Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 72


__ADS_3

"Ini tempat umum, jadi saya tidak punya alasan khusus yang harus saya laporkan pada, Anda." Bicara dengan nada lembut, santai, tapi menusuk.


"Terserah!" Gibran bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan dr. Adit yang tersenyum simpul menatap kepergiannya.


"Jasmine itu bahagia atau menderita bersama dengan dia?" Dokter Adit pun juga memutuskan untuk pergi dari musala.


Gibran kembali ke ruangan Jasmine. Awalnya ia ragu karena ia malas menatap tubuh istrinya yang hanya bisa berbaring. Ia malas bukan karena ia tidak suka, tapi ia malas karena ia takut jika tidak bisa menahan air matanya sendiri nanti.


Gibran membuka pintu perlahan, setelah pintu terbuka, ia masuk dengan langkah yang hati-hati seakan tidak mau jika Jasmine terganggu.


Ternyata, hatinya lebih kuat. Gibran duduk di samping istrinya. Ia menggenggam erat tangan Jasmine dan menciumnya berkali-kali, air matanya menetes membasahi punggung tangan Jasmine yang pucat, lemas, dan terasa sangat dingin.


"Sayang, aku sudah berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Tapi, air mata ini mengalir begitu saja. Aku harus apa?" Gibran tidak berniat untuk menghapus air matanya, ia membiarkan saja air matanya keluar jika memang tidak bisa lagi ia tahan.

__ADS_1


"Besok aku akan bekerja, tapi aku bekerja di sini saja. Aku mau menemani kamu." Gibran mencium dahi Jasmine cukup lama, ia rindu dengan istrinya yang berisik dan yang selalu ceria.


"Aku mau tidur, bangunkan aku seperti biasanya, ya! Aku mencintaimu dan aku sangat menyayangimu, kau harus ingat itu!" Gibran menelungkupkan wajahnya di ranjang rumah sakit dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan istrinya.


Ia menguap beberapa kali sebelum akhirnya tertidur dengan sangat nyenyak dan tidak merasakan apa-apa lagi.


...***l...


Di rumah Airin.


"Enggak, Lo ngusir gue, ya?" Bayu menjawab dingin dan tidak melihat Airin, yang Bayu lihat saat ini adalah luasnya langit malam yang bertabur banyak bintang.


"Gue tanya doang, ini kan rumah gue. Jadi, gue mau tanya apa pun sama Lo itu terserah gue." Airin ingin sekali mencekik leher Bayu saat ini juga. Namun, saat ia perhatikan dengan seksama, Bayu ternyata lumayan juga ingat ya lumayan ... lu-ma-yan!

__ADS_1


"Bodo amat." Bayu menatap Airin sekilas lalu ia kembali lagi menatap langit malam.


"Es, es, es." Airin berteriak di telinga Bayu lalu berlari meninggalkan Bayu sendiri di taman.


Bayu hanya menepuk-nepuk telinganya lalu tersenyum simpul melihat siluet bayangan tubuh Airin yang menjauh di bawah sinar lampu taman yang remang-remang.


"Kok dia nggak marah sih?" Airin mengintip Bayu dari balik semak-semak. Ia membiarkan nyamuk menghisap darahnya, namun saat tubuhnya merasa gatal, Airin mulai terusik dan ia pun menggaruk-garuk tangan dan kakinya sampai terasa perih.


Saat matanya kembali mengintip Bayu yang tadi duduk di kursi taman, Airin langsung bingung karena ia tidak melihat Bayu lagi di sana.


Airin keluar dari tempat persembunyiannya dan ia dikagetkan dengan sebuah tepukan pelan di bahunya. Airin merasakan bulu kuduknya merinding dan berdiri, ia tidak berani melihat ke belakang.


"Ini tangan orang apa tangan setan?" tanya Airin gemetar.

__ADS_1


Airin bergidik saat merasakan udara dingin dari belakang tubuhnya. Karena penasaran, ia pun berbalik dan ....


__ADS_2