Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Em


__ADS_3

Mata Han membulat mendengar pengakuan Gia yang membuat gadis itu sakit hati sendiri. Akan sangat bahagia jika Gia benar-benar cemburu padanya. Mungkinkah kalau saat ini Gia sudah memiliki perasaan padanya? Atau itu masih rasa patuh karena taruhan mereka?


Han mengacak rambut Gia dengan penuh kasih sayang dan mencium dahinya lama. "Kok bisa kamu berpikir kalau dia selingkuhan aku?" Han tertawa terbahak-bahak karena pemikiran Gia yang menurutnya sangat menggemaskan. Dia mencubit pipi dan hidung gadis itu saking gemasnya.


"Tante kamu masih muda banget sih. Tadi aku pikir kamu habis iya-iya sama dia." Gia menepis tangan Han yang masih mencubit hidungnya. Wajahnya terlihat sangat murung dan bibirnya tidak membentuk sebuah senyuman.


"Selisih satu tahun doang. Kamu cemburu, ya?" Han mencium bibir Gia dengan niat menggoda gadis itu.


"Udah lah, Bang. Gak usah dibahas lagi!" Gia melepaskan pelukannya dan duduk di ranjang Han. "Lain kali kalau tidur pakai baju, ya! Biar aku gak mikir yang iya-iya." Gia menyentuh perut Han yang lumayan seksi.


"Jangan sentuh-sentuh ih!" Han menepis tangan Gia dan gadis itu langsung melotot tidak suka.


Pelit banget sih sama pacar sendiri.


Han terkekeh, dia duduk di sebelah kanan gadis itu dan merangkulnya dengan sangat mesra. Masih ada tanggung jawab besar yang harus dia lakukan untuk memenuhi janjinya kepada Gio atas permintaan Gilang.

__ADS_1


"Nikah yuk, Yang!" ajaknya dengan serius.


"Nikah-nikah, Abang kira nikah itu gampang?" Gia tidak memiliki pikiran untuk menikah muda. Dipikir enak apa nikah kawin, apa Han cuma mikir kawinnya doang? Elah, dasar pemikiran anak muda.


"Gampang lah, yang susah itu mempertahankan." Han mencium kepala Gia lembut.


"Gia gak mau, Bang." Gia menoleh ke samping sebentar.


"Kenapa?" Han mengerutkan dahinya. Dia kira akan sangat mudah mendapatkan gadis itu, ternyata sulit juga.


Han menggelengkan kepalanya karena telah salah paham. Dia bangun dari duduknya dan mendorong Gia sampai telentang di ranjang. Dia menindih Gia dan menahan tangan gadis itu di atas kepala.


"Bang mau apa?" Jantung Gia sudah berdetak sangat kencang. Terlebih tatapan Han yang sangat berbeda dari biasanya itu membuatnya merasa sangat takut.


"Abang udah banyak buat dosa sama kamu, Gi. Pelukan dan ciuman itu dosa, abang ingin kita menikah secepatnya. Kamu mau, 'kan?" Han menempelkan dahinya pada dahi Gia. Ucapannya yang benar-benar serius membuat Gia berpikir dengan sangat berat.

__ADS_1


"Kalau abang serius, mintalah Gia pada Mama dan Papa." Gia tersenyum. Tidak masalah sebenarnya kalau harus menikah muda, toh kalau ada niat dan semangat yang besar. Dia tetap bisa melanjutkan kuliah walau sudah memiliki anak.


Han mengangguk, dia mencium Gia dalam-dalam. Sengaja membuat dosa terakhir sebelum halal.


"Minggu depan abang akan melamar kamu." Dia kembali mencium kekasihnya mesra.


Seorang wanita berdiri di pintu kamar Han dan melihat adegan mesra di depan mata itu hanya bisa melongo. Dia berjalan cepat masuk ke kamar Han dan mengeplak bokong Han yang nungging.


"Nakal ya kamu, berani-beraninya mesumin anak gadis orang siang-siang begini." Cubitan keras mendarat di pahanya.


"A-aduh ... sakit, Ma!" Han mengusap pahanya yang langsung membiru.


.


.

__ADS_1


__ADS_2