Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Tanda Merah


__ADS_3

Enam bulan telah berlalu, duka kehilangan itu masih ada sampai sekarang, banyak hal yang berubah setelah kepergian Gilang. Cuaca yang cerah tetapi tidak panas mengantarkan langkah gadis cantik yang kini terlihat lebih dewasa dan tetap ceria walau kesedihan dalam jiwanya kerap kali membuatnya tersiksa. Gadis itu berjongkok, mengusap lembut nisan bertuliskan nama koko-nya yang telah bahagia di alam sana. "Siang, Ko. Gia rindu, sudah dua minggu tidak datang karena menemani Abang Gavin di Singapura." Gadis itu adalah Gia.


Gia memejamkan mata, sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak mengalir. Setiap kali datang ke makam koko-nya, kerinduan itu semakin bertambah. "Ko, Gia rindu." Suaranya tercekat di tenggorokan. Semilir angin di pemakaman membuat daun-daun kering di dahan mulai berjatuhan, Gia merasakan ada seseorang yang memeluknya, berbisik kalau dia juga merindukannya, dan meminta untuk selalu menjadi Gia yang ceria dan tidak bersedih lagi.


Gia membuka mata, menatap ke sekeliling tetapi tidak ada orang sama sekali. "Kok jadi serem gini sih?" Gia buru-buru berdoa, menaburkan bunga di makam koko-nya dan berlari karena merinding.


Setelah dari makam Gilang, Gia pergi ke rumah Han karena Naira memintanya untuk datang. Kebetulan dia sudah selesai kuliah sehingga memiliki waktu luang ke rumah kekasihnya itu. Hubungan Gia dan Han masih sama seperti dulu, selalu ada perdebatan dan tingkah yang lucu. Sesampainya di rumah Han, Gia mengetuk pintu dan terlihatlah seorang wanita cantik seumuran dengan Han, memakai piyama tidur dan sedikit berantakan. Gia bisa melihat dengan jelas tanda merah di leher dan tulang selangka wanita itu.


Gia tidak terlalu ingin tahu siapa wanita itu, sehingga dia tersenyum manis dan menyapa wanita itu dengan sangat ramah. "Selamat siang," Gia tersenyum.

__ADS_1


"Siang juga, kamu siapa?" ucap wanita itu dengan sangat ketus.


"Saya, Gia," jawab Gia masih ramah, walau wanita itu seperti tidak suka dengan dirinya.


"Kamu ke sini pasti mau ketemu sama Mama Naira?" tanya wanita itu masih sangat ketus.


"Iya, mama ada di rumah?" Gia masih tersenyum ramah.


Beberapa menit kemudian, Naira turun dari lantai dua dan menemui Gia yang sangat dia rindukan. "Sayang, mama rindu." Naira langsung memeluk Gia erat, menumpahkan segala kerinduannya.

__ADS_1


"Gia juga rindu sama, Mama. Bang Han gak di rumah?" Gia juga merindukan kekasihnya yang menyebalkan itu.


"Ada di kamar, masih tidur dia. Capek katanya," jawab Naira dengan senyum yang ramah.


"Capek ngapain, Ma?" Gia penasaran.


"Biasalah, kalau di kamar pasti kamu tahu maksud mama." Perasaan Gia menjadi tidak nyaman, mungkinkah wanita tadi dan Han ... ah, Gia tidak mau memikirkan hal itu.


"Mama memintaku datang ke sini mau apa?" tanyanya dengan lirih, entah kenapa dadanya terasa sesak ketika ingat dengan perkataan Naira baru saja.

__ADS_1


"Mama hanya merindukan kamu." Naira tersenyum, mencubit pipi Gia dengan sangat gemas.


"Gia boleh lihat Bang Han gak, Ma?" Entah kenapa Gia sangat ingin melihat Han dan memastikan kalau pikirannya saat ini tidak benar. Dia hanya takut kalau wanita itu dan Han ada hubungan spesial, bahkan tanda merah pada wanita tadi membuat pikiran Gia kacau dan sakit hati.


__ADS_2