
"Itu belum seberapa, Sayang." Naira kembali menggunakan jurus andalannya untuk menghukum putranya.
"A-ampun, Ma! Hahaha ... ampun!" Han kewalahan menghadapi serangan mamanya sampai oleng dan kembali menindih Gia dengan posisi memunggungi.
"Uhuk! Berat, Abaaang!" Gia kesulitan bernapas.
Han langsung menggelundungkan dirinya ke samping.
Gia yang tidak lagi ditindih langsung bangun lalu mengatur napasnya yang masih tidak karuan. Dia tersenyum miris melihat paha kekasihnya menjadi sasaran empuk calon mama mertuanya.
"Sakit, Bang?" Pertanyaan macam apa itu? Sudah tahu sakit masih saja bertanya.
Han menggeleng, tapi matanya sudah berkaca-kaca. "Ma, udah dong!" Han menepis tangan mamanya yang masih dengan sangat semangat mencubit pahanya.
Tidak memiliki niat untuk membantu, Gia malah terkikik geli melihat kekasihnya yang kesakitan. Jarang-jarang bisa melihat Han yang merengek manja pada mamanya seperti ini, sehingga dia malah mendukung perbuatan Naira.
"Hajar terus, Ma! Ayo terus biar kapok si Abang!" Gia menyemangati Naira dan wanita paruh baya itu mengangguk dengan sangat semangat. Memberi hukuman pada putranya yang nakal.
"Yang, bantuin napa? Kamu juga gak nolak kok aku cium." Han berlari menyebrangi kasur sehingga bisa terhindar dari amukan macan yang melahirkannya.
"Emang Abang izin sama aku?" Gia tersenyum sinis. Dia berdiri di sebelah Naira dan menjulurkan lidah pada Han.
__ADS_1
"Yang, jangan begitu. Gak boleh!" Han tidak suka jika Gia menjulurkan lidahnya karena jadi seperti maaf ... hewan itu.
"Kamu juga, Gia. Mau-maunya dicium sama anak nakal itu." Naira menatap Gia tajam. Gia langsung menunduk takut dan diam-diam Naira tertawa keras dalam hatinya.
Ngerjain anak sama calon mantu sesekali gak dosa, kan?
Han langsung menatap Gia yang menunduk dengan wajah ditekuk. Dia merasa sangat kasihan pada kekasihnya itu. "Kasihan, kena semprot Mama juga." Walau kasihan, Han masih sempat tersenyum puas.
Gia melirik Naira yang bertolak pinggang. Dengan erlahan, Gia melangkah menghampiri Han dan berdiri di belakang laki-laki itu karena dia takut akan dicubit seperti Han.
"Kalian berdua duduk di sini, cepat!" Naira menunjuk ranjang di sebelahnya.
Gia dibuat sangat kesal karena perbuatan Han yang satu ini. Enak sih dipeluk, tapi rasanya seperti sedang disidang kalau seperti ini.
"Bang, lepasin napa? Ada yang keras, bikin merinding aja." Gia mulai tidak nyaman karena dia tahu Han sekarang sedang menahan hasratnya.
"Gak akan masuk, tenang aja!" Han memeluknya semakin erat.
"Kalian tadi mau ngapain?" tanya Naira dengan nada yang dingin, tegas, dan berwibawa.
"Ma, sidangnya ditunda dulu. Sekarang tolongin aku!" Gia merinding, pasalnya yang terasa keras itu semakin menekan pinggangnya. Maklum, tinggi badan Han dan Gia berbeda.
__ADS_1
"Han, kalau mesum. Mama bawa kalian ke KUA sekarang juga," ancam Naira dengan memelototkan matanya.
"Kalau udah menikah, kamu gak akan bisa jalan, Yang." Perlahan benda keras itu tidak terasa lagi. Han mulai tenang dan memiliki Gia sewajarnya.
"Han, mama lagi bicara sama kamu." Naira dibuat emosi karena merasa tidak diacuhkan.
"Minggu depan kita datang ke rumahnya Om Gibran, Ma. Han mau melamar Gia," ucap Han dengan sangat serius.
"Kamu serius?" tanya Naira antusias.
"Iya, Ma."
"Kenapa gak bilang dari tadi? Kalau bilangnya tadi, mama gak akan gangguin kalian bikin cucu. Ya udah, sekarang lanjutin lagi. Kuncinya tak bawa keluar." Naira mengambil langkah seribu dan mengunci kamar Han dari luar.
Gia langsung menjatuhkan rahangnya melihat tingkah Naira yang keterlaluan.
.
.
Jangan marah guys ... author tetap nulis dalam tahap yang normal kok. Gak ada seks before merried. Walau kadang mereka ciuman, itu biasa ya di kalangan anak muda sekarang walau gak banyak juga dan dosa. Maka jangan ditiru oke!! 😙
__ADS_1