
Semua anggota keluarga besar Gibran telah berkumpul di rumah. Duka terlihat jelas di wajah mereka, keceriaan dalam rumah itu telah lenyap dengan berkurangnya satu anggota keluarga yang sangat mereka sayangi. Cuaca yang mendung, keramaian dalam kesunyian, kini memenuhi rumah itu.
Jenazah Gilang sudah dibawa pulang, sepuluh menit lagi akan segera dimakamkan. Gia terus berada di samping keranda Gilang sambil membaca Yasin dengan pilu, ikhlas tidak ikhlas, suka tidak suka, dia harus menerima dengan lapang dada.
Nenek dan Kakeknya pun merasakan kesedihan yang sama. Mereka terluka karena Gilang harus meninggalkan mereka lebih dulu, tetapi takdir Tuhan memang tidak bisa untuk disalahkan, semua ini adalah yang terbaik dari yang paling baik.
Jasmine melakukan hal yang sama dengan Gia, kalau saja boleh bertukar nyawa, dia ingin nyawanya ditukar dengan nyawa Gilang, tubuhnya masih sedikit lemas, tetapi dia tidak mau meninggalkan Gilang walau sebentar.
Gavin yang masih menyalahkan dirinya sendiri, dia memilih mengurung diri di kamar Gilang seraya memeluk guling yang melekat aroma tubuh saudara kembarnya itu.
Gio bisa lebih ikhlas, walau hatinya sangat sakit dan hancur. Dia tidak akan pernah melupakan Gilang dan berjanji akan menjaga adik-adik Gilang seperti adiknya sendiri, dia bersumpah akan meneruskan keinginan Gilang yang belum terpenuhi.
Gibran, laki-laki itu menenangkan keluarganya dan memberikan pengertian untuk tidak terus menangisi Gilang karena itu akan membuat arwah Gilang sedih.
__ADS_1
Kini, sudah waktunya mereka pergi ke pemakaman. Gia bergandengan dengan Han yang sengaja datang dengan Naira, sedangkan Jasmine berjalan sambil memeluk papanya, Gibran ikut menjadi orang yang membawa keranda, Gio pun sama.
Sesampainya di pemakaman, dengan segera jenazah Gilang akan dikubur. Gio, Satya, dan Gibran ikut masuk ke liang lahat, Gia dan Jasmine melihat wajah Gilang untuk terakhir kalinya. Acara itu butuh waktu sekitar dua puluh menit sampai selesai.
Setelah didoakan, para pelayat satu per satu mulai meninggalkan pemakaman dan kini yang tersisa hanya anggota keluarga saja.
Gia masih terus membaca surah Al-Quran untuk Gilang. Setelah selesai, dia masih tetap ingin tinggal di sana. Tangan kanan Gia mengusap lembut nisan Gilang dan berbicara seolah-olah ada Gilang di sana.
Mama janji akan sering ke sini, Sayang. Mama doakan semoga kamu bahagia di sana, tunggu mama, ya!
Jasmine hanya bisa membatin karena mulutnya seakan di lem tidak bisa bicara. Satya dan Ranti sudah pulang duluan karena kesehatan mereka sedang kurang baik.
Kabar duka ini sudah sampai di telinga keluarga Syala. Mereka sangat sedih mendengar kabar itu, yang membuat kesedihan mereka berkali-kali lipat adalah, hari meninggalnya Gilang bersamaan dengan hari di mana Syala meninggal dunia karena penyakit kankernya.
__ADS_1
Mungkin inilah yang terbaik untuk kisah mereka yang tidak bisa bersama di dunia. Rencana Tuhan jauh lebih indah dengan cara-Nya yang tidak pernah terduga. Sebagai manusia, Gilang dan Syala hanya bisa menerima semuanya dengan ikhlas, bahkan mereka harus meninggalkan keluarga dan yang lain hanya untuk mengejar kebahagiaan dari Tuhan.
Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet. Cinta suci dan tulus mereka akan abadi lewat kematian.
.
.
.
Bersambung ..
Kalau ada yang gak suka Gilang meninggal juga tidak apa-apa. Tapi, memang kisah Gilang berakhir seperti ini, jika dia tetap hidup, dia akan menderita.
__ADS_1