Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Tidak Setuju


__ADS_3

Mendengar perkataan Gia, banyak sekali respon yang ditunjukkan keluarganya. Di antara mereka ada yang setuju dan tidak setuju dengan acara itu dan tentu saja mereka memiliki alasan masing-masing.


"Lamaran? Siapa yang mau dengan gadis kecil dan pengacau sepertimu?" Gio tidak percaya walau dia tahu kalau mungkin saja yang melamar Gia adalah sahabatnya sendiri. Gio tidak akan setuju jika lamaran itu benar-benar terjadi.


"Aku bukan pengacau." Gia menatap tajam Gio dan melihat kedua tangannya kesal.


"Siapa yang mau menikahimu? Usia kamu masih sangat muda, Sayang." Ridwan menarik tangan Gia agar duduk di sebelah kanannya.


"Abang Han, Paman." Gia tersenyum manis sekali.


"Menikah itu bukan perkara yang sederhana dan bisa dilakukan seenaknya. Paman tahu mungkin pikiran kamu memang sudah dewasa dan siap menjadi ibu rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab. Tapi, maaf, Gia. Paman gak mengizinkan kamu menikah dalam waktu dekat ini. Usiamu baru berjalan ke angka delapan belas dan di dalam undang-undang pun kamu belum boleh melakukannya." Ridwan akan menjadi orang yang paling menentang jika hal itu terjadi. Biarkan dia dikatakan jahat karena dia melakukan itu untuk kebaikan keponakannya.


Gia terdiam beberapa detik untuk mencerna kalimat Ridwan. "Gia bisa bagi waktu, kok, Paman," ucapnya seakan meyakinkan Ridwan jika semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Gibran dan Jasmine mengangguk, mereka percaya dengan Gia yang bisa membagi waktu dan melupakan jika putri mereka masih terlalu muda untuk melakukan pernikahan.


"Bukan masalah itu, Sayang. Masa depan kamu masih panjang dan masih banyak hal yang bisa kamu lakukan selain menikah." Ridwan tetap akan teguh pada pendiriannya.


"Mama sama Papa setuju, kok, Paman. Iya, kan, Pa?" Gia menetap Gibran untuk meminta dukungan pada laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Iya, Kak. Aku gak keberatan kalau putriku mau menikah muda." Gibran tersenyum dan Gia sangat puas dengan dukungan papanya itu.


"Gadis muda sepertimu masih terlalu labil untuk membangun sebuah rumah tangga. Bukan hanya kamu dan Han yang menjalani, tetapi dua anggota keluarga pun akan terlibat, Sayang. Jangan berpikir karena orangtua Han bersikap baik maka semuanya juga akan baik, banyak sekali kasus di luar sana yang terjadi karena emosi yang masih sangat labil. Paman sangat yakin bahwa kamu pernah cemburu atau marah-marah karena masalah sepele dan berakibat saling marah-marah dan bermusuhan selama beberapa hari." Kalimat panjang lebar yang dikatakan Ridwan memang semuanya benar dan itu membuka mata hati beberapa orang yang berada di sana.


Sial, aku tidak berpikir sampai sejauh itu dan main setuju-setuju saja sama putriku.


Semua orang sekarang tidak bisa berpikir jernih tentang gadis di depan mereka yang sama sekali tidak memiliki rasa gugup.

__ADS_1


"Paman, Gia sudah yakin, kok." Gia bergelayut manja di lengan Ridwan berharap pamannya itu akan luluh.


"Sudahlah! Paman sekarang mau pulang saja." Ridwan melepaskan tangan Gia dan berdiri dengan sangat cepat lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga tanpa pamit karena dia merasa sedikit kesal dengan keponakan perempuannya.


Hei, Paman. Aku yang mau lamaran kenapa Paman yang repot? Gia tersenyum miris.


"Nenek juga gak setuju," ucap Ranti dengan penuh penekanan pada kalimatnya. Satya juga ikut tidak setuju karena memang belum waktunya cucunya itu menikah.


"Jika kamu mau melakukan acara lamaran minggu depan. Kakek tidak keberatan asal kamu menikah tiga atau empat tahun lagi," ucap Akbar tegas.


Gia harus apa sekarang?


.

__ADS_1


.


Maaf ya udah beberapa hari gak up. Aku sangat sibuk di RL sehingga gak ada waktu buat nulis walau sedikit. Ini aja pekerjaan masih numpuk dan masih banyak yang belum dikerjakan, mohon pengertiannya, ya?


__ADS_2