
Oe ... oe ... Gio langsung menangis saat puti*g susu ibunya terlepas. Gibran tersenyum senang karena berhasil menganggu adiknya, sedangkan Ranti langsung memasukkan lagi puti*g susunya ke mulut Gio sampai anaknya itu kembali diam dan menyedot ASI-nya dengan sesenggukan.
"Kamu itu udah besar masih suka gangguin adik kamu," omel Satya lalu dia menyusul duduk di samping istrinya dan tangannya usil melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Gibran tadi.
Tangisan Gio kembali pecah saat acara menyusunya diganggu sang ayah. Gibran berdecak kesal karena mendapat omelan tapi ayahnya melakukan hal yang sama dengan dirinya, sedangkan Ranti hanya bisa mengembuskan napas lelah melihat tingkah dua laki-laki yang sangat usil itu.
"Ngomelin aku, nggak tahunya Ayah juga usil." Gibran mengusap kepala adiknya yang gundul karena rambutnya telah dipotong lalu menciumnya.
"Ayah kamu iri sama kamu itu, Dik," bisik Gibran pada adiknya yang bisa didengar Ranti dan Ranti pun tertawa dibuatnya.
"Haha ... salah ayah kamu itu, Sayang. Kalau ayah kamu nggak bikin bunda punya anak lagi kan ayah bisa puas menyus* sama bunda, tapi sekarang udah jadi milik Gio seorang." Ranti berdiri menimang-nimang Gio yang sudah tidak mau menyusu karena mungkin sudah malas diganggu ayah dan kakaknya sehingga Gio hanya bisa menangis.
"Kalau siang Bunda milik Gio, tapi kalau malam Bunda milik ayah." Satya berdiri memeluk istrinya dari belakang sambil tangannya usil menganggu anak bungsunya.
"Siang malam bunda cuma milik Gio seorang," ucap Ranti dengan kesal karena suaminya itu malah membuat putranya semakin menangis kencang.
"Bun, doakan aku biar segera punya anak. Minggu depan aku mau ke Paris sama Jasmine buat bulan madu," ucap Gibran, tangannya kembali mengambil alih Gio dari gendongan bundanya.
Ranti memberikan Gio pada Gibran dengan hati-hati lalu menciumi pipi gembul anaknya itu dengan sayang. "Iya, bunda doakan semoga kamu sama Jasmine diberi momongan dengan segera, biar jadi teman buat adik kamu juga." Tangan Ranti mengusap bahu Gibran sambil tersenyum manis.
"Aaa ... sakit, Bunda," rengek Satya saat miliknya dicubit dengan keras oleh istrinya. Ranti melakukan itu bukan tanpa sebab, dia melakukannya karena suaminya itu benar-benar tidak tahu malu menciumi lehernya dan di depan kedua putra mereka.
Gibran hanya tersenyum tipis karena setiap malam dia juga sering melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Hanya saja, Gibran tidak pernah sampai memasuki gua istrinya yang belum siap mengeluarkan lava.
"Aamiin, Bun. Gibran bawa Gio ke kamar Gibran aja deh, Bun. Daripada dia nangis di sini." Gibran segera keluar dengan kembali membawa adiknya bersama. Saat baru keluar dari kamar Gio, Gibran berpapasan dengan istrinya di sana.
"Tinggal kita berdua di kamar, enaknya ngapain, Bun?" Ranti kembali memeluk istrinya dengan erat dan mengangkat tubuhnya lalu dia jatuhkan dan langsung dia tindih tubuh istrinya itu saat sudah jatuh telentang di atas ranjang.
"Bunda nggak mau macam-macam, Yah. Masih capek, mending istirahat sebentar mumpung Gio sama kakaknya." Ranti menarik rambut Satya karena suaminya itu tidak mau mendengarkan ucapannya dan kepala suaminya sudah terbenam di dadanya bahkan Satya saat ini sedang menghisap ASI milik Gio.
"Ah ... Sayang. Kamu nggak boleh minum ASI milik Gio." Ranti mendorong dada suaminya.
__ADS_1
"Cuma icip doang, Bun." Satya tersenyum menyudahi aktivitasnya, karena dia hanya berniat menganggu istrinya saja.
...***...
"Kamu dari mana?" Gibran menatap mata istrinya saat mereka berpapasan di depan kamar Gio dan orangtuanya.
