Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 67


__ADS_3

Ranti dan Gibran sudah sampai di rumah, mereka berdua segera turun dari mobil dan dengan langkah yang cepat mereka masuk ke dalam rumah. Tujuan utama Gibran adalah bertemu dengan istrinya, sedangkan Ranti bertemu dengan putranya. Hati Gibran sedikit terusik saat melihat istrinya sedang duduk berdua–ralat, bertiga dengan Bayu dan Gio, apalagi Jasmine tertawa lepas dengan Bayu, membuat hati Gibran rasanya memanas dan terbakar sebuah api yang bernama cemburu.


"Sayang," panggil Gibran dengan geram, kuku jari tangannya menekan kuat pada telapak tangannya hingga seperti menancap di telapak tangannya.


Jasmine dan Bayu yang sedang asik mengobrol langsung menoleh kepadanya. Jasmine tersenyum senang karena suami yang sejak tadi dia tunggu sudah pulang.


"Mas, kamu sudah pulang?" Jasmine berdiri menghampiri suaminya yang saat ini sedang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Sudah tahu masih saja bertanya," ketus Gibran menatap Jasmine tajam, yang ditatap bingung karena tidak tahu apa-apa.


"Kamu ini kenapa?" Hati Jasmine mencelus sakit saat dia tidak lagi mendapatkan tatapan hangat seperti biasanya saat mereka bertemu.


"Menurutmu aku ini kenapa?" Masih dengan tatapan dinginnya, Gibran malah balik bertanya, dia membuat Jasmine menyingkir dari hadapannya dengan cara mendorong menggunakan tangan kirinya.


Tubuh Jasmine terhuyung hampir jatuh kalau saja tidak ada Satya yang menahan tubuhnya. Jasmine menggigit bibir bawahnya karena bibirnya sudah berkedut karena perasaan gelisah yang tiba-tiba menyeruak memenuhi hatinya.


Banyak sekali pertanyaan yang mendera dalam kepala Jasmine melihat sikap suaminya yang seperti orang sedang cem ... ah, apakah suaminya itu cemburu?


"Apa kamu baik-baik saja?" bisik Satya yang masih menopang tubuh Jasmine dengan tangannya.

__ADS_1


Jasmine tersentak kaget saat merasa jarak dengan mertuanya cukup dekat. Jantung Jasmine berdebar kencang membuat darahnya berdesir hangat dan menjalar ke seluruh bagian dalam tubuhnya tanpa ada yang terlewat.


"Aku tidak apa-apa, Yah." Sorot mata Satya penuh makna, Jasmine bisa melihat dengan jelas ada sebuah perasaan ... mungkin, perasaan bersalah karena sorot mata itu sangat sendu dan gelisah.


"Ayah, lepaskan Jasmine!" pinta Ranti, dia merasa sedikit cemburu melihat Satya memeluk pinggang wanita lain walaupun, itu menantunya sendiri.


"Ah ... maaf." Wajah Satya memerah karena telah begitu intim dengan menantunya, memerah bukan karena malu, melainkan memerah karena istrinya melihat dirinya yang memeluk wanita lain.


"Sayang, jangan!" Jasmine berlari dan memeluk tubuh tegak suaminya yang saat ini hampir saja melayangkan sebuah bogem mentah pada wajah Bayu, apa Gibran sudah memindahkan otaknya ke lutut sampai dia tidak berpikir panjang kalau saat ini Gio berada di gendongan Bayu. Bagaimana kalau nanti saat dia memukul Bayu membuat Gio terjatuh?


"Diamlah!" bentak Gibran memekakkan telinga.


Di lain sisi, Ranti dan Satya sedang saling tatap dengan sorot yang dingin seperti orang asing. Ranti melangkah dengan langkah perlahan ke arah suaminya dan dia berhenti tepat di depan suaminya yang jujur, saat ini Ranti merasakan ada hal yang berbeda dari suaminya. "Ada hubungan apa kamu sama menantu kita?" Mata Ranti berkaca-kaca saat Satya memutuskan pandangannya dan memilih untuk menatap menantunya yang sedang memeluk erat putranya.


