Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Lamaran


__ADS_3

"Selamat sore semua, aku pulang." Gia yang sudah sampai di rumah melangkah dengan sangat semangat menuju ruang tengah di mana semua anggota keluarga sedang bersantai. Dia sengaja menampakkan wajah ceria yang selalu berhasil menutupi perasaan hatinya yang justru berbeda 360 derajat. Dia hanya tidak mau memperlihatkan kesedihannya di depan keluarga yang lain.


Mendengar suara gadis yang dicemaskan, Jasmine menoleh dan beranjak berdiri menghampiri putri manisnya."Sore juga, kamu dari mana saja, hem?" Raut wajah khawatir terlihat begitu jelas di wajah wanita cantik yang berstatus sebagai mamanya.


Hal itu juga dilakukan oleh Gavin, dia menghampiri sang adik dan menyentil dahinya cukup keras. Gia melotot dengan bibir bergerak pelan, dia menggerutu memaki Gavin. "Lain kali kalau mau pergi izin dong, De!" ucap Gavin yang juga merasa khawatir.


"Lah, tadi kan aku udah minta izin," jawab Gia jujur. Sebelum pergi memang dirinya sudah meminta izin dulu kepada Gavin yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Kapan?" tanya Gavin yang lupa.


"Tadi pagi, Abang masih muda masa udah pikun?" Gia tersenyum sinis meledek abangnya.


Gavin bergeming, dia tampak sedang mengingat-ingat dan tersenyum malu ketika sudah mengingatnya. "Hehe, abang lupa." Gavin mencubit pipi adiknya gemas dan mencium pipinya sekilas.


"Kamu belum jawab pertanyaan mama," ucap Jasmine yang jadi merasa diabaikan.

__ADS_1


"Gara-gara si Abang. Aku tadi pergi ke makam, Koko." Nah kan, Jasmine langsung memasang wajah sedih ketika membahas putranya yang sudah pergi. Inilah yang Gia tidak suka, dia menghapus air mata mamanya yang tiba-tiba saja mengalir.


Gia jelas tahu bagaimana perasaan mamanya sekarang. Dia pun juga sama masih belum bisa melupakan semua itu, tetapi dia sama sekali tidak mau melihat air mata mamanya keluar untuk meratapi kepergian kokonya.


"Jelek banget sumpah. Eh iya, tadi habis dari makam aku pergi ke rumah Bang Han karena Mama Naira kangen." Gia mencium mata dan pipinya Jasmine agar wanita itu tidak khawatir dan bersedih.


"Kok gak ngajak mama kalau mau ke makam kakak kamu?" tanyanya lemah.


"Mama tadi sibuk."


"Sayang, kamu jangan terlalu sering main ke rumah laki-laki yang bukan siapa-siapa kamu, ya!" timpal Gibran yang sejak tadi hanya menjadi pendengar baik.


"Maaf, Pa. Tadi Gia dilamar." Gia tersenyum manis. Semua orang di sana membulatkan mata dan melebarkan kelopaknya mendengar penuturan gadis muda itu.


.

__ADS_1


.


Semua anggota keluarga besar Gia dibuat bingung dan penasaran saat secara tiba-tiba mereka diminta untuk datang ke mansion Gibran dan sekarang berkumpul di ruang keluarga. Yang mengundang mereka salah Gia, sehingga mereka saling berbisik dan menebak-nebak kira-kira apa tujuan gadis muda itu mengumpulkan mereka semua.


Sekarang, tatapan mata mereka tertuju pada Gia saat gadis muda itu tiba-tiba tertawa sambil berbicara.


"Jangan bicara bisik-bisik, aku masih bisa dengar, lho! Kenapa wajah kalian tegang sekali sih?" Gia tertawa kecil. Dia merasa sangat terhibur dengan wajah-wajah penasaran keluarganya.


"Kamu mengundang kami ke sini mau ngapain?" tanya Ridwan pada keponakan tersayangnya.


"Mau ngasih tahu, kalau minggu depan akan ada acara lamaran aku." Bicara dengan nada sangat tenang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2