
Kesibukan di dalam mansion tersebut membuat Jasmine merasa sedikit jengah. Melihat banyak orang berlalu-lalang membuatnya merasa tidak nyaman. Mungkin, akan menyenangkan jika dirinya bisa melihat dengan jelas. Namun, melihat orang-orang hanya seperti bayangan saja membuat Jasmine merasa benar-benar terasingkan.
Ranti yang sibuk menyuapi Gio yang sudah sangat aktif itu sesekali mendebat Gio saat putranya tersebut tidak mau diam dan merangkak ke sana-sini sampai membuatnya merasa kesal juga.
"Gio kalau makan duduk diam di sini, jangan pergi terus! Bunda capek ngejar kamu, bunda udah tua Gio." Gio menatap Ranti dengan mata berkaca-kaca, ia langsung merangkak mendekati Jasmine lalu duduk di pangkuan wanita itu dengan posisi menghadap kakaknya, Gio memeluk perut Jasmine yang besar sambil menempelkan bagian wajah kanannya di sana.
"Ceritanya mau ngadu biar dibela sama kakak kamu, ya?" Ranti mendekati mereka, Gio tertawa memperlihatkan giginya yang baru tumbuh dua.
"Bunda perut aku kok bagian bawah kencang gitu kenapa, ya?" Jasmine mengusap bagian lain perutnya yang tidak tertutup badan Gio.
"Usia kandungan kamu 36 minggu, kan, Sayang?" tanya Ranti, seingatnya usia kandungan Jasmine sekitar itu.
"Iya, Bun. 36 jalan ke 37," jawab Jasmine sambil mengangguk.
__ADS_1
"Waduh, jangan-jangan kamu mau melahirkan sekarang." Ranti langsung berdiri kemudian berlari ke dapur untuk meletakkan makanan Gio yang hanya tinggal sedikit.
"Gio turun sini, kaki kakak sakit." Jasmine mengangkat tubuh Gio lalu meletakkannya di samping tubuhnya.
"Aduh, sakit." Kontraksi palsu mulai Jasmine rasakan, rasanya sangat nikmat seperti semua tulangnya mau dipatahkan secara paksa.
Ranti yang sudah kembali dari dapur melihat Jasmine merintih merasa kasihan. Ia mendekati Jasmine lalu mengusap perut menantunya itu dengan lembut.
"Jasmine, kamu tunggu di sini dulu, ya! Bunda mau panggil suami kamu biar bawa kamu ke rumah sakit." Jasmine hanya mengangguk lemah, perutnya kini sudah tidak lagi merasa sakit. Jasmine mengatur napasnya berulang-ulang untuk menenangkan diri.
"Sayang, kamu bawa istri kamu ke rumah sakit sekarang!" perintah Ranti ketika sudah masuk kamar.
"Loh, kenapa anak itu. Tadi masih di sini sekarang kok nggak ada?" Ranti mencari Gibran ke toilet, ke dalam almari juga namun anaknya itu tidak ada. Ranti yang panik lama-lama kesal juga, ia keluar dari kamar kemudian masuk ke kamarnya sendiri untuk meminta bantuan suaminya.
__ADS_1
Ranti langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Wanita itu berjalan cepat membangunkan suaminya yang tidur sambil memeluk guling di atas ranjang.
"Yah, bangun dong! Antar Jasmine ke rumah sakit, dia kontraksi mau melahirkan." Ranti mengguncang tubuh suaminya dengan tidak sabar. Satya hanya mengulet dan tidak mau bangun.
Jasmine yang berada di bawah mulai merintih lagi ketika perutnya kembali merasa sakit. Namun, wanita itu sempat tersenyum saat melihat wajah panik Gio yang seakan paham jika dirinya sedang kesakitan. Anak kecil itu mengusap perut Jasmine sambil sesekali menciumnya, matanya juga sering menatap wajah Jasmine seakan ingin melihat apakah kakaknya itu masih kesakitan atau tidak.
"Lela, ke sini kamu!" pinta Jasmine pada salah satu pelayan.
"Ya Nyonya, ada apa?" tanya Lela sambil berjalan mendekat.
Jasmine menyuruh Lela berjongkok kemudian membisikkan sesuatu pada pelayan wanita tersebut.
Sedangkan saat yang lain sedang panik, Gibran ternyata malah tidur di kolong tempat tidur karena lelah tadi malam tidak tidur karena keadaan mansion yang ramai.
__ADS_1
***
Bersambung ...