
Setelah itu, Satya menggendong tubuh istrinya lalu melemparkannya ke atas ranjang dan dengan cepat dia menindih tubuh istrinya yang menggoda.
Ranti merasa was-was dengan apa yang akan dilakukan suaminya dengan dirinya. Jujur saja, Ranti sedang tidak ingin melakukan hubungan itu dengan suaminya mengingat kedua putranya sedang dalam masalah serius, yang satu main sosor anak gadis orang yang satu uring-uringan tidak jelas.
"Ayah mau ngapain?" Ranti menutup mulut Satya dengan tangannya saat bibir suaminya itu monyong hendak mencium bibirnya.
"Mau bikin adik buat Gibran," ucap Satya setelah mengunci tangan Ranti di atas kepala.
"Jangan dong, Yah. Bunda capek mau istirahat." Ranti menolak dengan nada halus dan lemah. Dia benar-benar sedang tidak ingin meladeni keinginan suaminya yang hampir setiap malam menjadikan dia target tembakan meriam tempur.
"Bunda diam saja, biar ayah yang bekerja. Bunda tinggal menikmati sambil mengeluarkan suara kalau situasi sudah bahaya." Satya masih kekeh ingin melakukannya, meriamnya telah siap tempur dan akan sangat menyiksa jika tidak disalurkan.
__ADS_1
"Yah, meriamnya di suruh istirahat saja dulu, angan tiap hari digunakan untuk perang! Nanti loyo (lemas) terus nggak akan kerasa lagi tembakannya kalau dipakai perang tiap hari." Ranti mencoba memberikan alasan yang cukup masuk akal pada suaminya yang sudah menggerayangi tubuhnya yang masih sangat seksi itu.
"Ayah tidak peduli, Bun." Satya menyerang sang prajurit dengan ganas, sehingga jeritan seksi sang prajurit menggema di dalam kamar mereka yang terasa seperti kamar pengantin baru setiap harinya.
***
Jasmine dan Gibran hanya duduk berdua di ruang tamu karena Ranti meninggalkan mereka dan Bayu masih berada di taman belakang meratapi kesedihannya. Gibran mendapati Jasmine beberapa kali menguap dengan mata merah berair menandakan rasa kantuk yang berat.
"Kamu sudah mengantuk, Jasmine. Ayo ikut saya, saya akan mengantar kamu ke kamar tamu!" Gibran menarik tangan Jasmine dan membawanya ke kamar tamu yang telah dipersiapkan untuk Jasmine.
Gibran membuka kamar tamu secara perlahan, lalu mengajak Jasmine masuk ke dalam sana. Gibran melangkahkan kakinya cepat lalu menyuruh Jasmine untuk segera tidur.
__ADS_1
"Kamu tidurlah di sini, saya lihat mata kamu sudah tidak bisa dibuka. Tidur yang nyenyak, anggap saja kamar sendiri agar kamu nyaman di sini!" Gibran mengusap kepala Jasmine lalu mencium dahinya sekilas, jantung Gibran berdetak kencang saat melakukan hal itu, dia reflek melakukannya.
Jasmine yang sudah sangat mengantuk tidak terlalu menanggapi apa yang dilakukan Gibran terhadapnya. Jasmine hanya mengangguk lalu segera berbaring dan menarik selimut sampai di lehernya.
Tidak butuh waktu lama, gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya. Gibran tersenyum tampan lalu meninggalkan Jasmine di kamar untuk melihat Bayu yang masih berada di luar rumah.
Samar-samar, Gibran mendengar teriakan Bayu yang sudah seperti orang patah hati tingkat akut. Gibran mendengar Bayu mengumpat dan mengungkapkan rasa kecewa dari hatinya.
"Jadi, selama ini dia punya kekasih? Kenapa aku tidak pernah tahu?" Gibran sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar, ungkapan rasa patah hati dari mulut Bayu membuat Gibran tidak bisa menahan tawanya.
"Hahaha ... aku tidak mengira Bayu akan melakukan hal bodoh dengan berteriak-teriak tidak jelas malam-malam begini."
__ADS_1
***
Jangan lupa apa? Komen, dan like, pinter!