Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Pulang


__ADS_3

Bumi terus berputar pada porosnya dan tidak berhenti walau hanya satu detik sehingga waktu terus berganti dan berjalan sesuai yang semestinya.


Sudah satu bulan Gilang dirawat di rumah sakit dan hari ini adalah hari kepulangannya. Gilang dijemput Gio dan Gibran karena Jasmine harus mengurus Gavin yang sekarang sedang sakit di rumah.


"Gilang, kamu tunggu di sini sebentar, ya! Papa mau ketemu sama dokter dulu," ucap Gibran.


"Iya, Pa," jawab Gilang singkat.


Gibran pun langsung keluar dari ruangan dan berjalan cepat menuju ruangan dokter yang selama ini menangani putranya.


Gilang yang sekarang hanya berdua dengan Gio hanya bisa diam. Ingin sekali Gilang menyapa Gio tetapi ia takut kalau Gio akan bersikap dingin lagi padanya, walau satu bulan yang lalu Gio sudah meminta maaf dan selama satu bulan ini Gio juga sering datang ke rumah sakit untuk menemaninya.


Kanker yang Gilang derita adalah kanker darah stadium tiga tahap awal, karena kanker darah Gilang sudah hampir parah, dokter menyarankan agar Gilang segera melakukan operasi sum-sum tulang belakang satu bulan yang lalu.


Berbekal keyakinan pada Tuhan, akhirnya Gilang menjalani operasi dan sum-sum pendonornya adalah milik Gibran. Operasi berjalan lancar dan hasilnya bisa dilihat dalam jangka waktu yang lumayan lama yaitu 1-12 bulan.


"Masih sakit gak, Gi?" tanya Gio mencoba memecah keheningan di antara mereka. Gio sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi om yang baik untuk Gilang.


"Sakitnya sih udah gak, Om. Cuma aku masih rada lemas," jawab Gilang canggung.


"Maafin om ya, Gi! Om gak akan melukai hati kamu lagi." Gio memeluk Gilang yang saat ini duduk di kursi roda. Kepala bersandar di dada Gio.


"Kamu gak maafin om gak apa-apa karena om tahu kalau om gak pantas untuk dimaafkan. Tapi, om janji akan menjadi om yang baik untuk kamu." Gio menepuk-nepuk punggung Gilang pelan, menyalurkan rasa hangat dan pedulinya pada Gilang.


Gilang bisa merasakan kalau semua yang dikatakan Gio itu tulus dan Gilang sudah memaafkan Gio walau ia tidak mengatakannya dengan mulut.

__ADS_1


"Gi, om punya sesuatu untuk kamu," ucap Gio setelah tidak lagi memeluk Gilang, Gio berdiri sambil merogoh saku celana yang ia pakai.


"Apa, Om?" Gilang penasaran ketika melihat kertas putih di tangan Gio.


"Coba kamu tebak ini apa!" perintah Gio membuat Gilang merasa sedang bermain TTS ( Teka Teki Sulit) sekarang.


"Angpau dari Paman Bayu," tebak Gilang jauh melesat dari kebenaran.


"Salah, coba tebak lagi!" pinta Gio.


"Surat dari sekolah?"


"Bukan, ayo tebak lagi yang benar!"


"Pasta gigi," jawab Gilang sembarangan.


"KTP."


"Salah."


"Surat lamaran untuk jadi suami orang?" Gio langsung menjitak dahi Gilang pelan karena gemas dengan jawaban Gilang yang semakin aneh.


"Sakit, Om!" rintih Gilang.


"Masih bocah udah mikir jadi suami orang, memang kamu sudah siap kalau punya anak di usia yang masih sangat muda?" tanya Gio dengan santai tetapi ada unsur kesal sedikit.

__ADS_1


Gilang terkekeh, sekarang ia malah membayangkan kalau dirinya telah memiliki anak. Jika usia anaknya dan dirinya 18 tahun, maka semua orang akan menganggap mereka kakak adik karena proses penuaan laki-laki dan perempuan akan lebih lambat laki-laki.


"Mikir apa kamu?" tanya Gio dengan curiga karena keponakannya itu senyum-senyum sendiri.


"Kalau Gilang punya anak, nanti anak Gilang manggil Ok kakek." Gilang tertawa, sedangkan Gio memasang wajah datar.


"Makin gila nih bocah. Ayo tebak lagi yang benar sekarang!" perintah Gio.


Gilang mengangguk, ia menarik kemeja bagian depan yang Gio pakai kemudian berbisik di telinga Gio.


"Celana dalam punya Om, ya?" Rahang Gio langsung turun, alisnya terangkat, dan matanya terbuka semakin lebar ketika mendengar jawaban Gilang yang semakin tidak masuk akal.


"Semprul, percuma aja om nyuruh kamu buat nebak kalau jawaban kamu semuanya salah. Nih buat kami." Gio menyerahkan kertas yang ia pegang pada Gilang agar Gilang tahu sendiri apa itu.


Gilang mengamati kertas itu dengan rasa penasaran yang tinggi. Kertas itu berwarna merah jambu dan berbentuk amplop. Gilang yang penasaran langsung membuka amplop itu dan menemukan sebuah surat di dalamnya.


"Surat, Om. Dari siapa ini?" tanya Gilang sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Gio.


"Gak tahu, buka aja sekarang!" perintah Gio.


Gilang memberikan amplop yang sudah ia ambil isinya pada Gio. Gilang membuka surat itu dan mulai membacanya.


Gilang membaca satu demi kata yang ditulis dengan sangat rapi dengan seksama. Gilang tersenyum samar dan segera melipat surat itu lagi dan ia masukkan ke saku celananya.


"Apa isinya?" tanya Gio penasaran.

__ADS_1


"Rahasia," jawab Gilang.


__ADS_2