
Gibran yang sudah tertidur cukup lama merasakan ada sentuhan hangat dan lembut yang mengusap kepalanya dan memainkan rambutnya yang cepak itu. Karena sentuhan lembut itu, Gibran perlahan membuka matanya, ia berkedip beberapa kali agar penglihatannya tidak kabur.
Saat matanya sudah terbuka sempurna dan bisa melihat dengan jelas. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga karena melihat istrinya sudah sadar dan sekarang tersenyum dengan sangat manis kepadanya.
Gibran tidak menyangka jika istrinya sudah sadar dari komanya. Ia benar-benar sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah mengembalikan istrinya kepada dirinya. Gibran merasa hidupnya kini akan kembali berwarna karena kesadaran Jasmine.
Keping demi keping harapan yang awalnya berserakan kini ia kumpulkan dan ia susun agar menjadi satu kesatuan yang sempurna.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Gibran mencium tangan Jasmine dengan sangat lembut, air matanya bahkan menetes membasahi tangan sang istri yang masih terasa dingin itu.
Gibran tidak mendapat balasan jawaban dari Jasmine, yang ia dapat lihat hanya tatapan mata Jasmine yang mengisyaratkan jika saat ini Jasmine baik-baik saja dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari semua kecelakaan yang tidak sengaja menimpa dirinya.
Gibran mengusap air mata istrinya yang mengalir dengan pelan ke sisi kanan dan kiri kepalanya karena posisinya sekarang yang berbaring. Gibran bisa merasakan dengan sangat nyata rasa panas dari air mata itu.
"Sayang, apa kamu merasa sakit sampai kamu menangis seperti ini?" Jasmine hanya menggeleng dan tersenyum melihat Gibran yang khawatir padanya.
"Kalau tidak sakit, jangan menangis, oke!" Gibran tersenyum manis.
"Kamu harus segera sembuh, jangan hukum aku dengan cara seperti ini!" Gibran menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Jasmine perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah tampan dari pria yang sangat ia cintai. Gibran memejamkan matanya merasakan sentuhan hangat dari tangan kecil sang istri, ia menggenggam tangan itu dan menciuminya dengan penuh kasih sayang.
Jasmine lagi-lagi hanya tersenyum, ia terlihat sangat enggan untuk membuka suara. Ia sepertinya akan puasa bicara selama beberapa bulan ke depan, tidak lama, hanya sembilan bulan saja.
Jasmine mengusap bibir tipis suaminya, karena hal itu juga, Gibran dengan pelan mendekatkan wajahnya pada sang istri dan ia berniat untuk menciumnya.
Namun ... suara yang cukup keras dari hantaman kursi dan lantai terdengar begitu memilukan telinga. Gibran terjatuh dengan posisi terjengkang karena kursi yang ia pakai untuk duduk oleng. Dan tepat dengan kejadian itu, Gibran membuka matanya dan ia pun terbangun dari mimpi indah yang baru saja dia mimpikan, mimpi yang terasa sangat nyata tapi semua ternyata hanya bunga tidur saja.
Gibran merasakan tulang lehernya sangat sakit karena tidur dalam posisi duduk dan menjadikan tepi ranjang rawat sang istri sebagai bantal. Bukan hanya tulang leher yang sakit, tulang punggungnya pun juga merasakan hal yang sama, terlebih ia jatuh dari kursi dan langsung berbenturan dengan lantai rumah sakit yang keras, bisa bayangkan jika ia jatuh lebih keras dari yang tadi mungkin tulang bagian belakang tubuhnya akan patah dan bisa saja ia lumpuh saat itu juga.
"Kursi sialan, kalau saja kau tidak oleng, mungkin aku sudah berciuman dengan istriku." Gibran dengan kesal menendang kursi itu tapi yang sakit malah kakinya.
Kalau kursi bisa ngomong, dia pasti tidak akan bohong. Kalau Gibran kurang satu ons, makannya dia jadi rada oon.
