Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 39


__ADS_3

Satya dan Ranti pun menjenguk Bayu di kamarnya, saat mereka masuk ternyata Bayu sudah tidur, Ranti tidak ingin mangganggu tidur Bayu, alhasil ia hanya mengusap kepala Bayu lalu meninggalkan ciuman di dahinya.


"Ayah, ayo kita keluar saja!" ajak Ranti, ia melingkarkan tangannya di lengan Satya dan mereka pun keluar dari kamar Bayu.


Ranti dan Satya kembali ke kamar mereka, Ranti sudah melupakan kejadian yang marah dengan suaminya tadi. Ia sekarang tidur berbaring dan Satya memeluknya.


"Maaf, Yah. Kaki Ayah jadi terluka gara-gara bunda." Ranti meminta maaf dengan tulus.


"Aku rapopo, Bun. Sudah biasa," jawab Satya sambil tersenyum.


"Yah, bunda ingin dalam waktu dua bulan ini Gibran menikah," ucap Ranti, ia merubah posisi tidurnya menjadi miring sehingga berhadapan dengan Satya.


"Kita carikan jodoh yang cocok untuk dia, Bun. Ayah akan memaksa dia menikah jika dia terus menolaknya." Satya setuju dengan ucapan Ranti, dia akan mencarikan jodoh yang cocok untuk Gibran, yang bisa melayani Gibran lahir dan juga batin.


"Iya, Yah. Bunda setuju."


"Kita tidur sekarang, pikirkan ini besok lagi!" Satya menarik tubuh istrinya agar lebih dekat, sehingga ia bisa memeluk istrinya dengan nyaman.


***


Satu minggu telah berlalu, hari ini Gibran akan menghadiri pesta pernikahan temannya Azril bersama dengan Bayu dan juga Jasmine yang beberapa hari lalu ia minta untuk menemaninya sebagai pasangannya.


Kondisi Bayu pulih lebih cepat dari perkiraan dokter, bahkan sekarang Bayu terlihat sudah sangat sehat seperti sebelum mengalami kecelakaan.


Saat ini, mereka ber tiga sudah berada di dalam mobil menuju gedung tempat Azril mengadakan pesta.


Bayu duduk di belakang kursi pengemudi sedangkan Gibran dan Jasmine duduk manis di belakang.


"Ingat, Jasmine! Di sana kamu hadir sebagai pasangan saya," ucap Gibran, ia melirik pada Jasmine yang diam membisu dan terlihat kesal.


"Nanti saya di saya mau pura-pura lupa, Tuan," jawab Jasmine menoleh pada Gibran.


"Kamu jangan memancing emosi saja, Jasmine!" Gibran sedikit meninggikan suaranya, karena ia lelah setiap kali bertemu dengan bunga melati semuanya indah selalu saja berdebat.


"Mana ada aku mancing emosi kamu, Tuan. Yang ada mancing itu di kali, mancing ikan di kasih makan t** haha ...." Dengan santainya Jasmine bicara sesantai itu.


"Jorok ih kamu, jadi cewe itu harus jaga imeg Jasmine, bukan seperti kamu yang bar-bar seperti ini." Gibran menepuk kepala Jasmine dan menatap Jasmine dengan tatapan yang ia buat iba. Kurang ajar sekali dia, me mengejek wanita cantik seperti Jasmine.


"Apa adanya itu lebih baik, Tuan. Karena kita bisa tahu mana yang tulus dan mana yang tidak jika kita apa adanya seperti ini," jawab Jasmine sambil menepis tangan Gibran yang sekarang asik bermain rambutnya.

__ADS_1


"Jasmine," panggil Gibran lirih namun tegas.


"Apose, Mas?" Jasmine terkekeh sendiri memanggil Gibran dengan panggilan mas.


"Mas-mas-" Belum sempat Gibran menyelesaikan ucapannya, Bayu dan Jasmine sudah memotongnya.


"Masuk Pak Eko," potong Bayu dan Gibran secara bersamaan, keduanya terkekeh saat melihat mulut Gibran melongo karena ucapan mereka tadi.


"Apanya yang masuk?" tanya Gibran setelah beberapa saat.


"Anuan, Tuan." Jasmine menjawab ambigu.


"Anuan apa?"


"Itu-an."


"Gak jelas banget kalian berdua," ucap Gibran menatap Jasmine dan Bayu bergantian.


"Soalnya kalau kita dekat dengan kamu, kita memang menjadi tidak jelas karena harus meladeni orang aneh." Jasmine berkata dengan lancar, selancar-lancarnya seperti orang main selancar di pantai.


