Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 69


__ADS_3

Tegangnya suasana di dalam ruang operasi tidak kalah tegang dengan suasana di luar ruang operasi. Tempat di mana suami, sahabat, mertua, dan adiknya menunggu. Jika Jasmine berjuang demi nyawa, mereka berjuang dengan doa.


Tiga puluh menit berlalu, pintu kamar operasi dibuka dari dalam. Wajah Gibran pias saat melihat dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang tidak enak untuk ia pandang. Gibran bukan orang bodoh sehingga ia dengan mudah bisa menebak apa yang akan dokter katakan padanya.


"Maaf, dengan keluarga pasien?" tanya dokter tersebut sopan.


"Saya keluarganya, Dok." Gibran berdiri tepat di depan dokter.


"Bagaimana operasinya, Dok?" tanya Satya sudah sangat penasaran, ia tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.


"Dengan kuasa Tuhan, operasinya berjalan dengan lancar." Gibran senangnya bukan main, ia meloncat-loncat girang satu detik setelah dokter itu bicara.


"Tapi, kondisi pasien memburuk." Fokus dokter hanya tertuju pada Satya karena di saat seperti ini ia tidak mau berurusan dengan orang sableng seperti Gibran.


Suara dentuman yang cukup keras mengalihkan fokus mereka. Semua orang menatap ke arah sumber suara. Ranti memekik kaget, Bayu melotot tidak percaya, Airin menutup mulutnya, sedangkan Satya dan dokter menatap datar.


Belum hilang rasa terkejut yang mereka rasakan, mereka semua sudah dikagetkan lagi dengan suara dentuman yang kedua.


"Gibran, cukup!" teriak Ranti reflek sampai membuat Gio menangis kencang karenanya.


"Lo punya otak itu dipakai!" Bayu menarik tubuh Gibran dan menjauhkannya dari tembok. Jika Gibran masih dekat dengan tembok, tidak bisa dimungkiri jika tangannya akan hancur.


"Gue nggak bisa pakai otak karena yang gue bisa pakai cuma baju sama celana," bentak Gibran pada Bayu.


Linut : "Author boleh ketawa nggak nih?"


Gibran dan semua orang : "Diam!!!"


Linut : Author diam ( 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂) kabuuuuuuur.


Oke, kembali ke laptop.


"Gue lagi serius!" Bayu balas membentak Gibran.

__ADS_1


"Gue juga serius," sahut Gibran emosi.


"Tolong jangan berisik, ini rumah sakit bukan stadion sepak bola tempat orang teriak-teriak dengan percuma!" Dokter yang tadi mengoperasikan Jasmine memperingati mereka.


"Ikut gue!" Menarik tangan Gibran dan mengajaknya ke ruang UGD, agar luka di tangannya yang cukup parah itu diobati dokter. Jika dilihat dari banyak darah yang mengalir, luka itu sepertinya bukan cukup parah, tapi sangat parah.


"Ngapain Lo bawa gue ke sini?" Protes karena dipaksa duduk di brankar ruang UDG.


"Perkosa Lo." Kesal. Marah. Kasihan, itulah yang ia rasakan saat ini. Dicemburui Gibran dengan alasan yang dangkal membuat Bayu ingin menenggelamkannya di dasar samudera paling dalam.


"Gue cuma doyan sama istri gue." Gibran bergidik ngeri, ia menjauh dari Bayu.


Seorang dokter muda dan tampan masuk ke ruang UGD bersama satu perawat wanita. Ia tersenyum pada Gibran, lalu berkata, "Luka di tangan Anda harus segera di obati, saya akan memeriksa luka Anda untuk memeriksa apakah ada tulang yang retak atau tidak."


"Dokter Adit, saya tidak apa-apa," ucap Gibran yang tahu nama dokter tersebut.


"Saya tetap harus memeriksanya." Pasrah. Gibran membiarkan dr. Adit memeriksa tangannya. Dokter Adit tersenyum karena luka di tangan Gibran membuat tulang pergelangan tangannya bermasalah. Bisa dipastikan, jika tadi Gibran kembali memukul dinding, maka pergelangan tangannya akan patah.


Akhirnya, setelah mengalami perdebatan panjang lebar dengan dokter. Tangan Gibran sekarang sudah diobati dan dililit dengan perban untuk menghindari cedera yang lebih parah lagi.


