
Hari ini hanya ada satu mata kuliah dan waktunya pagi. Mata kuliah yang berlangsung dua jam sudah selesai dan Gio sekarang berdiri bersandar pada badan mobil dengan kaki menyilang dan tangan terlipat di dada.
Gio terlihat sangat tampan dan menggoda siapa saja yang melihatnya. Gio saat ini sedang menunggu seseorang yang akan menemaninya pergi ke makam.
"Dari mana aja, Lo? Gus udah nunggu sekitar satu jam dan gue capek." Gio menatap tajam pada sahabat baiknya yang bernama Bara.
"Gue habis bikin anak sama dosen pembimbing yang bohay." Bara menjawab asal, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Pakai kond*m gak, Lo?" Kepala Gio langsung ditimpuk menggunakan buku paket yang cukup tebal yang baru saja Bara pinjam dari perpustakaan kampus.
"Enak keluar di dalam, anget." Bara langsung masuk ke mobil Gio setelah Gio masuk.
"Gue gak ngerti apa yang Lo bilang," ucap Gio sok polos, padahal masalah seks, Gio adalah seseorang yang paling mengerti tentang itu semua, hanya saja Gio tidak pernah praktik karena miliknya harus masuk ke milik istrinya kelak dan tidak ingin mencicipi milik wanita yang bukan istrinya.
Bara tertawa mendengar kalimat Gio yang pura-pura polos. Bara mengambil satu batang rokok dan hendak menyalakannya, tapi dihentikan Gio.
"Jangan merokok di dalam mobil gue, keponakan gue gak bisa nyium aroma rokok!" Gio melarang Bara memang karena tidak ingin mobilnya bau asap rokok karena keponakannya akan sesak napas jika mencium bau rokok yang menyengat.
Bara menurut saja, ia tidak jadi merokok di dalam mobil karena ia juga merasa kasihan pada keponakan Gio.
Bara memasukkan buku paketnya ke dalam tas kemudian ia melemparkannya ke kursi belakang.
"Lo sayang banget, ya, sama keponakan, Lo?" Bara menatap Gio yang hanya mengangkat bahu tidak peduli.
"Berangkat sekarang yuk!" Gio menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya ke tempat tujuan.
Bara memilih bermain ponsel karena ia terlalu malas kalau hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa.
Tidak butuh waktu lama, mobil sampai di tempat tujuan. Gio membeli bunga sebelum ia masuk ke pemakaman, bunga lily berwarna putih dan satu bunga mawar putih.
Setelah itu, Gio dan Bara segera berjalan menuju ke suatu tempat di mana tujuan utama mereka berada.
Sesampainya di tempat yang dituju, di mana nisan dengan tulisan Stevie berada. Gio berjongkok kemudian mengusap batu nisan itu layaknya mengusap kepala seseorang.
"Hai, Vie. Sudah tiga bukan gue gak pernah ke sini, Lo pasti kangen berat sama gue, 'kan?" Gio terkekeh. Namun, Bara tahu kalau Gio sedang menahan rasa sedihnya.
__ADS_1
"Gue masih gak nyangka kalau Lo bakal pergi secepat ini. Udah tiga tahun Lo pergi, Lo ninggalin gue sama Bara." Bara menepuk bahu Gio dengan perasaan yang sama sedihnya dengan Gio.
"Gue bawain bunga kesukaan, Lo. Gue gak bisa lama-lam di sini karena gue harus segera pulang dan jemput Gavin ke sekolah dulu, gue janji lain waktu gue ke sini lagi." Gio mencium batu nisan Stevie dan meninggalkan bunga itu di atas makam.
Gio berdiri kemudian berjalan kembali menuju mobil. Bara yang masih diam di dekat makam menatap makam tersebut dengan tatapan penuh luka.
