Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 22


__ADS_3

Saat mendengar jawaban kiai tersebut, Gibran tidak langsung percaya begitu saja. Dia mengamati tempat sekelilingnya dan betapa terkejutnya dia saat menyadari jika dia berada di pemakaman dan tidak sedikit orang yang berpakaian serba hitam bobok santai di atas tanah kuburan, ada juga yang bobok santai di atas nisan.


"Pak Kyai, saya ada di kuburan dan saya dibuntel jadi lontong." Gibran merasakan tubuhnya menggigil seketika, dia merasa sedikit takut namun juga sangat bingung dengan apa yang dialaminya saat ini.


"Dan orang-orang itu? Kenapa mereka tidur di sini? Apa kasur mereka dicuri musang?" tanya Gibran mulai nyeleneh.


"Kamu kira mereka ayam." Kiai tersebut memahami sikap Gibran yang sableng.


"Bapak kan sudah bilang kalau Nak Gibran sedang main film. Sudah jangan dipikiran lagi, ayo Nak Gibran keluar dari liang lahat!" Kiai tersebut tetap mencoba membuat Gibran tidak merasa bingung.


"Mana kameranya?" tanya Gibran karena tidak ada satu kamera pun di sana.


"Transparan, dan kamu tidak bisa melihatnya," ucap Kiai tersebut sambil tersenyum ramah dan takjub karena keajaiban yang baru saja dia lihat dengan mata kakinya sendiri, eh bukan mata kaki tapi mata kepala.


"Memang ada ya, Pak?" Gibran bertanya dan tangannya ingin menggaruk kepalanya yang tidak gatal tapi tidak bisa karena masih terikat.


"Ada, lebih baik sekarang Nak Gibran keluar dulu." Kiai tersebut mengusap kepala Gibran dengan lembut.


"Bagaimana saya mau keluar kalau tubuh saya diikat seperti ini, Pak? Tidak mungkin kan saya melompat, memang saya pocong apa?" Gibran mencebikkan bibirnya. Untuk bergerak saja susah bagaimana dia malu berjalan.


Kamu kan memang pocong, Nak Gibran. Bapak juga nggak mungkin gendong kamu, wong tubuh bapak sama tubuh kamu saja besaran tubuh kamu. Kiai tersebut hanya berkata di dalam hati karena dia masih tetap membuat Gibran tidak merasa takut.


Gibran terbelalak saat mendengar suara hati Kiai tersebut. Kata kiai itu dia memang pocong, berarti saat ini dia sudah ... ah Gibran menggelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh pikirannya kalau dia telah mati.


"Pak Kiai, saya ini masih hidup tapi kenapa Bapak bilang kalau saya pocong?" Gibran melihat ke sekelilingnya dan tidak ada pocong atau makhluk halus yang dia lihat.


"Lho, kok Nak Gibran bisa tahu kalau saya bilang Nak Gibran ini pocong." Kiai tersebut merasa heran namun dengan cepat dia mengalihkan perhatian Gibran agar tidak bicara tentang pocong lagi.


"Ya tempe lah, Pak. Wong jelas-jelas Bapak yang bilang tadi." Gibran menatap Kiai tersebut dengan datar.


"Nak Gibran, pakai kain kafan itu untuk menutupi senapanmu, bapak hanya akan membuka ikatan bagian atas saja." Kiai tersebut membuka tali yang di tangan Gibran serta satu tali di kakinya.


"Senapan apa, Pak?" tanya Gibran polos, sepolos kain kafan yang dia pakai.


"Senapanmu itu," ucap Kiai sambil menunjuk senapan Gibran dengan jari telunjuknya karena kalau pakai jempol namanya jadi menenjempol bukan menelunjuk.

__ADS_1


"Pak Kiai saru." Gibran berbalik membelakangi Kiai itu.


"Ya habisnya Nak Gibran nggak paham juga." Kiai tersebut keluar dari liang lahat dan disusul oleh Gibran setelahnya.


"Pak, saya dibungkus pakai kain kafan berarti saya sudah mati dong?" tanya Gibran dengan sungguh-sungguh.


"Kamu tadi hanya jadi timun suri sebentar," ucap Kiai tersebut tersenyum tampan walau wajahnya telah keriput.


"Pak Kiai waras kan, Pak? Mana mungkin saya jadi permaisuri wong saya laki-kaki," ucap Gibran membuat Kiai tersebut menepuk dahinya sendiri.


"Pusing? Minum Oskadon, Pak!" perintah Gibran dengan lugunya.


