
Karena ada kesempatan untuk main bersama, Gio, Gia, Gilang, dan Gavin atau 4G —kok sama saja jaringan sinyal ponsel ya— pergi ke sebuah tempat latihan pacuan kuda. Di sana mereka juga bisa belajar memanah sehingga ketika mereka melakukannya mungkin akan terlihat seperti di drama-drama kekaisaran.
Ketika mereka sedang memilih kuda untuk dinaiki. Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka untuk beberapa saat.
"Hai istri, kita bertemu di sini." Gia langsung menoleh ke sumber suara dan memutar bola matanya malas ketika melihat si pemilik suara itu.
Gio tertawa kecil mendengar sahabatnya menyebut Gia sebagai istri. Terlebih wajah Gia yang kesal itu terlihat sangat lucu di mata Gio.
...Satu jam yang lalu. ...
Gilang, Gavin, Gio, dan Gia merasa bosan hanya berdiam diri di rumah.
"Main kuda, yuk!" ajak Gia dengan sangat antusias.
"Boleh juga, aku mau siap-siap dulu." Gavin langsung berlari menuju kamarnya.
"Aku juga." Gilang menyusul Gavin ke kamar.
Gia pun melakukan hal yang sama. Ketika tiga keponakannya sudah pergi, Gio langsung mengirim pesan pada Han.
^^^Han, nanti datang ke tempat pacuan kuda seperti biasanya. Gue sama tiga keponakan mau ke sana. ^^^
Oke, siap. Aku juga udah kangen sama istri masa depan.
^^^Idih, najis. ^^^
Kurang ajar! Makasih informasi-nya.
^^^Oke siap, jangan lupa datang! ^^^
Oke.
Gio tertawa ketika ingat kalau dirinya yang sengaja menyuruh Han untuk datang.
"Siapa Lo manggil-manggil anak perawan istri?" Gia menatap tajam si pemilik suara yang tidak lain adalah Han.
"Suami, Lo. Lo lupa kalau satu minggu yang lalu kita sudah kawin?" Gavin dan Gilang yang tidak tahu apa-apa saling bertukar pandang sambil mengangkat bahunya masing-masing.
"Amit-amit jabang janin, jangan sampai aku nikah sama orang yang kamu."
"Cie kamu," ucap Han terkekeh menggoda Gia.
"Kamu siapa?" tanya Gilang yang sama sekali tidak mengenal Han.
"Dia Han-tu dari pemakaman jeruk mandarin, Ko," jawab Gia cepat sebelum Han menjawabnya.
"Kenalin Koko Gilang, aku Handian. Suami masa depan adik kamu yang comel." Han menyentuh dagu Gia dan langsung tertawa keras menahan sakit ketika tangannya digigit gadis itu.
__ADS_1
Gilang mengangguk, Gavin bodoh amat, dan Gio tertawa melihat tangan sahabatnya itu digigit vampir cantik.
Gavin, Gio, dan Gilang meninggalkan mereka berdua dan mulai memacu kuda dan melakukan balapan, sedangkan Gia yang ditinggal kini hanya berdua dengan Han-tu dengan wajah tampan itu.
Gia menatap kepergian saudaranya dengan wajah yang sedikit kesal dan sengaja menjejakkan kakinya kuat-kuat di lantai untuk melampiaskan kekesalannya.
Han tersenyum penuh kemenangan ketika Gia ditinggalkan. Han berdiri di belakang gadis itu dan sedikit membungkuk lalu berkata. "Istri, ayo kita taruhan!" ajaknya dengan suara yang seksi, membuat tubuh Gia meremang seketika.
"Taruhan apa?" Gia maju satu langkah kemudian berbalik dan berhadapan dengan Han.
"Kita lomba pacuan kuda, kalau kamu kalah. Kamu harus mau jadi pacar aku dan kalau aku yang kalah. Aku akan jadi pelayan kamu selama satu bulan, bagaimana?" Huh! Taruhan macam apa itu, Gia tidak setuju. Enak saja jadi pacar, lihat mukanya saja muak apalagi berhubungan.
"Ogah, najong tralala. Mending gua jadi jomblo seumur jagung daripada jadi pacar, Lo." Gia berjalan meninggalkan Han.
"Oke, pelayan selama satu tahun dan pacaran selama tiga bulan. Bagaimana?" Gia langsung berbalik dan berjalan ke arah Han.
"Satu tahun?" tanya Gia dengan senyum licik di wajahnya.
"Iya, Lo setuju?"
