
Gia menatap Han sendu dan langsung menghambur memeluk erat laki-laki itu. Dibenamkan wajahnya pada dada bidang itu dan menangis tersedu di sana. Tangan Han perlahan mendekap tubuh mungil kekasihnya dan mencium puncak kepada penuh kasih.
Han tahu kalau kekasihnya sangat sedih karena setiap bertemu pasti akan merasa rindu dengan kakaknya. Konyol memang karena dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan Gilang yang telah tiada. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Gia melihat sosok Gilang pada dirinya.
Karena pintu sudah dikunci dan mereka tidak bisa keluar. Han tersenyum licik dan berniat akan mengerjai kekasihnya, tenang saja dia tidak akan berbuat yang iya-iya karena masih tahu batas. Han kini membalikkan tubuh Gia dan memeluknya dari belakang, menjadikan bahu gadis itu sebagai penopang dagunya.
Nyaman!
Pelukan Han adalah pelukan ternyaman setelah kakek, papa, koko, abang, dan omnya. Sifatnya kadang sangat mirip dengan Gilang dalam mode usil. Bersama dengan Han dalam waktu yang lama bisa sedikit mengobati rasa rindu Gia pada Gilang.
"Sekarang hanya tinggal kita berdua, Sayang. Apa kamu mau mencoba perintah Mama tadi?" Han berbisik pelan.
"Gia lagi gak mau bercanda, Bang. Aku lagi gak mood." Gia melepaskan tangan Han yang melingkar di perutnya dengan lembut.
Han mengerutkan dahi saat mendengar nada bicara sang kekasih sangat berbeda dari biasanya. Dia yakin ada yang sedang disembunyikan gadis itu, dia memilih langsung duduk di tepi ranjang dan mengerlingkan salah satu mata dengan harapan bisa membuat kekasihnya kesal.
__ADS_1
"Mata Abang kelilipan gajah?" sinis Gia yang muak dengan godaan Han.
"Kamu pikir mata abang lapangan sepak bola?" Han membasahi bibirnya yang seksi.
"Sepak kepala mungkin," jawab Gia tidak acuh.
"Jahat amat." Han sekarang duduk dengan pose yang sangat seksi, memperlihatkan otot perutnya yang lumayan membentuk sixpack dan menggoda kekasihnya.
Gia bergidik melihat tingkah Han yang seperti ulat keket. Gia ingat kalau Han memiliki kunci cadangan yang biasanya di letakkan di laci.
"Aku mau pulang. Satu minggu ini kita gak usah bertemu dulu." Gia mencubit perut Han dan mencium pipinya sekilas. Dia berjalan cepat ke pintu dan membukanya lalu kabur.
.
.
__ADS_1
"Adik kamu ke mana?" tanya Jasmine yang sejak pagi tidak melihat putrinya di rumah. Sudah dia cari keliling, tetapi tidak ada dan itu membuatnya khawatir.
"Kandang kelinci, Ma." Gavin tersenyum tipis dan pandangannya tidak lepas dari benda pipih di meja. Dia hanya meringis saat pukulan kecil mendarat di lengan kanannya.
Jasmine selalu dibuat pusing dengan anak-anaknya yang tidak pernah bisa serius saat dia sedang serius. Dia tahu kalau keceriaan dan candaan anak-anak hanya untuk menutup rasa sedih yang mereka rasakan. Namun, akan lebih baik jika mereka bersikap apa adanya.
Jasmine melingkarkan tangan kanannya di depan dada Gavin dan menempelkan dagu di puncak kepala putra keduanya.
"Sekarang hanya kamu yang bisa mengawasi Gia. Tolong jaga dia dengan baik seperti Gilang dulu!" ucapnya penuh harap.
"Tentu saja, Ma." Gavin mengusap lembut tangan mamanya. Dia bisa merasakan dengan sangat kuat kalau masih ada rasa tidak ikhlas dari dalam diri mamanya atas kepergian Gilang.
.
.
__ADS_1