
Airin langsung mencubit tangan Jasmine dengan kesal karena sangat tidak nyambung dengannya. Jasmine tidak menjerit, ia hanya meringis merasakan sakitnya cubitan sahabatnya itu.
"Assalamu'alaikum, putriku." Sebuh suara yang sangat Jasmine kenal mengalihkan perhatiannya. Jasmine sangat merindukan Akbar karena dari kecil ia memang lebih dekat dengan sang ayah daripada dengan ibunya.
"Waalaikumsalam, Ayah." Jasmine tersenyum, ia merasakan pelukan Airin sudah terlepas dan sekarang aroma tubuh laki-laki yang menjadi sosok pahlawan untuknya itu yang mendominasi karena memeluknya.
Sungguh, dipeluk ayahnya setelah sekian lama membuatnya terharu karena tidak bisa dibohongi jika ia merasa rindu.
Airin langsung menghindar ketika Ridwan berdiri di sampingnya dan hendak merangkul bahunya. Airin adalah perempuan yang tidak terlalu peka dengan perasaan seorang laki-laki. Namun, ia sangat peka jika ada laki-laki yang menyukainya dengan menunjukkan sikap dan sifat mereka.
Gadis itu menatap Ridwan tajam seakan ada sinar laser tersorot dari matanya. Yang ditatap hanya senyum-senyum tidak jelas tanpa perasaan malu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Akbar mengusap kepala anak gadis—ralat, bukan gadis lagi, itu dengan lembut penuh kasih dan sayang.
__ADS_1
"Baik, Ayah," jawab Jasmine dengan memejamkan mata, ia menikmati sentuhan lembut di kepala dan kehangatan pelukan ayahnya.
Ayunda terdiam, ia tidak berani untuk mendekati putrinya. Wanita tua itu penuh memilih menjadi penonton yang diselimuti rasa iri karena putrinya lebih sayang dengan suaminya.
Ayunda melihat wajah putrinya cerah dan tidak terlihat gurat kesedihan di sana. Entah itu perasaanya atau memang dirinya yang tidak peka atau bahkan lupa dengan karakter dan ciri khas putrinya sendiri?
"Semuanya, mari masuk!" Jasmine menggenggam erat tangan ayahnya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Akbar tersenyum ketika putrinya itu tidak jauh berubah dan masih tetap menjadi putrinya yang dulu, hanya saja sekarang Jasmine lebih dewasa dan mulai ... yah, bisa membantah.
Jasmine yang menyadari itu tersenyum canggung. "Maaf jika sedikit berisik, suamiku lagi olahraga jadi sedikit berisik." Jasmine meminta maaf dengan tulus.
"Memangnya olahraga apa sih?" tanya Ridwan karena sangat penasaran.
Jasmine tidak menjawab pertanyaan kakak laki-lakinya itu, ia malah berkata yang lain. "Semuanya silakan duduk! Jasmine tinggal ke atas sebentar, ya." Jasmine tersenyum kemudian melangkah pergi dari ruang tamu ketika keluarganya telah duduk.
__ADS_1
Sebelum pergi memanggil suaminya, Jasmine pergi ke dapur dulu dan meminta pelayan untuk membuatkan minuman dan menghidangkan camilan untuk tamunya. Setelah itu, barulah ia pergi menemui suaminya yang masih berada di dalam kamar mereka.
Jasmine membuka pintu kamar mereka perlahan. Ia tidak langsung masuk tapi melongokkan kepalanya ke dalam kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan mata yang mencari seseorang namun tak kunjung ia temukan.
Jasmine membuka pintu semakin lebar kemudian ia masuk dengan langkah panjangnya. Jasmine melihat ke kolong ranjang, ke laci, almari, melihat ke dalam vas yang bunganya ia ambil namun tidak kunjung melihat Gibran di sana.
Ketika ia berbalik badan, seseorang dengan wajah hitam pekat dan gigi putih berkilau tersenyum ke arahnya. "Ketaaaaaaan!" teriak Jasmine sambil melempar makhluk astral tersebut dengan ... wajah buah surga.
***
Bersambung ...
Maaf jika akhir-akhir ini bannya pendek, mata aku lagi sakit dan tidak bisa bertatapan dengan layar terus menerus.
__ADS_1