
"Bagaimana hasil penyelidikan kamu?" Gibran bertanya pada orang suruhannya beberapa hari yang lalu.
"Semua hasil ada di dalam map ini dan juga ada di dalam email yang sudah saya kirim ke email, Anda," jawab orang itu dengan wajah datar namun perkataannya sangat sopan.
"Uang sudah saya transfer ke rekening kamu, semoga bisa bermanfaat untuk membiayai hidup keluarga kamu." Gibran tersenyum lalu meninggalkan orang suruhannya setelah dia mengucapkan terima kasih kepada Gibran.
Gibran masuk ke dalam mobil miliknya lalu membaca email yang orang suruhannya kirim. Gibran juga membuka map dan melihat serta membaca isinya.
Setelah semuanya selesai ia baca, ia melajukan mobilnya dengan perlahan kembali ke rumah orangtuanya. Gibran sudah tahu jika saat ini Jasmine tidak berada di negara ini, karena kabur dari perjodohan orangtuanya untuk yang kedua kali.
Gibran tidak terlalu pusing memikirkan hal yang tidak terlalu penting untuknya, yang paling penting untuk Gibran sekarang adalah, membawa Jasmine pulang dan menikahinya. Masalah wali Jasmine, Gibran yakin jika ayahnya Jasmine akan dengan senang hati menjadi wali jika dia tahu orang yang akan menikahi putrinya punya banyak uang seperti Gibran.
"Uang memang bukan segalanya, tapi segala apa pun bisa dilakukan dengan adanya uang." Gibran tersenyum miris jika ingat dengan para pekerja di kantornya yang dulu dengan seenak udelnya memanipulasi dokumen kantor hanya untuk korupsi.
***
"Bunda, selamat atas kehamilan kedua, Bunda. Gibran pasti akan menyayangi adik Gibran dengan segenap jiwa dan raga Gibran." Gibran mengusap perut bundanya yang masih datar.
"Bukannya dua hari yang lalu kamu tidak suka dengan kabar kehamilan bunda?" Ranti menatap mata putranya itu dengan lekat, Ranti merasa sedikit bersalah waktu itu, karena Gibran tidak suka dengan kabar kehamilannya.
"Bukan tidak suka, Bunda. Tapi, Gibran kaget karena usia Bunda tidak muda lagi dan usia Gibran juga sudah dewasa." Gibran tersenyum mencium dahi bundanya dengan sayang.
"Nanti kalau Gibran punya anak, anak Gibran akan punya teman bermain." Gibran melihat ayahnya yang menatap dengan penuh kecemburuan padanya.
Gibran menjulurkan lidahnya lalu memeluk bundanya dengan semakin erat, membuat Satya semakin cemburu karenanya. Satya duduk di samping istrinya dia berdehem.
"Ehem, Sayang. Aku ada di sini." Satya dengan gerakan pelan menarik Ranti dalam pelukannya, namun, terhalang tangan Gibran.
"Ayah jangan pelit dong, Gibran kan juga mau memeluk bunda seperti sekarang. Ayah juga udah berhasil bikin bunda hamil lagi, jadi sekarang bunda jadi milik Gibran bukan milik Ayah." Gibran menepis tangan ayahnya dengan sengit, namun, hatinya sangat senang melihat kecemburuan sang ayah kepadanya.
__ADS_1
"Hasil kerja keras yang menghasilkan peluh dan keringat setiap malam itu, Nak," ucap Satya dengan bangga.
"Oke, sekarang Ayah harus puasa selama tiga bulan agar adik Gibran di rahim bunda baik-baik saja, iya, kan, Bun?" Gibran meminta persetujuan bundanya, dan dijawab anggukan oleh Ranti.
Gibran tersenyum puas, sedangkan Satya tersenyum melas. "Jangan tiga bulan dong, Bun. Satu bulan aja." Satya menawar dengan manja.
"Oh, maksud Ayah satu bulan sebelum bunda lahiran?" Ranti menggoda suaminya yang semakin kesal karena itu artinya dia akan puasa selama delapan bulan bukan tiga bulan seperti ucapan Gibran.
"Enggak, Bun. Maksud ayah itu, satu bulan usia kehamilan, Bunda." Satya mencubit tangan Gibran dengan cubitan kecil sehingga anaknya itu menjerit dan melepaskan pelukannya dari istri tercinta.
"Ah ... sakit, woi!" Gibran menatap sengit ayahnya.
"Kan usia kandungan bunda sekarang sudah delapan minggu, Yah." Ranti tersenyum penuh kemenangan karena melihat suaminya bingung hendak membalas apa pada ucapan dirinya.
"Ibu dan anak sama-sama menyebalkan." Satya memeluk istrinya dengan erat dan menciuminya dengan gemas.
"Ayah sama Bunda sama-sama gila." Gibran langsung berlari dan kakinya terjegal sofa sehingga dia jatuh tengkurap di atas karpet bulu.
"Hahaha ... anak durhaka langsung mendapat karma." Satya tertawa menunjuk Gibran yang terjatuh.
"Anak jatuh bukannya ditolongin malah diketawain. Ayah ini benar-benar ...." Gibran tersenyum mendapat pembelaan dari bundanya, sedangkan Satya cemberut karena dimarahi istrinya.
"Benar-benar apa, Bun?" tanya Gibran sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Benar-benar the best karena melakukan hal yang benar dengan menertawakan kamu yang nakal." Ranti terkekeh, lalu mencium pipi suaminya dan mengacungkan jempol terbalik pada putranya.
"Nasib anak sulung." Gibran bangkit sendiri lalu pergi ke kamarnya.
"Ayah boleh ML, kan, Bun?" tanya Satya dengan terkekeh pelan.
__ADS_1
"Boleh." Ranti tersenyum manis.
"Ayo kita ML sekarang!" Ranti menarik tangan suaminya masuk ke dalam kamar mereka.
"Ayah duduk dulu di sini, bunda akan bersiap-siap." Ranti keluar dari kamar mengambil benda yang akan mereka gunakan untuk ML.
Satya sudah melepas semua pakaiannya lalu menutupinya dengan selimut sambil menunggu istri tercinta.
Tidak lama, Ranti kembali masuk ke dalam kamar lalu segera naik ke ranjang dan Satya segera menarik Ranti hingga telentang dan langsung menindihnya.
"Ayah mau ngapain?" tanya Ranti bingung, terlebih Ranti merasakan benda keras menyentuh perutnya.
"ML sama, Bunda." Satya menciumi setiap inci wajah istrinya dengan gairah yang bergelora.
"Enggak mau, Ayah. Minggir sana, jangan nindih dong!" Ranti mendorong dada suaminya namun tidak membuat Satya pindah tempat.
"Kok nggak mau, kan tadi bunda yang ngajak." Satya membuka kancing piyama bagian atas milik istrinya lalu bermain-main di sana. Ranti menepuk dahinya sendiri ketika sadar jika dia salah bicara tadi.
"Mobile Legends, Ayah. Bukan Make Love." Ranti mengusap punggung suaminya dengan perasaan kasihan.
"Nanggung, Bunda." Satya memelas.
"Nggak bisa, sana turunin dulu di kamar mandi!" Ranti memiringkan tubuhnya saat suaminya bangun dan duduk.
Sambil nunggu Gibran up aku punya rekomendasi karya bagus untuk kalian.
Jangan lupa ke sana ya!
__ADS_1