
"Karena bunda mengucek mata pakai tangan bekas untuk makan sambal ... hiks." Gibran langsung tertawa, sedangkan Satya tersenyum kikuk.
"Haha, kasian banget si Ayah udah kepedean terbang tinggi ke langit jatuh deh langsung ke empang ikan lele terus di patil." Gibran menertawakan ayahnya tanpa perasaan kasihan, yang ada hanya perasaan senang karena melihat orangtuanya yang dekat. Gibran jadi ingin tahu tentang cerita cinta orangtuanya di masa muda dulu.
"Bunda jadi pengen makan pecel lele gara-gara kamu bilang ikan lele," ucap Ranti membuat Gibran dan Satya saling pandang dengan mulut sama-sama menganga.
"Bunda mau ikan lele?" tanya Satya dengan perasaan heran.
"Iya, emang kenapa?" Ranti malah balik bertanya.
"Bunda, kan, nggak suka sama ikan lele. Bukan nggak suka sih, tepatnya nggak doyan sama alergi." Gibran menyahuti, tapi kan Ranti hanya bilang ingin makan, bukan mau makan jadi Gibran sedikit lega.
"Tapi, bunda mau makan pecel lele sekarang juga." Air liur Ranti rasanya mau menetes kala membayangkan makanan yang tadi ia sebutkan.
"Ya udah, kalau mau makan pecel lele, ayo kita pergi keluar beli!" ajak Satya yang langsung dibalas anggukan oleh Ranti dengan sangat bersemangat.
"Oke, bunda siap-siap dulu, ya!" Ranti langsung pergi ke dapur untuk mencuci tangannya lalu pergi kamar untuk berganti pakaian juga mengambil uang dan tasnya. Setelah selesai, Ranti kembali ke ruang tengah dan segera mengajak suaminya pergi membeli pecel lele.
"Ayo, Yah!" ajaknya, dia menggandeng tangan Satya dengan posesif dan mesra seakan mereka pengantin baru.
Wajah Ranti dan Satya memang terlihat masih muda, bahkan jika mereka masuk kuliah pun mereka akan terlihat seumuran dengan anak-anak semester 3 atau 4 dan seterusnya. Entah apa rahasia mereka, namun itu memang benar adanya. Usia mereka memang tidak muda, tapi wajah mereka dan tubuh mereka sangat terjaga seperti anak muda.
Gibran menelisik penampilan Ranti dengan seksama. Tumben sekali bundanya itu berdandan dan memakai sebuah jepit rambut juga di kepalanya. Ranti terlihat sangat imut di mata Gibran dan juga Satya.
"Bunda imut," komentar Gibran sambil tersenyum lebar.
"Jelas, dong." Ranti menjawab dengan malu-malu, wajahnya memerah seperti buah tomat yang sudah masak.
__ADS_1
"Gibran, ayah sama bunda pergi dulu, ya! Ingat, dalam waktu satu bulan ini, jika kamu tidak memiliki wanita untuk kamu nikahi, maka bunda akan menjodohkan kamu dengan wanita pilihan bunda." Ranti memberi peringatan pada Gibran dengan sungguh-sungguh.
Masih sempat mengancam juga si Bunda. Gibran tersenyum hambar menatap punggung kedua orangtuanya yang sudah jauh.
"Gimana kalau gue menikah sama Jasmine saja?" tanya Gibran pada dirinya sendiri. Sesaat, Gibran terkekeh pelan lalu terdiam, memang Jasmine mau dengan Gibran? Gibran udah kepedean saja mau mengajak Jasmine menikah.
"Boleh juga sih menikah sama temannya bunga kenanga, cantik juga kalau-kalau dilihat dengan seksama si Jasmine itu." Gibran mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang yang akan dia perintahkan untuk mencaritahu latar belakang Jasmine dan keluarganya.
"Halo, Bos ada apa?" tanya orang di seberang sana.
"Cari tahu latar belakang gadis yang akan saya kirim fotonya pada kamu setelah saya mematikan telepon."
"Baik, Bos."
