Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 80


__ADS_3

"Kamu kenapa teriak kenceng banget? Sakit kepala, eh sakit telinga saya mendengar teriakan kamu." Gibran menatap Airin tajam, sudah tahu dirinya sedang panik malah diganggu oleh suara Airin yang tingginya mengalahkan Sisi di film GGS.


"Tangan saya juga sakit, Tuan." teriak Airin sambil mendorong kaki Gibran yang masih menginjak tangannya, Gibran yang tidak siap dengan ulah Airin langsung oleng dan sekarang malah bukan hanya satu kaki, tapi dua kakinya menginjak jari tangan Airin.


"Astaghfirullah," Airin meringis menahan sakit pada tangannya sampai air mata keluar dan mengalir pelan di pipinya.


"Kamu kenapa?" Gibran mengerutkan dahinya melihat Airin yang malah menangis, Gibran merasa dirinya tidak melakukan apa-apa pada Airin nadin sekarang ia bingung.


"Tangan saya kamu injak!" Gibran langsung menunduk dan melihat ke bawah, ia tersenyum kikuk lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengangkat kakinya dan menjauhkan dari tangan Airin.


"Maaf Airin saya nggak lihat." Gibran meminta maaf dengan tulus.


"Tidak apa-apa, toh mau marah juga sudah terlanjur diinjak." Airin mencebikkan bibirnya kesal.


"Di mana Jasmine sekarang?" tanya Gibran langsung pada intinya.


"Di ruang khusus penyakit dalam." Gibran mengangguk lalu segera pergi ke sana.


"Mau ke mana, Tuan?" tanya Airin sedikit berteriak.


"Surga." Suara Gibran sudah tidak terlalu jelas.

__ADS_1


Satya dan Ranti yang baru saja sampai di depan ruang rawat Jasmine dibuat heran dengan Gibran yang lari dengan cukup cepat.


Mereka langsung saling melempar pandang, mengangkat dua bahunya bersamaan lalu menggelengkan kepala secara bersamaan juga.


"Kenapa dia lari, Bun?" tanya Satya penasaran.


"Mana bunda tahu, eh itu di dalam ada temannya Jasmine, Yah," ucap Ranti saat melihat Airin baru saja berdiri.


"Ayah tanya ke Airin deh, Bun." Satya langsung masuk ke dalam ruangan rawat Jasmine dan langsung menyapa Airin.


"Airin, Gibran tadi kenapa lari?" tanya Satya langsung.


"Oh." Satya menjawab singkat lalu keluar dari ruangan meninggal Airin yang bergeming dengan mulut menganga karena lagi-lagi hanya ditanya lalu ditinggal pergi begitu saja tanpa di ajak.


"Nasib buruk." Airin menyusul Satya dan Ranti setelah ia sadar dari lamunannya.


Gibran, Satya, Ranti, Gio, dan Airin menunggu Jasmine di depan ruangan pemeriksaan.


Tiga jam berlalu, dr. Adit keluar dari ruangan dan mendapati Gibran berada di sana. Dokter Adit menghampiri Gibran lalu memanggil namanya dengan lembut.


"Tuan Gibran." Gibran yang dipanggil langsung mendongakkan kepala dan tersenyum pada dr. Adit.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Gibran serak.


"Kondisinya sempat sangat buruk. Namun, atas bantuan dari Allah, istri kondisi istri Anda malah membaik." Dokter Adit bahkan sampai bersyukur berulang-ulang kepada Allah.


"Apa dia sadar?" Gibran bertanya dengan penuh harapan.


"Ya, dia sadar tapi-"


"Tapi apa, Dok?" tanya Satya dan Ranti bersamaan.


"Dokter Adit, ada pasien baru yang harus segera di tangani!" ucap perawat wanita yang baru saja datang.


"Di mana, Sus?" tanya dr. Adit.


"Di IGD, mari dokter!" Perawat wanita itu mengajak dr. Adit untuk segera pergi. Dokter Adit terpaksa tidak memberitahu pada Gibran dulu karena ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan sekarang. Biarkanlah nanti Gibran bertanya pada dokter yang lain.


"Dokter, kamu belum menjawab pertanyaan saya!" teriak Gibran dengan kesal.


***


Maafkan aku yang nggak bisa up panjang ... waktunya nggak banyak karena tugas di RL banyak.

__ADS_1


__ADS_2