Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Ikhlas


__ADS_3

Gilang menebak pasti ada sesuatu yang Gibran sembunyikan darinya. Entah mengapa, perasaan Gilang tidak nyaman seperti sesuatu yang besar dan membuat dirinya susah akan kembali ia rasakan seperti sebelumnya.


"Kenapa tidak ke sini dengan mama?" Gilang ikut duduk di sebelah Gibran sambil menatap adiknya yang terlihat begitu manja dengan Gibran.


"Sepertinya mereka sedang bertengkar, Ko. Lihat mata papa yang sembab ini. Dugaan aku tidak salak, 'kan?" Gibran tersenyum, putrinya ternyata memang cerdas.


Gibran menarik napas panjang kemudian merangkul bahu Gilang dengan sayang.


"Ada hal yang harus papa katakan pada kamu." Gilang menatap Gibran dengan raut wajah yang sudah sangat penasaran. Namun, ketika Gilang hendak bertanya hal apa itu, suara Ridwan terdengar.


"Eh, pada ngumpul di sini? Udah selesai masaknya?" tanya Ridwan sambil menggendong bocah laki-laki berusia dua tahun yang sedang lucu-lucunya.


"Belum selesai, Paman. Ko, ayo ke dapur lagi!" Gia manarik tangan Gilang.


"Dada, Dino. Nanti main sama aku, ya!" Gia mencium pipi gembul bocah kecil yang digendong Ridwan kemudian langsung pergi kembali ke dapur.


Gilang menyempatkan diri untuk mencubit hidung sepupunya ketika melewati Ridwan. Bocah kecil itu bergerak-gerak sambil memanggil Gilang dan Gia karena ingin ikut dengan mereka.


***


Gio dan Gavin sedang berdebat dan saling berebut peralatan dapur untuk memasak. Dua orang itu benar-benar sangat menyebalkan karena membuat dapur semakin berantakan.


"Minggir dong, Om. Aku mau goreng pangsit dulu." Gavin mendorong Gio menggunakan pantatnya.


"Pangsit ini mau dimasak kuah bukan digoreng. Kalau kamu mau bikin, bikin saja sendiri!" Gio menjewer Gavin kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Kan aku sama Gia yang bikin," ucap Gavin kesal. Ia meloncat dan bergelayut di tubuh Gio seperti digendong di punggung.


Gio mendur beberapa langkah saat keseimbangan tubuhnya hampir hilang karena perbuatan keponakannya itu. Setelah keseimbangannya kembali, Gio melangkah maju ke tempat semula.


"Tapi, kalian buatnya gak sampai selesai." Gio membiarkan Gavin di punggungnya. Gio kembali melanjutkan masaknya dan tidak peduli dengan Gavin yang terus menganggu dirinya dengan bermacam cara.


"Kalian itu kenapa?" Gia bertolak pinggang melihat kelakuan dua orang laki-laki di dapur itu.

__ADS_1


"Masak pangsit kuah goreng," jawab Gavin sambil menjulurkan lidahnya pada Gia.


"Aneh banget sih," ucap Gia yang sedikit bingung dengan jawaban Gavin.


"Hus-hus! Pergi sana jangan ganggu!" Gio mengusir Gia.


"Pergi yuk, Ko! Gia pengen sate ayam sama bubur kacang hijau dengan ketan hitam di ujung gang perumahan ini." Gilang mengangguk, ia bersama Gia mengambil kunci motor milik Ridwan dan pergi meninggalkan Gavin dan Gio yang masih terus berdebat di dapur.


***


Di ruang tamu.


Gibran menganggu Doni dan membiarkan keponakannya itu bermain kunci mobil miliknya.


"Kenapa Jasmine gak diajak ke sini?" tanya Ridwan penasaran. Biasanya kalau Gibran berkunjung Jasmine selalu ikut, maka dari itu Ridwan sedikit penasaran kenapa Gibran datang ke rumah ini hanya sendirian.


"Lagi sibuk mikirin anak-anak. Gak tahu sehat aku sama pikiran perempuan." Gibran memang terbuka, ia tidak akan segan menceritakan masalah rumah tangganya pada keluarga dekat karena mereka pasti akan memberi solusi terbaik padanya.