Setelah lelah dan kakinya tidak terlalu sakit, dengan hati-hati ia berdiri dengan kedua kaki, jempol kakinya sebenarnya masih terasanya nyut-nyutan.
Dengan hati-hati dan sabar, ia membenarkan posisi kursi seperti semula. Ia merapikan tempat yang sedikit berantakan karena dirinya. Setelah selesai dan matanya secara tidak sengaja melihat ke atas ranjang. Gibran kembali merasa hancur dan terpukul saat melihat istrinya masih terbaring lemah di sana, istrinya masih koma. Ternyata mimpi itu sangat berarti dalam dirinya.
Gibran kembali duduk, ia menatap langit-langit ruang rawat dengan tatapan yang tidak terbaca, rasanya sangat perih hatinya.
__ADS_1
"Sayang, kapan kamu akan bangun?" Gibran naik ke ranjang rawat sang istri yang cukup besar sehingga cukup untuk menampung dua orang di atasnya, dan saat itu pula semua memori tentang rekaman manis bersama sang istri berputar bagaikan film di layar lebar.
Gibran berbaring di samping istrinya dan memeluknya dengan posesif, ia rindu rasa hangat yang diberikan istrinya, ia rindu bercanda, berdebat, dan bercinta dengan istrinya. Baru satu minggu lebih ia merasakan indahnya pernikahan dengan sang istri, tapi sekarang semuanya telah hilang dan hanya meninggalkan sebuah kenangan manis yang sesekali bisa membuat ia tersenyum dalam keadaan terpuruk dan kesepian seperti ini.
"Sayang, aku mohon kamu harus cepat sadar. Kamu harus tahu kalau Gio rindu digendong sama kamu. Gio pasti sedih kalau kamu nggak segera sadar. Kamu juga pernah bilang sama Gio kalau kamu mau memberikan Gio keponakan yang lucu-lucu dan akan menjadikan anak kita kelak sebagai taman Gio, 'kan." Gibran ingin menjadikan dadanya sebagai bantal untuk Jasmine. Namun, luka di kepala Jasmine masih basah dan tidak boleh sampai terusik, atau jika itu terjadi, maka mungkin kesembuhan Jasmine akan memakan waktu yang lebih lama.
"Sayang, kamu paling tidak suka dengan bunga mawar, 'kan?" berbisik sambil terkekeh.
"Aku akan membawa bunga mawar ke sini setiap hari agar kamu bangun dan memarahi aku." Seringai licik penuh luka tergambar jelas di wajahnya.
"Aku akan membawa mawar merah, hitam, pink, orange, putih, bunga kenanga, melati, kamboja, dahlia, daisy, lily, dandelion." Gibran akan menjadi penjual bunga dadakan jika ia benar-benar membawa semua bunga itu ke rumah sakit.
Gibran saat ini sedang berpikir keras sambil mengetuk-ngetuk dahinya dan mengupil, ia merasa hidungnya sangat sulit untuk bernapas.
Gibran berpikir, bunga apa yang sekiranya paling disukai istrinya itu. Gibran tahu jika Jasmine pasti menyukai bunga melati, dan kantil. Seperti Susana.
Gibran mencium pipi Jasmine lalu tersenyum lebar saat ia ingat dengan bunga yang sejak tadi ia pikirkan.
"Ah, Sayang. Aku tahu, kamu pasti sangat suka dengan bunga bank, 'kan?" Gibran mencubit pipi Jasmine sampai sedikit memerah. Mungkin jika Jasmine sadar, ia akan langsung menggigit tangan Gibran dan mendorong tubuh suaminya itu sampai jatuh ke lantai.
__ADS_1
Mungkin juga jika Jasmine sadar, dia akan memukuli Gibran dan berteriak di telinganya jika yang dia mau adalah bunga bangkai yang nantinya akan dia pakai aku untuk membius suaminya yang sangat menyebalkan itu.