Gibran tidak menjawab lagi, dia segera mengakhiri panggilan dan mengirim foto Jasmine kepada orang suruhannya. Gibran sengaja tidak menyuruh Bayu karena Gibran tidak mau Bayu tahu tentang rencananya yang berniat untuk menikahi Jasmine.
***
"Jadi, kamu mau menikah dengan dia, Sayang?" Terlihat raut wajah bahagia dari orang yang duduk di berhadapan dengan Jasmine.
Jasmine hanya mengangguk lemah, tidak ada senyuman di bibirnya. Jasmine sudah lelah kehidupannya diusik oleh orang-orang yang tidak seharusnya membuat dia merasa tidak dihargai.
Apa demi membuat diri mereka bahagia, mereka telah mengorbankan kebahagiaan orang lain, bukan orang lain, melainkan anaknya sendiri.
"Jangan mau, Jasmine! Kamu sendiri yang mengatakan jika kamu tidak akan pernah mau menerima perjodohan itu, kenapa kamu malah merubah keputusan kamu?" Ridwan tampak tidak terima dengan keputusan Jasmine, laki-laki itu mengguncang bahu Jasmine dengan perasaan kasihan campur kecewa.
"Apa aku bisa menolaknya, Kak?" tanya Jasmine menatap mata kakaknya dengan tatapan sendu, terlihat jelas di matanya jika Jasmine tidak menginginkan ini semua. Namun, apa dia punya pilihan sekarang?
__ADS_1
Ridwan terdiam, beberapa detik kemudian, ditariknya tubuh sang adik ke dalam pelukannya. Ridwan mengusap punggung Jasmine dengan sayang, apakah di keluarga ini hanya dia yang sayang terhadap Jasmine? Lalu, bagaimana dengan ayah dan ibunya? Apakah mereka tidak menyayangi Jasmine?
"Ibu, Ridwan tidak akan membiarkan Jasmine menikah dengan orang pilihan ayah." Ridwan protes di depan kedua orangtuanya setelah dia mengantar Jasmine ke kamar dan menemani adiknya itu sampai tidur.
Ya, Sejak malam lalu, Jasmine memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya dan tidak peduli lagi tentang perasaannya sendiri. Mendengar cerita sang kakak tadi malam, membuat Jasmine merasa dirinya memang lebih baik menurut. Padahal, bukan itu yang Ridwan mau, tujuan Ridwan bercerita karena Ridwan ingin Jasmine tetap kokoh dalam pendiriannya. Namun, ternyata dia salah karena Jasmine malah mengambil keputusan yang berbanding terbalik dengan tujuannya.
"Selama Jasmine setuju, ibu tidak akan pernah peduli dengan protes darimu." Ayunda menatap putranya dengan tatapan kurang suka karena merasa putranya itu terlalu ikut campur urusannya.
"Apa hanya karena uang Ibu mau menukar kebahagian putri kandung Ibu sendiri?" Ridwan masih tidak bisa percaya jika ibunya lebih peduli dengan uang daripada perasaan anaknya.
Ayunda terkekeh mendengar ucapan putranya. "Tentu saja, di dunia ini semua bisa dibeli dengan uang, munafik jika orang lebih memilih perasaan daripada uang. Banyak di luar sana yang mengatakan jika, uang tidak lebih dari segala-galanya." Ayunda melempar tatapan sinis pada putranya itu.
"Itu semua memang benar, orang tidak akan pernah kenyang karena cinta. Karena manusia memakan makanan bukan makan cinta. Tapi, uang yang diperlukan tidak harus berlebihan seperti ini, Ibu." Jika ibunya punya satu alasan, maka Ridwan punya seribu alasan untuk membalasnya.
Kalau ingat dengan kata seribu alasan jadi ingat sama lagi dangdut yang satu ini.
Seribu alasan, setiap kali ku ajak jalan
Ada saja alasan, kau tolak aku dengan senyuman.
"Jasmine akan bahagia jika menikah dengan orang yang ayah pilihkan, Nak. Adik kamu itu pasti akan tercukupi hidupnya dan terjamin masa depannya," ucap Akbar meyakinkan Ridwan.
"Ayah aku ...."
***
Bersambung
__ADS_1