"Gue salah apa sama, Lo?" Bayu menahan kesal karena sejak Gibran masuk, sorot matanya sudah tidak bersahabat dengannya, bukankah seharusnya dia menyapa dan memeluk dirinya karena sudah beberapa hari tidak bertemu? Tapi, kenapa Gibran malah melemparkan tatapan tidak bersahabat padanya? Bayu benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Gibran saat ini, benar-benar membuat dirinya kesal dan api kemarahannya sudah membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.


"Mas kamu ini kenapa sih?" Gibran melepaskan tautan tangan Jasmine yang mengunci di perutnya dengan pelan. Namun, Jasmine malah semakin mengeratkan pelukannya, Gibran yang sedang dalam mood tidak baik reflek melepas tangan Jasmine dengan kasar dan mendorong tubuh mungil istrinya itu sampai jatuh terjengkang ke belakang. Bahkan, suara benturannya dengan lantai cukup keras.


"Brengsek, Lo. Kenapa Lo deketin istri gue dan berdua-duaan dengannya saat gue nggak ada di rumah? Punya hubungan apa Lo sama istri gue, hah?" Gibran mencengkeram erat kerah kemeja yang dipakai Bayu, hal itu membuat Gio yang sedang tidur langsung terusik karena suara bentakan dari kakaknya.

__ADS_1


Oe ... oe ... tangisan Gio semakin kencang saat telinga kecilnya mendengar suara jeritan dari kakak perempuannya.


"Lo salah paham, gue di sini bertiga bukan cuma berdua seperti yang Lo bilang," jawab Bayu dengan tenang.


"Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh, Ranti." Deg ... ngilu, pilu, dan perih menghujani perasaan dan hati Ranti saat ini. Sumpah demi apa pun, ini kali pertamanya setelah dia menikah dengan Satya 26 tahun yang lalu, baru kali ini Satya memanggil dia dengan namanya, dan yang membuat hatinya semakin sakit adalah, Satya mengatakan itu dengan membentak dirinya.


Arrrggghhht ... suara itu terdengar memilukan dan memenuhi ruang tengah. Jasmine memegang bagian belakang kepalanya yang teramat sakit dan mengeluarkan banyak darah. Pandangan mata Jasmine semakin tidak jelas, kepalanya saat sakit, tubuhnya bergetar hebat, sampai pada akhirnya, semuanya terlihat gelap dan dia tidak sadarkan diri dengan pakaian yang sudah kotor karena noda merah yang berasal dari darah.


Saat Gibran mendorong dirinya tadi, Jasmine jatuh dengan posisi terjengkang dan sangat kuat, kepala bagian belakangnya tepat berbenturan dengan sudut meja yang lumayan lancip sehingga benturan itu mengakibatkan sebuah luka yang cukup parah di kepalanya.


Ranti dengan menangis tersedu-sedu mengambil alih Gio dari gendongan Bayu. Ranti menghujani wajah Gio dengan ciuman sampai wajah bayi mungil itu ikut basah karena air mata darinya.


Gibran bergeming pada tempatnya, nyawanya sekarang seakan tidak berada dalam tempatnya. Bayu mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah karena beberapa detik yang lalu, setelah Gio berada di gendongan bundanya, Gibran memukul wajahnya dengan sekuat tenaga sampai akhirnya Gibran bergeming menatap istrinya yang tidak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.


Satya mengangkat tubuh Jasmine yang sudah sangat lemas itu dengan raut wajah yang sangat panik. Satya bahkan tidak peduli dengan semua tatapan penuh tanya dari keluarganya. Yang terpenting bagi Satya saat ini adalah keselamatan wanita yang berada di gendongannya.


"Bertahanlah Jasmine, ayah belum sanggup kehilangan kamu." Air mata mengalir deras di pipi Satya saat melihat wajah Jasmine yang semakin memucat dan tubuhnya terasa sangat dingin.


***

__ADS_1


Jangan salah paham dulu, Sayang. Besok bakal aku kasih tahu alasan Satya akhir-akhir ini selalu menatap Jasmine dengan sorot yang tidak bisa Jasmine artikan.


Alasan Satya yang tidak sanggup kehilangan Jasmine. Dan alasan itu, bukan karena Satya menyukai Jasmine ya. Jadi, jangan salah paham dulu.


__ADS_2