"Dari dapur, tadi aku nyariin kamu sama Gio, Mas. Tapi, kalian nggak ada di kamar, makannya aku mau cek ke kamar Gio ... eh malah ketemu kamu di sini," jawab Jasmine jujur. Dia menatap Gio yang masih menangis di gendongan suaminya.
"Ayah sama bunda kan udah pulang, kok Gio masih sama kamu?" Jasmine mengikuti Gibran yang berjalan turun ke lantai satu bersama dengan Gio.
"Mereka lagi mau bikin adik untuk Gio." Gibran menjawab dengan asal, dan parahnya istrinya itu percaya saja dengan apa yang dia katakan. Gibran duduk di ayunan kursi yang berada di ruang tengah dekat dengan ruangan keluarga.
"Hihi, jarak usia kamu sama adik kamu jauh banget lho, Mas." Jasmine tidak ikut duduk di ayunan kursi itu, dia lebih memilih untuk berdiri sambil memerhatikan kedekatan dan ketelatenan Gibran menjaga adiknya yang masih bayi.
Jasmine merasa sudah sangat siap menjadi seorang ibu saat melihat suaminya juga sudah pantas menjadi seorang ayah. "Minggu depan kita jadi pergi?" Jasmine bertanya dengan ragu.
"Iya, kita bulan madu ke Paris." Gibran menatap istrinya sambil tersenyum. Mendengar jawaban Gibran, Jasmine langsung melompat kegirangan.
"Asik, ke Paris." Jasmine ikut duduk di kursi ayunan dan mencium pipi suaminya sebagai tanda terima kasih.
"Suka banget, Sayang." Jasmine menyandarkan kepalanya di bahu Gibran. Potret mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia dengan bayi gembul dan menggemaskan yang berstatus sebagai adik mereka.
Author yakin, jika ada orang yang tidak tahu Gio adalah adik mereka pasti mereka akan mengira jika Gio adalah anak mereka berdua.
...***...
Satu minggu berlalu, besok Gibran dan Jasmine akan berangkat ke Paris untuk bulan madu. Hari ini, Gibran dan Jasmine memutuskan untuk tidak bekerja dan berdiam diri di rumah sambil menyiapkan barang bawaan mereka.
Setelah semuanya selesai, seperti biasa. Jasmine dan Gibran akan bermain dengan Gio selagi kedua orangtuanya sibuk. Saat ini, Satya, Gibran, Ranti, dan Jasmine sedang duduk bersantai di taman belakang untuk menikmati waktu sore yang indah.
Gio berada di gendongan Satya, karena istri dan menantunya sedang sibuk mengobrol tentang urusan wanita. "Gibran, adik kamu mirip sama ayah apa mirip sama bunda?" tanya Satya sambil memainkan jari mungil putranya yang lucu itu.
__ADS_1
"Mirip sama aku," jawab Gibran dengan enteng dan percaya diri.
"Kok bisa mirip sama kamu. Dia kan anak ayah bukan anak kamu." Satya tidak terima.
"Jelas bisa, Yah. Gio ini kan adik Gibran kalau Ayah lupa." Gibran tersenyum menanggapi ayahnya dengan santai, sedangkan Satya tersenyum membenarkan perkataan Gibran.
"Oh, Iya." Satya mencium dahi anaknya yang masih bayi itu membuat Gio tersenyum lucu memperlihatkan gusi yang belum tumbuh gigi.
"Besok kalian hati-hati dan jaga kesehatan selama di Paris." Ranti menasihati kedua anaknya.
"Iya, Bunda." Gibran dan Jasmine mengiyakan dengan menjawab secara bersamaan.
...***...
Wkwkwk ... belah jeruknya harus ditunda sampai besok ternyata, Sayang. Sabar ya nunggunya!
Visual Gibran versi indo kan sudah ada. Versi luar juga ada. Aku kasih bonus untuk kalian deh.
Gibran sudah sembuh dari somplaknya.
Ini Jasmine, istri tercinta yang diculik pas mau nikah.
Dan Ini adalah ... Giordano Putra Dinarta. Adik Gibran yang terpaut usia jauh darinya.
See you next chapter, Sayang
__ADS_1
Sayang, aku punya rekomendasi novel bagus. Yang penasaran mangga di kepoin Oke!