Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 66


__ADS_3

"Jasmine, boleh ayah bicara sama kamu?" tanya Satya dengan hati-hati. Satya duduk di samping Jasmine dengan jarak yang cukup dekat. Saat ini, dia dan Jasmine duduk hanya bertiga di ruang tengah bersama dengan Gio yang berada di gendongan Jasmine karena ditinggal Ranti dan Gibran keluar.


Satu minggu yang lalu Jasmine dan Gibran memang sudah pulang dari Paris. Itu pun sudah mundur tiga hari dari jadwal yang seharusnya, tapi Jasmine sudah tidak mempermasalahkan itu karena dia di sana bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk membuat Gibran dan Jasmine junior.


Jasmine masih ingat dengan jelas bagaimana Gibran memperlakukan dirinya setelah kejadian di mana dirinya dengan berani agresif di kamar mandi waktu itu. Saat mengingatnya saja, wajah Jasmine langsung merona karena sangat malu dan tidak percaya jika dirinya bisa seagresif waktu itu.


"Jasmine, boleh ayah bicara sama kamu?" Satya menepuk bahu Jasmine dan mengulangi perkataannya saat tidak mendapat respon dari menantunya itu.


"Ah-itu ... iya boleh, Yah." Jasmine tersenyum kikuk dan malu karena berani mengabaikan mertuanya walau itu tidak sengaja.


"Kamu tadi melamun mikirin apa?" Sebenarnya bukan ini yang mau Satya bicarakan, tapi saat melihat menantunya itu melamun, rasanya lebih menarik untuk mengetahui alasan apa yang membuat menantunya itu melamun.


"Nggak mikirin apa-apa kok, Yah. Bunda sama Mas Gibran kok perginya lama banget, Yah?" tanya Jasmine mengalihkan pembicaraannya.


"Ayah juga nggak tahu, paling sebentar lagi juga pulang." Satya menatap lekat wajah cantik menantunya itu, Jasmine tersenyum tidak nyaman saat ditatap dengan seksama oleh ayah mertuanya.


Karena merasa tidak nyaman, Jasmine mengalihkan perhatiannya pada Gio yang bergerak-gerak di dalam gendongannya. "Gio mau ngajak kakak main, ya?" Jasmine tersenyum menatap bola mata Gio yang bulat dan jernih itu. Napas Jasmine tercekat saat merasakan jarak duduknya dengan Satya sekarang semakin dekat.


Jasmine menutup mulut mungil Gio saat adiknya itu menguap tanda dia sudah mengantuk. Sesaat, Jasmine melirik pada Satya yang masih mengamatinya dengan tersenyum penuh arti. Jasmine menelan salivanya susah payah karena takut dengan tatapan Satya yang tidak seperti biasanya. Jantung Jasmine rasanya berdetak dengan sangat cepat karena rasa takutnya itu, pikirannya sudah membayangkan yang tidak-tidak.


Bagaimana kalau yang aku pikirkan itu benar? Waduh, bisa gawat ini. Mas Gibran sama bunda juga lagi nggak di rumah.


Jasmine perlahan berdiri hendak pergi meninggalkan ayah mertuanya itu. Namun, tangan Satya dengan cepat menarik baju bagian belakang yang Jasmine pakai. Sumpah demi apa pun, Jasmine sangat takut saat ini.


Jasmine menimang Gio yang sudah sekarang sedang mengusel-usel payudaranya. Jasmine rasa, adiknya itu sudah haus karena sudah sekitar dua jam yang lalu dia menyusu.

__ADS_1


"Yah, Jasmine pamit ke dapur dulu," ucap Jasmine sopan.


"Mau ngapain kamu ke dapur?" tanya Satya masih dengan menatap Jasmine.


"Mau ambil ASI-nya Gio, Yah. Dia udah haus dan ngantuk, mungkin beberapa menit lagi tidur si Gio tidur kalau udah minum ASI." Jasmine menjawab dengan jujur dan gugup, dia berdoa dalam hati semoga Ranti dan Gibran segera pulang ke rumah.


"Kamu tunggu saja di sini, biar ayah yang mengambilkan ASI Gio." Satya berdiri, dia menepuk kepala Jasmine sebentar lalu segera berjalan pergi menuju dapur mengambil ASI yang sengaja dia sediakan oleh istrinya untuk Gio sebelum pergi tadi.