"Yang aneh itu, kamu," ucap Gibran, ia tidak terima dikatakan orang sebagai orang aneh.


"Ok." Sangat, itulah jawaban Putri Jasmine yang terhormat.


Saya tidak dianggap keberadaannya di sini, nasib-nasib atau memang nasib buruk, hadeh!


Bayu sekarang menjadi gegana (gelisah galau merana) seperti lirik lagu saja, sakitnya tuh di sini.


"Ya, Tuan?" jawab Jasmine cepat.


"Kamu kan tadi datang ke rumah saya tidak dijemput, jadi nanti pulang naik ojek saja, ya!" pinta Gibran serius.


"Wah-wah, parah nih. Tipe-tipe laki-laki tidak punya rasa tanggung jawab yang tinggi." Jasmine berdecak dan berkacak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya, biarkan saja. Kamu kan bukan siapa-siapa saya, jadi saya tidak perlu memperlakukan kamu secara istimewa." Gibran melirik Jasmine yang masih berkacak pinggang. Gibran memainkan ponsel miliknya untuk mengusir rasa bosannya.


"Kalau begitu, Kak Bayu turunkan saya di depan sana. Saya tidak mau menemani bos kamu ke acara pernikahan teman bos kamu. Kalau kamu tidak berhenti, maka saya akan melompat dari mobil ini setelah mobil ini berhenti," punya Jasmine pada Bayu.


"Ya sudah, silakan saja lompat biar jadi kodok ngorek-kodok ngorek, ngorek di pinggir kali," ucap Gibran dengan nada dingin, tapi hangat.

__ADS_1


(Dingin tapi hangat, kepiye kui kok mumeti? 🤔)


"teyot teblung, teyot teblung ,teyot teyot teblung." Jasmine melanjutkan ucapan Gibran.


"Astaghfirullah robbal baroya, astaghfirullah minal khotoya."


Bayu hanya bisa beristighfar menghadapi dua orang yang duduk di belakangnya.


"Aamiin ya Allah ... aamiin ya Allah ... aamiin ya Allah ... rabbal 'alamin?" Bayu dan Jasmine kompak meneruskan salawat Bayu.


"Bayu, berhenti di sini!" pinta Jasmine setelah ia sadar kalau ia saat ini sedang marah dan tidak mau menemani Gibran ke acara pernikahan temannya.


"Oh, tidak bisa." Bayu menolak untuk turun karena takut dengan Gibran.


"Bayu, berhenti!" Jasmine menarik-narik kerah kemeja Bayu agar Bayu mau berhenti.


"Jangan nodai saya, Nona. Saya masih perjaka," ucap Bayu seakan-akan dia akan diperkosa.


"Pfft, bwahahaha ...." Gibran tertawa mendengar ucapan Bayu yang ngawur. Bayu memang sebelah dua belas dengannya. Sama-sama tampan, koplak, dan somplak, untungnya Bayu lebih waras dan bisa mengendalikan diri lebih baik dari Gibran.


"Ra oleh perawane, tak enteni randane," ( Tidak dapat perawannya, ditunggu jandanya.) ucap Gibran menimpali Bayu.


Jasmine melongo mendengar ucapan Bayu dan Gibran. Jasmine benar-benar pusing jika berhadapan dengan dua makhluk astral yang berada di dekatnya itu.


Rencana jalan berdua dengan Dokter Adit batal karena permintaan Gibran yang meminta ia untuk menemani Gibran ke pesta pernikahan Azril.


Andaikan tahu akan jadi seperti ini, pasti Jasmine lebih memilih jalan dengan pria yang ia kagumi. Tapi, ancaman Gibran membuat ia mau tidak mau harus mau.


"Bayu, berhenti!" teriak Jasmine yang sudah tidak betah tinggal di dalam mobil mewah tersebut.


"Maaf, saya menolaknya," jawab Bayu.


Tanpa pikir panjang, Jasmine menarik telinga Bayu dengan sangat kasar sehingga dengan terpaksa Bayu menghentikan mobilnya.


"Aaa ... Nona, tolong lepaskan telinga saya!" pinta Bayu setelah mobil berhenti.


"Aaa ... Tuan Gibran, lepaskan telinga saya! Saya mau turun dari mobil sekarang juga!" pinta Jasmine yang dijewer oleh Gibran.


Daebak, aksi tarik-menarik telinga pun terjadi dengan sangat menyakitkan di dalam mobil.

__ADS_1


***


Pusing pala barbie authornya. Nggak bisa mikir koplak lagi, mikirnya kolak pisang.


__ADS_2