"Masalah apa?" Ridwan penasaran.


"Dia tahu gak kalau Gilang cinta sama Syala?" tanya Ridwan seraya menanggapi ocehan putranya yang berada di pangkuan Gibran.


"Dia tahu. Tapi, dia bilang kalau usia Gilang gak akan lama lagi jadi yang dijodohkan Gavin saja."


Ridwan tersenyum kecut, ia memijit pelipisnya karena merasa ikut merasa kesal dengan Jasmine.


"Dulu dia tidak mau dijodohkan dan memilih untuk pergi, sekarang dia malah melakukan kebodohan yang sama seperti ibu dan ayah." Ridwan tidak habis pikir dengan tindakan bodoh yang dilakukan Jasmine.


"Maka dari itu aku kesal." Gibran menyandarkan punggung di sofa.


"Nanti biar aku yang bicara sama dia. Aku tidak akan membiarkan Jasmine menghalangi kebahagiaan Gilang. Tapi, aku tetap butuh bantuanmu." Inilah yang Gibran suka dari Ridwan.


Kakak iparnya itu sungguh pengertian dan bisa diandalkan ketika berbagai masalah serius tentang keluarga mereka.

__ADS_1


***


Satu keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan. Gilang dan Gia terlihat sangat bahagia dengan makanan yang dibeli, mereka bahkan tidak peduli dengan Gavin dan Gio yang menjadi kesal karena harus membersihkan dapur berdua.


"Anak kecil makan ayam, ya!" Gia memberikan sate pada Dino dan diterima dengan senang hati oleh anak itu.


Mereka sarapan dengan lahap, Gavin dan Gio juga terlihat menikmati pangsit kuah goreng atau goreng kuah buatan mereka.


Setelah selesai sarapan dan membersihkan meja makan. Gibran mengajak Gilang bicara berdua di taman belakang.


"Mau bicara apa, Pa?" Gilang yakin jika ini ada sangkut pautnya dengan alasan Gibran yang tiba-tiba datang ke sini.


"Hubungan sama Syala serius gak, Kak?" Gilang mengerutkan dahi ketika Gibran menanyakan hal yang tidak pernah ia campuri sebelumnya.


"Papa tahu dari mana kalau aku punya hubungan dekat dengan Syala?" Gilang penasaran, pasalnya yang tahu tentang Syala hanya dirinya dan Gia saja.


"Kamu tidak lupa kan papamu ini siapa? Papa bisa dengan mudah tahu aktivitas semua keluarga papa tanpa harus langsung melihatnya." Gilang mengangguk paham, memang sangat mudah untuk papanya itu mencari informasi.


"Jadi, Gilang masih perlu jawab?"


"Tentu saja," ucap Gibran mendesak.


"Hubunganku dengannya hanya sebatas sahabat dekat dengan rasa yang lebih. Kita tidak pacaran tapi punya komitmen kalau kita akan bersama dan menjaga hati satu sama lain." Mendengar jawaban Gilang, raut wajah Gibran langsung berubah murung.


"Mama menjodohkan Syala dengan Gavin, Kak." Gibran kadang memang sering memanggil Gilang dengan 'kakak' karena Gilang anak paling besar dan memiliki dua adik.


Gilang secara reflek langsung menatap Gibran dengan wajah yang terkejut. Namun, beberapa detik setelah itu, Gilang langsung menundukkan kepala karena tidak tahu harus mengatakan apa.


"Tapi, kamu tenang saja. Papa akan tidak setuju dengan rencana mamamu." Gibran merangkul bahu Gilang dan mengusapnya lembut.


Jujur, Gilang merasa sangat sakit mendengar kabar buruk ini. Apa salahnya hingga semua kebahagiaan yang ia punya harus direnggut secara paksa? Tidakkah Allah mengizinkan dirinya bahagia untuk satu kali saja?


"Kalau dengan perjodohan itu bisa membuat mama bahagia. Maka biarkan saja, Pa. Sepertinya Gilang harus ikhlas." Air mata Gilang menetes setalah mengatakan itu. Gibran langsung merengkuh tubuh Gilang dalam pelukannya.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2