
"Tante kira teman aku hantu?" Jasmine menepuk dahinya sendiri, ternyata bicara dengan orang yang sudah tua itu sulit juga karena jika mereka salah menangkap maksud kita, mereka akan keluar dari jalur terlalu jauh.
"Lah, tadi kan kamu yang bilang kalau ini rumah masa depan teman kamu." Ranti menatap penuh pertanyaan pada Jasmine, keduanya malah jadi sama-sama bingung dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jasmine bilang kan rumah masa depan, Tan.
Bukan rumah sekarang." Jasmine akhirnya dengan singkat meluruskan salah paham yang dialami Ranti saat ini.
"Memang kamu tadi bilang begitu, ya?" tanya Ranti dengan mimik wajah bingung.
"Iya, Tante," jawab Jasmine singkat.
"Oh, di mana rumah teman kamu yang asli?" Ranti bertanya lagi.
"Satu kilo meter lagi kita sampai kok." Jasmine tersenyum lebar.
__ADS_1
"Oke." Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang, setelah beberapa saat mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah dan besar yang tentunya adalah rumah teman Jasmine yang bernama Airin.
Jasmine turun dari mobil lalu dia bertanya pada Ranti. " Tante, mau mampir dulu?" tanyanya dengan sangat sopan.
"Lain kali saja, deh. Suami sama anak tante pasti sudah mencari-cari tante karena kita pergi tadi tanpa pamit." Ranti menolak untuk mampir, dia sudah membayangkan kemarahan suaminya karena dia tidak pamit saat pergi.
"Beneran ini Tante nggak mau mampir dulu?" Jasmine bertanya untuk memastikan.
"Iya, Sayang." Ranti tersenyum tulus.
"Oke deh, Tan. Kalau begitu, Tante hati-hati ya di jalan, jangan nyasar ke kuburan hehe ...." Jasmine tersenyum kikuk menyadari ucapan bodohnya.
"Iya, Tante. Kalau begitu, Jasmine pamit dulu ya. Assalamu'alaikum." Jasmine segera berbalik badan lalu berlari sambil berteriak keras memanggil nama temannya itu. Ranti hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Jasmine yang tidak jaim di depan calon mertua ... eh, Jasmine kan menolak menikah dengan Gibran.
"Airin, aku pulaaang," teriaknya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Ranti setelah anak itu menghilang di balik pintu rumah. "Ayo, Pak kita pulang!" ajak Ranti pada pak Mamat, mereka pun meninggalkan rumah Riana dengan perasaan tenang.
Airin yang kebetulan sedang berada di ruang tamu langsung kaget mendengar suara Jasmine yang berteriak memanggil namanya. Jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya menjadi panas dingin.
"Aduh, kenapa anak itu malah pulang sekarang sih. Gawat nih, jangan sampai dia masuk," gumam Airin lirih, tidak ingin sampai terdengar di telinga tamunya. Sudah lelah dia meyakinkan tamunya jika Jasmine tidak tinggal bersama dirinya dan tamunya hampir percaya. Kalau mereka melihat Jasmine, mau ditaruh di mana muka Airin?
"Itu suara Jasmine, kan?" tanya salah satu tamu Airin yang sangat mengenal suara itu.
Aduh, gawat. Kenapa tante bisa dengar suara dia sih. Wah, aku harus bagaimana dong?
"Bukan, kok. Tante. Melati nggak ada di sini jadi nggak mungkin kalau itu suara Melati." Airin mengelak. Namun, sayang Jasmine malah sudah masuk ke dalam rumah. Hal pertama yang Jasmine lihat adalah semua tamu yang ada di rumah Airin
Jasmine dan Airin sama-sama mematung, yang satu bingung karena ketahuan berbohong yang satu mematung karena mengenali tamu-tamu Airin . Jasmine melihat wajah-wajah mereka dengan sendu, Jasmine tidak ingin bertemu mereka, sudah cukup waktu tiga tahun hidup tanpa mereka dan Jasmine merasa bebas karena hidupnya tentang cinta tidak ada yang mengaturnya.
Jasmine bisa melihat dengan jelas jika mereka senang melihat dirinya. Berbeda dengan Jasmine yang tidak suka karena dia yakin tujuan mereka ke sini pasti untuk memintanya kembali pulang dan Jasmine tidak mau itu.
__ADS_1
Saat seorang wanita paruh baya mendekati Jasmine, Jasmine langsung menghindar dan berlari ke kamarnya. Jasmine masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya dari dalam.
Wanita itu mematung saat tahu Jasmine malah pergi menghindar darinya, dia sangat sedih mengetahui Jasmine tidak mau dia peluk.