Apa karena sudah meninggal satu kali kamu jadi gesrek, Nak Gibran? Kiai terebut menatap Gibran dengan perasaan iba.


"Bapak ngomong apa?" tanya Gibran karena mendengar suara hati si Kiai dengan samar-samar.


"Tidak ada."


"Pak, kita pulang?" tanya Gibran setelah


"Iya, kita pulang sekarang," ajak kiai tersebut dengan yakin.


"Mereka nggak dibangunkan dulu, Pak?" tanya Gibran menunjuk orang-orang yang pingsan.


"Nanti mereka pasti akan bangun, kamu tidak usah mempedulikan mereka dulu. Yang paling penting saat ini adalah hidup kamu." Kiai tersebut menjelaskan maksudnya.


"Tapi, Pak." Gibran seakan berat meninggalkan orang-orang itu.


"Tidak apa-apa, Nak." Pak Kiai menarik tangan Gibran dan segera mengajaknya pergi dari sana.


***


Saat orang-orang yang pingsan terbangun, mereka segera melihat ke arah liang lahat Gibran yang kosong tanpa lontong di dalamnya.


"Kok serem ya, kita pergi aja yuk dari sini," ajak seorang pada orang yang lain.

__ADS_1


"Iya, ayo pergi." Dengan bulu kuduk yang merinding mereka segera pergi meninggalkan pemakaman dengan perasaan yang campur aduk ada sedih, senang, takut dan aneh.


Ranti dan Satya merupakan salah satu orang yang memilih untuk lari saat melihat mayat Gibran yang bicara dan membuka mata tadi.


"Bun, tadi Bunda lihat kan kalau Gibran ngomong di dalam kuburnya?" tanya Satya yang saat ini sedang bersembunyi di bawah selimut tebal bersama dengan Ranti.


"Iya, Yah. Bunda lihat waktu tadi mata lontong itu terbuka." Ranti memeluk Satya dengan sangat erat, mereka berdua saat ini sedang dilanda ketakutan yang mendalam.


"Ayah jadi pengen sate kalau ingat lontong, Bun." Satya memeluk Ranti tidak kalah erat.


"Jangan, Yah. Nanti kalau pas beli sate ada yang bilang 'Bang beli satenya seratus tusuk, Bang' gitu gimana, Yah?" ucap Ranti membayangkan wanita hantu yang sering dia lihat di film-film horor.


"Bunda nih korban film horor." Satya mencium kening Ranti dengan perasaan bersedih, biasanya di saat-saat seperti ini Gibran selalu ada di tengah-tengah mereka dan membuat keributan kecil dengan mereka.


"Yah, Bunda takut kalau nanti hantu Gibran pulang." Ranti menyembunyikan wajahnya di dada bidang Satya.


"Kalau orang udah meninggal itu nggak akan pernah bisa pulang, Bun. Yang sering memperlihatkan diri itu adalah jin qarin, Bun." Satya mengusap rambut Ranti yang tergerai dan berantakan.


"Hiks ... Yah, Bunda kangen sama Gibran." Ranti menangis terisak saat mengingat Gibran.


"Jangan terlalu dipikirkan, Bun. Anak kita sudah meninggal dan kita bisa buat lagi sekarang." Perkataan Satya membuat Ranti merona namun juga merasa sangat kesal karena di saat dia sedang bersedih karena kematian Gibran, Satya bisa-bisanya masih berpikir mesum kepadanya.


"Ayah jangan mesum, bunda sekarang masih sedih karena kematian Gibran." Ranti melepaskan pelukan suaminya dan bangun dari tempat tidur, dia melupakan rasa takutnya dan keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu.


Mata Ranti membulat penuh seakan bola mata itu hampir keluar dari tempatnya, jantung seakan berhenti berdetak, air matanya seakan kering begitu saja sampai napasnya terasa semakin berat saat melihat sosok Gibran bersama seorang kiai berdiri tepat di depannya.


"T-tidak mungkin dia-" Ranti berbicara tanpa suara, dia menatap Gibran dengan tatapan tidak percaya karena hatinya telah percaya jika putranya sudah tiada.


"Bunda, Gibran kangen." Dengan manjanya Gibran memeluk Ranti dan membuat Ranti seketika tidak sadarkan diri karena dipeluk sosok anaknya yang telah meninggal.


Aduh Nak Gibran, kamu sudah membuat ibumu merasa takut dan tidak sadarkan diri karena melihatmu masih hidup.


***


Ramein kolom komentar dong reader's ku tersayang

__ADS_1


__ADS_2