"Haduh, jangan-jangan ayah kerasukan hantu. Aku harus gimana dong?" Jasmine sangat panik, sejak tadi yang dia pikirkan adalah ayahnya telah kerasukan hantu sehingga terus menatap dirinya dengan tatapan yang aneh.


Oe ... oe ... Gio jadi ikut gelisah karena kakaknya yang sedang menggendong dirinya. juga gelisah.


"Uuh ... sayangku, jangan nangis, ya! Gio lagi diambilin ASI sama ayah." Jasmine menepuk bokong Gio dan menimangnya serta menciumi pipi gembul adiknya.


Gio tidak kunjung diam, Satya juga tidak segera balik-balik dari dapur. Namun, beberapa saat kemudian, Gio diam karena telah menghisap jari jempolnya yang dimasukkan sendiri ke mulutnya.


Gio tidak puas hanya dengan mengisap jari akhirnya kembali mengusel-usel payudara kakaknya. Jasmine merasa kasihan dengan Gio sampai dia membawa Gio masuk lagi ke rumah untuk melihat apakah Satya sudah selesai menyiapkan ASI milik Gio atau belum.


Saat Jasmine ke dapur, dia hanya bisa terdiam melihat apa yang dia lihat. Ingin rasanya ia menepuk dahinya sendiri jika tidak ingat ada Gio di gendongannya. "Pantas saja ayah kamu itu lama. Lihat itu, Sayang, ayah kamu lagi apa?"


Jasmine menggendong Gio dengan posisi sedikit membuat Gio seperti berdiri dengan kepala bersandar pada bahu Jasmine dan menghadap ke Arab Jasmine. Jasmine menopang bokong dan kepala Gio lalu dia berbalik membelakangi Satya sehingga Gio bisa melihat Satya yang berada di belakang kakaknya.


Jasmine yang kasihan dengan adiknya langsung berjalan meninggalkan dapur karena dia handak membawa adiknya itu masuk ke kamar dan meletakkannya di box bayi. Namun, saat dia sampai di ruang tengah, dia berpapasan dengan Bayu yang sudah beberapa hari terakhir tidak dia lihat.


"Bayu, aku titip Gio sebentar ya. Mau ambil ASI-nya Gio." Tanpa menunggu jawaban dari Bayu, Jasmine sudah mengalihkan gendongan Gio pada Bayu yang hanya bisa terbengong melihat bayi mungil dengan pipi gembul itu berada di gendongannya.

__ADS_1


"Halo Gio, ini om ganteng." Bayu duduk di sofa sambil menciumi pipi gembul Gio yang seperti bakpao itu.


"Gio nangis pasti karena Kak Jasmine nakal sama Gio ya?" Bayu terkekeh, dan Gio ikut tersenyum melihat Bayu yang terkekeh, tangan Gio melambai-lambai seperti ingin menyentuh wajah Bayu. Bayu tersenyum ramah lalu dia kembali menciumi pipi Gio dengan tangan Gio yang menempel di pipinya.


"Dia nangis karena haus bukan karena aku," sahut sebuah suara dari dapur.


...***...


"Perasaan bunda nggak enak, Sayang. Tiba-tiba bunda kepikiran Gio sama istri kamu." Ranti menatap Gibran yang sedang fokus mengemudikan mobilnya menuju rumah.


"Perasaan Bunda aja mungkin. Lagian anak istri Gibran baik-baik saja." Gibran tidak melihat ke arah Ranti dan menanggapi ucapan bundanya itu dengan santai.


"Anak dari mana? Istri kamu hamil aja belum." Ranti terkekeh lalu memukul kepala Gibran dengan keras membuat anaknya itu mengaduh kesakitan karena dianiaya bundanya.


"Maksud aku, Gio." Gibran terkekeh sendiri padahal tidak ada yang lucu sama sekali.


"Sinting," gumam Ranti pelan.


"SGM, Bun."


"Apaan SGM?"


"Sinting, gila, miring." Gibran terkekeh geli.


***

__ADS_1


Ok deh aku lanjut.


__ADS_2