Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Akhir Kisah Gia


__ADS_3

"Semuanya, Gia keluar dulu." Dia mengembuskan napas panjang, menatap semua orang yang berada di sana dengan perasaan tidak nyaman dan segera mengejar Ridwan.


Dia akan meyakinkan pamannya terlebih dahulu sebelum menanggapi anggota keluarganya yang lain.


Dia akan meyakinkan pamannya jika tidak akan ada hal buruk yang terjadi, hidup dari kecil dengan sang paman membuat dia sangat membutuhkan restu darinya karena telah menganggap Ridwan sebagai orangtua kedua setelah orangtua kandungnya.


Sesampainya di luar rumah, Gia menyapukan pandangannya ke sekeliling dan melihat Ridwan duduk di kursi panjang bawah pohon samping rumah.


Dia menggigit bibir bawahnya karena merasa gugup dan takut untuk bicara baik-baik dengan sang paman. Jujur saja sikap Ridwan padanya lebih keras daripada sikap Gibran, dia menggaruk pipinya dan tersenyum kecut karena malah bingung sendiri.


"Tenang, Gia!"


Dengan jantung berdetak kencang dia berjalan pelan menghampiri Ridwan.


Ridwan yang menyadari kehadiran Gia pura-pura tidak tahu dan memilih mengalihkan pandangan ke arah lain.


Gia duduk di samping Ridwan dan memeluk lengan kirinya lalu menyandarkan kepala di bahu laki-laki itu. "Paman marah?" tanyanya basa-basi.


Ini anak pasti mau membujukku. Hm, aku akan lihat sampai sejauh mana usahanya.


Ridwan diam, dia tidak akan bicara dengan Gia untuk sekarang.


"Aku sayang banget sama, Paman." Gia mendongak dan mencium pipi kiri Ridwan sebentar agar laki-laki itu luluh. Namun, sepertinya usahanya sia-sia karena Ridwan masih betah mengabaikan dirinya.


Kesel jadinya kalau susah dirayu begini.


Gia malu sendiri dan kembali menyandarkan kepala di bahu pamannya.


"I love you, Paman." Ayolah, Paman! Tatap keponakanmu yang cantik ini.


"Hm," jawab Ridwan singkat. Dia tiba-tiba berdiri tanpa memberi aba-aba sehingga membuat Gia jatuh dengan posisi miring.


Sabar Gia sabar!


Dia bangun dan berdiri di sebelah Ridwan yang masih sulit untuk dia bujuk.


"Paman tahu sendiri kalau aku itu perempuan dan tidak baik jika menjalin hubungan haram dengan laki-laki dalam waktu yang lama."

__ADS_1


"Nah itu kamu tahu, kenapa malah melakukannya?" Ridwan membelakangi Gia dan tidak berniat menatap keponakannya itu.


"Meskipun iman kita kuat, kadang godaan setan tetap bisa menyempil seperti kotoran di hidung. Banyak dosa yang tidak sengaja sudah aku lakukan dengan Bang Han, Paman. Apa Paman tidak mau melihatku pacaran setelah menikah?"


"Kalau kamu mau menikah ya silakan!" ucap Ridwan santai seakan tidak peduli dengannya.


Gia tidak menyerah, dia terus meyakinkan Ridwan sampai laki-laki itu akhirnya memberikan restu padanya.


Satu minggu kemudian.


Mendapat berbagai macam kendala tidak membuat niat Gia dan Han untuk lamaran tertunda karena setelah membicarakan baik dan buruknya jika acara itu dilaksakan semua keluarga akhirnya setuju dengan syarat pernikahan mereka dilangsungkan setelah umur Gia dua puluh tahun.


Kini dua anggota keluarga sudah berkumpul dan acara juga sudah dimulai. Semua yang berada di sana menyaksikan dengan penuh suka cita sampai acara selesai.


Gibran mengajak Han dan Gia ke balkon karena hanya tempat itu yang nyaman dan lumayan sepi. Han dan Gia duduk berdampingan dan berhadapan dengan Gibran.