"Gue sama Bara sayang sama, Lo. Kita sahabat baik tapi Lo harus meninggal karena penyakit yang Lo derita." Bara merasakan hatinya sangat sakit, ia langsung memegang dadanya dan meninggalkan makam Stevie untuk menyusul Gio.
***
Sementara itu di sekolah.
Gavin sedang menyapu halaman karena ia mendapat hukuman karena berani mencium guru perempuan yang dianggap sebagai tindak pelecehan seksual.
"Kamu tidak boleh pulang sampai pekerjaan kamu selesai!" ucap guru cantik yang tadi ia cium dahinya.
"Bu guru pasti gak mau aku buru-buru pulang, 'kan?" Gavin malah mencandai gurunya, mungkin ia tidak merasa bersalah sama sekali saat ini.
"Saya, Zaskia Maheswari, tidak akan pernah peduli dengan anak bau kencur seperti kamu." Guru cantik bernama Zaskia itu menatap tajam mata Gavin.
Setelah menyelesaikan hukumannya, Gavin langsung mengambil tas miliknya.
Gavin berjalan mendekati Bu Zaskia yang sejak tadi mengawasi dirinya.
"Papa pulang dulu, ya, Ma. Mama nanti kalau pulang hati-hati di jalan, jangan nakal! Muah!" Gavin mencium dahi Bu Zaskia kemudian langsung lari terbirit-birit karena takut mendapat omelan guru cantik itu.
"Gavin kurang ajar!" teriak Bu Zaskia dengan kesal, ia menyentuh dahinya di tempat bibir Gavin menempel tadi.
"Sudah dua kali," ucap Zaskia, senyum tipis terbit dari bibirnya membuat kecantikannya bertambah 0,1 persen.
"Maafkan perilaku adik saya, Bu!" ucap Gilang yang melihat kejadian itu dan kebetulan berjalan melewati Bu Zaskia.
Bu Zaskia terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Gilang. Bu Zaskia mengusap dadanya sambil bergumam dalam hati untuk bersabar.
"Kalian ini kembar tapi sikap kalian sangat bertolak belakang." Gilang hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Saya duluan, Bu." Gilang meninggalkan Bu Zaskia dan berjalan menuju parkiran motor.
...***...
Gio yang melihat seragam Gavin basah langsung bertanya-tanya.
"Bawa minum gak, Om?" tanya Gavin ketika sampai di depan Gio.
"Baju kamu kok basah, Vin?" tanya Gio.
"Nih kalau mau minum!" Bara memberikan botol air mineral pada Gavin, dengan senang. hati Gavin meminumnya sampai habis tidak berbisa.
Setelah minum, Gavin menyandarkan tubuhnya di badan mobil sambil menatap Gio lekat.
"Gue dihukum bersihin halaman sekolah." Gio tertawa mendengar hal itu.
"Kok bisa dihukum?" tanya Gio lagi.
"Gue nyium dahi guru gue, Om." Bara yang sedang makan snack langsung tersedak dan terbatuk-batuk.
"Gila, Lo! Gue aduin ke Kak Jasmine kalau sampai di rumah nanti." Gio masuk ke mobil setelah mengatakan itu. Gavin pun menyusul masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang.
"Vin, Lo nakal boleh. Tapi, jangan kurang ajar!" ucap Bara dengan suara sedikit serak.
Gavin tersenyum miring, ia menutup telinganya dengan headset kemudian memilih untuk tidur.
Gilang yang melihat adiknya dijemput Gio hanya bisa melihat dari kejauhan. Helm yang sempat akan ia pakai ia taruh kembali di atas motor.
Aku gak tahu apa alasan sikap kalian ke aku selalu dingin dan terkesan gak peduli sama aku. Kalian dekat banget, ya? Andai saja yang jadi kembaran Gavin itu Om Gio.
Gilang mengambil helmnya kembali dan langsung memakainya kemudian menaiki motor miliknya. Gilang melajukan motor dengan kecepatan sedang menuju ke rumah.
***
Bersambung ...
__ADS_1