
"Kamu itu bikin aku khawatir tahu nggak?" Gibran menghujani puncak kepala Jasmine dengan ciuman yang bertubi-tubi.
"Enggak." Jasmine menjawab singkat dan irit kata.
"Aku sudah sembuh, ngapain lama-lama di rumah sakit, nggak enak banget tahu. Aku sebenarnya tidak akan sadar untuk sembilan bulan ke depan, aku mendapat penglihatan baik dan buruk saat aku koma selama ini, aku bisa melihat kalian tapi kalian tidak pernah tahu aku." Jasmine meyakinkan semua orang jika ia sudah baik-baik saja, ia tidak mau membuat orang lain merasakan kesedihan mendalam seperti apa yang ia rasakan saat ini.
Senyuman orang-orang di sekitarnya akan membuat ia kuat dalam menjalani cobaan yang sedang Allah ujikan padanya, jika orang-orang yang ia jadikan kekuatan ikut menangis, bagaimana bisa ia kuat untuk menghadapi semua ujian ini?
"Kamu itu buta, Sayang. Kamu tidak bisa melihat semuanya lagi, kenapa kamu masih bersikap seolah-olah kamu baik-baik saja?" Gibran berkata dengan nada tegas penuh luka, dadanya naik turun karena napasnya yang memburu.
Air bening yang semula menggenang di pelupuk matanya kini tumpah dan terasa hangat mengalir pelan melewati pipi sampai ke ujung dagunya dan ia biarkan menetes begitu saja.
Gibran mengatakannya tanpa sadar. Kata-kata itu, ia langsung terlontar dari mulutnya ketika ia tidak tahan dengan keteguhan hati sangat istri.
__ADS_1
"Mas tidak perlu menekan kata-kata itu! Tanpa kamu beritahu pun aku tahu kalau aku buta." Jasmine meneteskan air matanya yang sejak tadi ia tahan agar tidak keluar. Namun, sekuat apa pun dia menahan rasa sakit yang ia rasakan, nyatanya ia tidak sanggup menahan rasa sakitnya sendiri.
Gibran langsung memukul mulutnya sendiri setelah ia sadar jika tidak seharusnya ia mengatakan perkataan itu.
"Mel, Lo jangan nangis!" Airin yang sejak tadi hanya diam sekarang mulai bicara pada sahabatnya.
"Jasmine, bunda akan mencarikan kamu donor mata. Kamu jangan khawatir!" Ranti melepaskan diri dari pelukan suaminya lalu ia berjalan ke sisi ranjang Jasmine.
"Mel, Lo sekarang nggak bisa melihat lagi. Lo tahu kan kalau orang buta kemungkinan bisa sembuh kalau dapat donor mata?" Airin tidak akan iklas jika Jasmine buta selamanya.
"Aku nggak perlu semua itu, Rin. Aku baik-baik saja, aku masih bisa makan tanpa bantuan, mandi tanpa bantuan, berjalan tanpa bantuan, aku bisa melakukan semuanya sendiri." Jasmine memang belum pernah melakukan apa yang baru saja ia katakan. Namun, dengan percaya diri yang tinggi ia mengatakan hal yang menurut keluarganya akan sangat mustahil jika Jasmine melakukan apa yang ia katakan tanpa bantuan orang lain.
Tangisan Gibran kembali pecah mendengar ucapan istrinya yang membuat hatinya hancur karena istrinya seperti sedang bermimpi. Seperti mencari air di matahari, dan burung di dalam air, yang hasilnya sudah bisa ditebak bahwa hasilnya pasti adalah nihil.
__ADS_1
"Halu boleh, Mel. Tapi ingat keadaan." Kata-kata Airin memang terdengar sangat kejam seperti rawit setan, kecil-kecil karena tidak besar.
"Kalian jangan keras-keras, Gio mau tidur!" Jasmine menciumi pipi gembul adiknya yang terlelap damai dalam gendongannya.
"Sebentar lagi Gio punya teman, lho." Jasmine berbisik sangat lirih pada Gio, bayi laki-laki hasil pertempuran 100 ronde mertuanya itu memang selalu bisa membuat dirinya gemas dan semakin menyayanginya.
...***...
Kalau ada waktu aku up lagi, kalau nggak ada besok ya.
Baca nggak sampai satu menit, tapi nulis berjam-jam, lelah.
See you. Fighting!
__ADS_1