"Gia, demi kebaikan semua orang. Papa minta kamu melanjutkan kuliah di luar negeri dan untuk tiga tahun ke depan kalian tidak boleh bertemu dengan alasan apa pun," ucap Gibran yang sudah memikirkan semua dengan matang.


Han langsung menatap gadis di sebelahnya untuk melihat bagaimana responnya.


"Kok begitu sih, Pa?" Gia protes, dia tidak mau kuliah di luar negeri.


Gibran menatap lekat putri satu-satunya dan keputusannya tetap tidak akan dia rubah walau ditolak mentah-mentah. "Kamu mau terima atau pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi?" Gibran tersenyum melihat wajah putrinya yang ditekuk dan bibir bebeknya.


Gibran sangat yakin kalau dari dua pilihan itu tidak akan ada yang kau dipilih putrinya.


"Gia gak masalah kalau menikah dua atau tiga tahun lagi, tetapi aku gak akan mau kuliah di luar negeri." Pintar, ternyata dia tidak memilih keduanya dan malah memberikan penawarannya sendiri.


"Kalau begitu pernikahan kalian tidak akan terjadi." Gibran tersenyum.


"Papa, kan, tahu kalau aku cuma mau kuliah di sini dari dulu." Gia merajuk, dia melipat kedua tangan di depan dada dan memalingkan wajah ke arah lain.


Gibran mengabaikan putrinya, sekarang matanya menatap penuh pada calon menantu.


"Han, saya tahu kalau kamu sekarang menjabat sebagai wakil CEO di perusahaan keluargamu. Buktikan kalau kamu mampu menjadi pemimpin dan halalkan putri saya jika semua pekerjaan kamu sudah banyak yang berhasil," tutur Gibran sungguh-sungguh.


Han menunduk, menurutnya hal ini ada baiknya juga karena dua sampai empat tahun ke depan adalah waktu paling baik untuk membuktikan pada semua keluarganya jika dia sudah pantas menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab di dalam perusahaan dan rumah tangganya.

__ADS_1


"Iya, Pa." Han menjawab tegas.


"Bagus, kalau begitu sekarang kamu sudah boleh pulang."


"Iya, Pa. Han permisi." Han tersenyum dan meninggalkan balkon, dia mengajak keluarganya pulang karena semua telah selesai.


***


Satu minggu kemudian, di bandara.


"Gia, abang minta sama kamu supaya menuruti perintah Papa untuk kebaikan bersama. Abang cuma bisa mengantar sampai di sini dan sekarang mau pulang dulu." Han mencium dahi Gia penuh kasih sayang.


Hari ini kekasihnya akan terbang ke London untuk melanjutkan studinya di universitas terkenal di sana.


Awalnya memang Gia menolak, tetapi setelah sering dibujuk gadis itu terpaksa menerima syarat dari papanya.


Gia hanya diantar Han karena keluarga yang lain dilarang untuk mengantarkan dirinya dan larangan itu yang membuat adalah dirinya sendiri.


"Iya, Bang. Hati-hati dan jangan lupa untuk tetap berkomunikasi denganku!" Gia memeluk Han sebentar dan melambaikan tangan ketika Han mulai menjauh.


"Kita akan berjumpa empat tahun lagi di dalam suana yang berbeda, Sayang." Han berteriak keras seraya menunjuk Gia dengan penuh semangat, hal itu mengundang banyak perhatian dari orang-orang di bandara.


Gia tersenyum dan mengangguk, dia berjalan menuju pesawat yang akan terbang sepuluh menit lagi.


"Anggap saja empat tahun itu waktu yang tidak lama." Gia memberikan sugesti pada dirinya sendiri agar bisa melalui semuanya dengan lancar dan tidak terganggu sama sekali.


***


Empat tahun kemudian.


Gia telah menyelesaikan studinya dan dia akan kembali ke Indonesia lusa.


Sementara itu, Han sekarang telah sukses dan menjadi pemimpin muda yang digilai banyak perusahaan besar dari dalam dan luar negeri.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2