"Gimana kalau yang kalah harus mengiyakan semua kemauan yang menang selama satu tahun?" Penawaran yang sangat menarik tentunya.
"Oke, gue setuju. Jadi, bisa kita mulai lombanya istri?" Gia memukul dada Han ketika lagi-lagi Han memanggilnya istri.
"Kita jadikan mereka sebagai saksi," ucap Gia seraya menunjuk tiga G.
Gia memanggil mereka bertiga dan menjelaskan tentang taruhan yang dia buat dengan Han.
Tiga G mengangguk dan menyetujui untuk menjadi saksi. Dalam hati mereka saat ini tertawa karena yakin jika Gia akan kalah dan menyesal karena telah membuat taruhannya seperti itu.
Gia dan Han saat ini sudah berada di atas kuda masing-masing dan memegang taki kekangnya. Gia menoleh ke arah Han dengan senyum meremehkan.
"Siap-siap bilang iya selama satu tahun ke gue!" ucap Gia angkuh.
"Siap Istri." Dalam hati Han bahagia karena dia yakin kalau dirinya akan menang. Penawaran Gia sangat menggiurkan dan dia akan menjadikan cara ini untuk memiliki Gia sepenuhnya.
"Satu ... dua ... mulai!" teriak Gio dengan cukup keras.
Han dan Gia pun langsung memacu kudanya dengan sangat cepat. Mereka sudah seperti sekarang panglima perang yang melawan musuh bersama.
"Gue yakin kalau Gia akan menyesal," ucap Gilang seraya menatap Han dan Gia.
"Tenang saja, Han laki-laki yang baik. Dia akan menjaga Gia dan tidak akan pernah melukainya," ucap Gio dengan senyum yang tulus.
Gavin dan Gilang mengangguk, mereka berharap Gia akan mendapat laki-laki yang baik walau saat ini masih jauh untuk memikirkan tentang hal itu.
Lima menit berlalu, posisi Gia jauh di depan Han. Han hanya tersenyum tipis karena dia memang sengaja tidak langsung ke depan.
__ADS_1
Hahaha, gue tahu kalau akan menang. Gue akan membuat Han menderita dan ilfeel sama gue.
Ketika mereka hampir mencapai finish, Han memacu kudanya lebih cepat dan. Yes ... Han menang taruhan.
Gia melongo, dia tidak percaya kalau dia kalah dengan sangat mudahnya. Rencana untuk membuat Han menderita malah pupus sudah.
Han turun dari kudanya dan membantu Gia untuk turun. Gia memasang wajah kecewa dan kesal.
"Selamat, gue kalah. Gue siap mengatakan iya selama satu tahun." Han mengangguk dan mengacak-acak rambut Gia dengan gemas.
Tiga G bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada Han.
"Selamat, Bro!" Han tersenyum puas dan melirik Gia yang kesal.
"Gue mau bawa Gia ke rumah boleh." Han meminta izin pada mereka.
"Boleh, tapi jangan macam-macam sama adik gue!" ucap Gavin menatap tajam Han.
"Tenang saja, gue cuma buat satu macam kok." Han langsung menarik tangan Gia dan membawanya berlari sebelum tiga G mengamuk.
...***...
"Gue mau Lo jadi pacar gue," ucap Han ketika sampai di parkiran.
"Ogah, najong tralalahmmp ...." Mulut Gia dibekap tangan Han yang besar.
"Lo harus bilang iya ke gue. Jangan lupa!" ucap Han dengan senyum liciknya.
"Aaaakhh, gue benci banget sama, Lo. Ngeselin banget sih jadi orang!" Gia memukuli dada Han dengan sangat kesal.
Han tertawa dan memasangkan helm di kepala Gia. "Ingat, sekarang gue pacar, Lo." Han naik ke motornya.
"Ayo naik!" Gia mencubit kedua pipi Han dengan keras kemudian naik ke motor laki-laki itu.
"Peluk kalau gak mau jatuh!" perintah Han lembut.
"Gak mau!" jawab Gia ketus.
"Bilang iya!" Han memperingatkan Gia.
"Iya-iya. Gue peluk, puas?" Gia melingkarkan tangannya di perut Han. Jantung Gia berdetak dengan sangat cepat karena baru pertama kali dia memeluk laki-laki yang bukan keluarganya dengan pelukan yang disengaja.
Jangan jatuh cinta, jangan jatuh cinta! batin Gia.
Han terkekeh melihat Gia yang sama sekali tidak ikhlas. Han pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah Han.
***
__ADS_1
Bersambung ...