
"Jasmine, duduklah di depan bersama saya!" pinta Gibran, Jasmine mengangguk lalu berjalan memutari mobil dan masuk ke mobil. Selama dalam perjalanan, Bayu tidur dengan nyenyak dan Gibran yang melihat itu hanya bisa tersenyum teduh.
Mereka bertiga akhirnya sampai di gedung tempat pesta pernikahan Azril empat puluh lima menit kemudian karena tadi harus mampir ke alfamart membeli sendal jepit karena sepatu mahal milik Gibran jebol alasnya.
"Ayo kita turun, ingat Jasmine! Di sini kamu menjadi pasangan saya." Gibran masih terus mengingatkan gadis cantik yang bergandengan dengan dirinya.
"Baik, Tuan." Jasmine akan mengingat itu dengan baik.
Setelah memperlihatkan surat undangan, Gibran dan yang lainnya segera masuk ke dalam gedung yang telah didekorasi dengan sangat mewah dan megah walau dekorasinya tidak terlalu penuh.
"Wah, ternyata seperti ini pesta pernikahan orang kaya." Jasmine terkagum-kagum dengan semua yang dia lihat di depan matanya.
"Jika kita menikah, kita akan menggelar pesta yang lebih mewah dari ini." Gibran berbisik pada Jasmine dan Jasmine hanya tersenyum menganggap itu sebagai candaan semata.
"Haha ... terserah apa yang Tuan katakan." Jasmine menjawab singkat, matanya terus menatap sekelilingnya dengan takjub.
Rangkaian acara sudah mulai dilaksanakan satu per satu dari sambutan dan lain-lain. Semua rangkaian acara telah berjalan sesuai yang semestinya. Gibran tidak malu walau dirinya hanya menggunakan sendal jepit merek swallow yang sempat ia beli tadi karena sepatunya jebol karena mengejar Jasmine.
Banyak sekali pasang mata yang menatap Gibran dengan tatapan iba, kagum, tidak suka dan lain-lain. Untungnya Gibran tidak terlalu peduli dengan tatapan orang-orang itu.
"Selamat siang Tuan Gibran, Anda datang ke sini mau merumput atau bagaimana? Kenapa hanya memakai sendal jepit?" Seorang pria tua tertawa terbahak-bahak meledek Gibran.
"Iya, nih. Tuan Gibran datang ke acara pesta pernikahan tapi seperti orang yang mau ke pasar saja," sahut pria lain yang tidak suka dengan Gibran.
"Nggak niat banget sih pergi ke pesta, nggak sopan gayanya." Suara lain masih banyak yang bersahutan meledek dirinya. Namun, Gibran tidak peduli dengan ledekan mereka, bagi Gibran, asal dia datang dengan baik, seburuk apa pun penampilannya, itu tidak masalah.
Kharisma seorang CEO muda perusahaan ternama di Asia itu tidak pudar karena dia tidak punya rasa malu walau sering melakukan kesalahan diluar jam kerjanya. Dia hanya merasa malu jika berhadapan dengan orangtua dan gadis yang dia cintai.
"Sendal jepit juga punya harga diri kok." Gibran membalas ucapan mereka dengan nada santai, bahkan dia tersenyum ramah pada mereka.
__ADS_1
Saat tiba para tamu untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin. Gibran menggenggam tangan Jasmine mengajaknya naik ke panggung tempat Azril dan Sisil (istri Azril) berada.
"Selamat ya, Bro. Nanti malam siap-siap sakit semua badan Lo dicakar kuku tajam kucing garong." Gibran menjabat tangan Azril sambil berbisik-bisik.
"Halah, seperti berpengalaman aja, Lo. Nikah aja belum hahaha ...." Azril tertawa di atas kebahagiaannya.
"Kenalin, Bro. Calon istri gue nih!" Gibran menunjuk Jasmine yang berada di sampingnya.
