dan membuat seolah-olah aku sama Gavin yang salah. Bunda cuma sayang sama Gilang, Gio kecewa sama Bunda." Gio keluar dari kamar menuju balkon dan meninggalkan Ranti dan Satya yang bersedih melihat Gio seperti itu.
"Maaf, kalau selama ini bunda belum bisa jadi bunda yang baik buat kamu. Asal kamu tahu, Gio. Bunda rela menukar nyawa bunda demi kamu." Ranti meneteskan air mata menerima sikap Gio yang kecewa padanya.
Ranti dan Satya meninggalkan kamar Gio karena tidak ingin menambah kekecewaan agar putra mereka menenangkan diri.
"Kenapa selalu, Gilang? Kenapa Gilang gak mati aja?" teriak Gio sambil menarik rambutnya frustrasi.
***
Jasmine sudah keluar dari kamar Gilang, Jasmine sekarang pergi ke kamar Gavin untuk melihat putranya.
Jasmine melihat kamar Gavin tidak dikunci sehingga ia langsung masuk. Jasmine melihat Gavin sedang mencoret-coret sesuatu menggunakan spidol merah.
"Kamu sedang apa?" tanya Jasmine sambil memeluk leher Gavin dari belakang.
"Gak ngapa-ngapain, Ma," jawab Gavin sambil mengelus tangan Jasmine.
Jasmine tersenyum tipis dan sedih melihat Gavin mencoret-coret foto Gilang. Jasmine tidak tahu kenapa Gavin melakukannya.
"Foto Gilang kenapa dicoret-coret, Sayang?" tanya Jasmine dengan lembut, Jasmine tidak ingin bertanya dengan emosi karena hasilnya pasti akan buruk.
"Gavin gak suka sama dia, Ma." Gavin menjawab jujur, ia memang selalu bersikap terbuka dengan Jasmine.
"Kenapa gak suka sama dia?"
"Dia gak asik, gak gaul, gak suka berteman sama orang, pelit, sok pintar, sok baik, sok polos, sok bijak, dan banyak lagi." Jasmine menopang dagunya pada kepala Gavin dan mendekap putranya dengan erat.
"Kamu kalau gak suka sama sikap Gilang kasih tahu sama dia, dong! Kasih tahu Gilang supaya dia mau berubah." Jasmine tahu semua yang dikatakan Gavin tidak benar, tetapi Jasmine tidak mau memarahi Gavin karena putranya itu masih kecil dan emosinya labil.
__ADS_1
"Gak mau, Ma." Gavin menolak dengan cepat.
"Kamu tahu gak kalau kakak kamu itu sayang banget sama kamu?" Jasmine mencium puncak kepala Gavin dengan lembut.
"Gak," jawab Gavin enteng.
"Kamu sayang gak sama kakak kamu?"
"Gak sayang sama dia."
"Kalau kakak kamu pergi kamu bakal merasa kehilangan gak?"
"Gak akan, Gavin malah senang. Kalau perlu dia pergi jauh dari kehidupan Gavin dan gak usah ketemu sama Gavin lagi." Gavin berkata dengan antusias.
Rasanya Jasmine ingin menangis mendengar perkataan yang baru saja dikatakan Gavin. Dulu waktu mereka masih dalam kandungan Jasmine sudah sering menasihati mereka agar akur dan tumbuh bersama dengan saling menyayangi.
Sekarang semua itu malah berbanding terbalik dengan harapan dan doa Jasmine. Jasmine tidak tahu harus bagaimana membuat Gavin bisa akrab dengan Gilang.
"Mama sedih lihat kalian begini, Vin. Kenapa kamu benci sama kakak kamu? Gilang salah apa sama kamu sampai kamu bisa bicara seperti itu dengan mudah tanpa merasa bersalah sama sekali." Jasmine meneteskan air matanya, ibu mana yang tidak merasa sedih melihat anak yang berasal dari kandungan yang sama, yang dibesarkan dengan kasih sayang sama, sifatnya bisa jauh bertolak belakang seperti ini.
"Jangan nangis, Ma. Nanti Gavin minta maaf sama Gilang, janji," ucap Gavin agar Jasmine berhenti menangis.
"Beneran mau minta maaf sama Gilang?" Jasmine mengusap air matanya sendiri.
"Iya, Ma."
Maaf, Ma. Gavin tidak akan minta maaf sama dia, batin Gavin yakin.
***
Malam telah tiba, di meja makan semua orang sudah berkumpul dan sedang makan malam.
"Selamat malam semuanya," sapa Gilang dengan senyum manisnya.
"Malam juga, Sayang," balas Ranti, Satya, Jasmine dan Gibran.
"Hm," jawab Gio seperti biasanya.
"Om lagi sariawan?" celetuk Gavin.
"Panas nih di sini," ucap Gio penuh makna tersirat.
"AC-nya nyala kok, Sayang," ucap Ranti.
Gio yang masih kecewa dengan Ranti memilih diam dan tidak mau menanggapi apa pun yang Ranti ucapkan di di sana.
__ADS_1
Gavin mengatakan pada Jasmine kalau dirinya sudah meminta maaf padahal nyatanya tidak.
Gilang hanya diam sambil menikmati makan malamnya dengan tenang.
"Gi, kamu serius mau kuliah di luar negeri?" tanya Gibran memastikan.
"Serius, Pa," jawab Gilang jujur.
"Apa alasan kamu kuliah di luar negeri?"
"Cita-cita dari kecil," jawab Gilang.
"Bagus, kamu memang pintar. Kamu pasti bisa menjadi orang yang sukses nantinya." Satya menanggapi.
"Dulu Gio kakek suruh kuliah di luar negeri gak mau," kata Satya lagi.
"Gio mau kok, Yah. Tapi S2 nanti," sahut Gio.
"Haha, iya. Papa bangga banget sama Gilang karena jadi anak penurut dan pintar," ucap Satya sambil tertawa.
"Biasa saja, Kek. Om Gio jauh lebih pintar dari aku," ucap Gilang pelan.
Gio muak dengan Gilang, Gio meletakkan garpu dan sendok ke meja dengan kasar.
"Kamu kenapa?" tanya Gibran ketika melihat Gio yang melakukannya.
"Munafik banget sih jadi orang," ucap Gio sambil melirik Gilang.
"Maksud Om apa?" tanya Gilang yang dilirik Gio dengan lirikan tajam.
"Pikir aja sendiri kalau punya otak," bentak Gio sambil menunjuk dahi Gilang.
"Gio, jangan seperti itu sama Gilang!" ucap Ranti.
Gio semakin dibuat kesal dengan Ranti dan Gilang. Gio langsung meninggalkan meja makan tanpa mengucapakan satu patah kata pun.
"Lo itu selalu bikin ulah," ucap Gavin tiba-tiba.
"Gavin, gak boleh bicara begitu!" ucap Gibran dengan nada sedikit tinggi.
"Lo senang, 'kan lihat gue sama om diabaikan? Dasar munafik!" Gavin juga meninggalkan meja makan setelah mengatakan itu pada Gilang.
***
Sekarang memang dibikin seperti ini dulu biar nanti konflik utamanya dapat fell-nya.
__ADS_1
Besok bab sedih dari Gilang.