Ridwan bahkan tidak diberitahu kalau Jasmine sedang sakit. Diberitahu pun mungkin ia tidak akan bisa datang menjenguk karena ia sendiri sibuk mengurus ibunya.


Saat ini, Airin berada di ruang rawat Jasmine, ia sangat sedih melihat sahabatnya yang terluka seperti sekarang. Baru pertama kali bagi Airin melihat Jasmine selemah ini.


"Airin, kamu pulang saja! Istirahat di rumah, saya yang akan menjaga Jasmine." Berdecak kesal, ia tidak ingin pergi meninggalkan Jasmine, namun karena suami sahabatnya itu yang meminta, mau tidak mau akhirnya Airin harus pulang juga.


"Tapi, kapan-kapan saya boleh ke sini lagi, 'kan?" Ia menatap Gibran.


"Tentu saja, tapi sekarang pulanglah!" pinta Gibran dengan nada rendah.


"Ok, saya titip sahabat saya, jika ia sadar. Tolong beritahu saya!" Melirik Bayu yang menatapnya dengan datar. Airin mengambil tas yang ia letakkan di kursi lalu hendak segera pergi keluar ruang rawat Jasmine.


"Tunggu dulu!" Berhenti, ia menatap Gibran dengan dahi berkerut dalam.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" tanya Airin kesal.


"Biarkan Bayu mengantar kamu pulang." Kaget, mendelik tajam ke arah Airin. Bayu sangat malas sebenarnya mengantar Airin, gadis yang ia pikir sangat menyebalkan.


"Kenapa harus gue?" Menunjuk diri sendiri dengan ekspresi wajah yang kesal. Bayu sudah sangat kesal karena Gibran, sekarang malah ditambah kesal karena Airin.


"Karena ini perintah." Gibran menjawab dengan enteng.


"Ya udah, ayo!" Tanpa sadar Bayu menarik tangan Airin. Airin yang kaget tidak sempat melepaskan tangannya karena ia sudah terseret akibat langkah kaki Bayu yang panjang.


"Pelan sedikit bisa nggak? Sakit tahu!" cicit Airin di balik punggung Bayu.


Bayu yang kesal langsung berhenti secara tiba-tiba, membuat Airin yang di belakang dirinya langsung menabrak dadanya karena sekarang Bayu sudah berbalik.


Keras, sehingga dahi Airin rasanya sangat sakit. Benturan dengan dada Bayu ternyata sama kerasnya dengan membentur tembok.


"Kalau mau berhenti ngasih aba-aba dulu, dong!" bentak Airin, ia menatap Bayu dengan sorot mata tajam penuh dengan rasa tidak suka.


"Lemah banget sih jadi cewek, baru membentur dada gue aja udah ngeluh, gimana nanti kalau Lo malam pertama sama suami, Lo?" Menatap sinis dan mengejek tanpa ampun. Bayu melihat dua tangannya di depan dada, dengan gaya sombong di depan Airin.


"Lo kalau ngomong di saring dulu, jangan asal ceplos aja! Ngomong tu pakai otak jangan pakai dengkul, dasar dodol!" Meninggalkan Bayu setelah ia berkata tajam padanya. Airin bahkan tidak peduli dengan laki-laki yang bernama Bayu itu.


"Lo yang dodol, orang seluruh dunia tahu kalau ngomong itu pakai mulut bukan pakai otak." Bayu mengekori Airin, walaupun ia kesal, ia tetap harus mengantar Airin.


"Gue juga tahu," ucap Airin sinis.


"Tapi kenapa lo masih ****?" Menarik rambut Airin sampai gadis itu kesal dan dengan cepat ia membalikkan tubuhnya. Airin melirik ke arah rambutnya yang ditarik oleh Bayu, marah sudah tentu. Airin menepis tangan Bayu dengan kasar lalu ... bunyi sebuah tamparan keras memekakkan telinga terdengar jelas menggema di koridor rumah sakit.


"Kau ...." Bayu menatap Airin tajam.


***


Baca juga ceritaku yang lain ya.

__ADS_1


MENCINTAIMU DALAM DIAM -Karlina Sulaiman


__ADS_2