"Wah, pinter juga Lo nyari istri, cantik gak bidadari begini. Tapi walau calon istri Lo cantik, istri gue jauh lebih cantik, Bran." Azril mencium pipi Sisil sekilas lalu memeluk pinggang sang istri dan yang dipeluk hanya tersenyum malu-malu.
"Haha ... terserah apa kata, Lo. Selamat ya kalian, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah." Gibran kembali menyalami kedua pengantin itu dengan senyum lebar di wajahnya.
Jasmine juga melakukan hal yang sama seperti Gibran, sedangkan Bayu setelah mengucapkan selamat, pria itu langsung pergi entah ke mana. Gibran tidak tahu.
"Terima kasih doanya, semoga Lo cepat susul kita sampai ke pelaminan." Azril menepuk bahu Gibran pelan.
***
"Ayo kita turun!" ajak Gibran setelah mobilnya terparkir di garasi.
Jasmine yang baru saja bangun ingin sekali protes namun karena dia tidak mau banyak debat dia hanya menurut pada Gibran.
Cinta memang tidak mengenal usia, saat Gibran masuk ke dalam rumah, matanya lagi-lagi ternodai dengan pemandangan tidak layak pandang di depannya.
"Masih sore Om dan Tante, sudah mesra-mesraan saja." Bayu mengagetkan Satya dan Ranti yang sedang asik berciuman di sofa dengan posisi Satya di atas tubuh Ranti.
"Kalau mau ehem-ehem di kamar lain kali, Yang. Jangan main di ruang tamu." Gibran memutar bola matanya jengah karena dia merasa iri.
Jasmine hanya tersenyum simpul, gadis itu sebenarnya tidak segila apa yang author gambarkan. Sebenarnya Jasmine adalah gadis yang ceria, sedikit dingin, tegas, dan sangat cerdas. Sikap absurd yang selama ini dia buat tidak ayal hanya karena menutupi rasa sedih dalam hatinya.
__ADS_1
Dua sejoli yang tertangkap basah di ruang tamu itu langsung menyudahi aktivitas mereka. Ranti merapikan kancing piyama bagian atas yang sudah terbuka sebagian karena tangan nakal suaminya, wajahnya sudah sangat merah karena malu aksinya dilihat anak dan tamunya. Sungguh memalukan memang.
"Kamu datang-datang ganggu ayah saja." Satya melotot pada Gibran dan Bayu, sesuatu di bawah sana yang sudah tegang harus segera ditangani.
Gibran dan Bayu saling tatap lalu tertawa melihat wajah Satya yang sudah tersiksa menahan hasratnya.
"Bwahahaha ... tuntasin di kamar mandi sana, Yah!" perintah Gibran merasa kasihan.
"Bun, semuanya, ayah pamit ke atas dulu ya!" pamit Satya yang dijawab anggukan mereka semua.
"Eh ada tamu cantik." Ranti menatap Jasmine yang wajahnya tidak asing di matanya.
Jasmine tersenyum lalu menyapa Ranti yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Selamat sore, Tante."
"Ah, iya selamat sore juga. Ayo silakan duduk!" Ranti menyuruh Jasmine duduk dan disusul Gibran juga Bayu.
"Terima kasih."
"Iya, tante tinggal ke dapur sebentar ya." Ranti segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman karena dia tidak bisa menyuruh pelayan membantu dirinya karena semua pelayan disuruh pergi liburan sehingga dirinya dan Satya bisa bebas melakukan apa pun di rumah mereka.
Jasmine menguap karena dia masih mengantuk. "Kamu menginap di sini saja, Jasmine!" pinta Gibran yang merasa kasihan.
"Tidak, Tuan. Saya mau pulang saja." Jasmine menolak permintaan Gibran.
"Padahal kalau kamu tidur di sini, saya mau mengajak kamu melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lihat tadi." Gibran bicara ngawur sesuka hatinya sendiri.
"Nah kan, pikiran kamu selalu mesum setiap kali bersama diriku." Jasmine pindah duduk di samping Bayu dari posisi yang semula di samping Gibran.
***
__ADS_1
Aku mau serius ah, nanti pada protes lambat lambat lambat.