Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Baik-Baik Saja


__ADS_3

Gavin yang pingsan langsung digendong Gibran dan dibawa ke kamarnya. Setelah dibaringkan di ranjang, Jasmine langsung mengoles minyak kayu putih di pelipis, perut, telapak tangan, kaki, dan di bawah hidung Gavin agar ia segera sadar.


Gio menghubungi dokter keluarga agar segera datang memeriksa keponakannya. Ketika sudah datang, dokter langsung memeriksa Gavin menggunakan peralatan medis yang dibawa.


"Bagaimana kondisi putraku?" tanya Jasmine setelah dokter selesai memeriksa Gavin.


"Gavin baik-baik saja, Bu. Dia hanya kelahan dan terlalu banyak pikiran," terang dokter sudah sangat jelas.


"Banyak pikiran?" Jasmine berpikir hal apa kira-kira yang putranya itu banyak pikirkan.


"Saya akan meninggalkan beberapa obat untuk Gavin," ucap dokter tersebut seraya membuat resep dan meracik dosis untuk Gavin.


"Terima kasih, Dokter," ucap Jasmine ramah.


"Kembali kasih, Bu. Kalau begitu, saya permisi," pamit dokter.


"Baik, Dok," jawab Jasmine.


"Biar saya antar dokter sampai depan," ucap Gio seraya berjalan keluar bersama dokter pribadi keluarga.


Gilang yang berada di dalam kamar adiknya hanya melihatnya dengan datar. Ia enggan untuk menyapa atau sekedar bertanya kabar adiknya. Toh, ia juga sudah mendengarnya dari dokter.


Masih tersisa rasa perih ketika wajah yang merupakan cerminan dirinya itu berbuat hal yang menyakitkan sampai ia tidak ingin mengingatnya walau satu detik saja.


"Antar Gilang ke kamar, Pa!" pinta Gilang lirih seraya menarik tangan Gibran.


"Iya, Sayang." Gibran langsung mendorong kursi roda menuju kamar putra pertamanya, ia tahu jika saat ini suana hati putranya sedang tidak baik.


Jasmine menatap kepergian suami dan putranya dengan datar, ia beralih menatap Gavin yang sudah sadar dan matanya menatap ke arah pintu kamar.

__ADS_1


Perasaan Gavin sangat sakit ketika Gilang mengabaikan dirinya. Beginikah rasanya diabaikan dan tidak dianggap? Kenapa sangat menyiksa?


"Jangan terlalu banyak pikiran, Vin. Mama yakin suatu hari nanti hubungan kamu dan kakak akan baik-baik saja. Kamu percaya sama mama?" Jasmine mengelus puncak kepala Gavin lembut.


"I-iya," jawab Gavin ragu.


Ia yakin jika akan sangat sulit memperbaiki hubungannya dengan Gilang. Namun, ia berjanji akan berusaha lebih keras untuk kebaikan hubungan persaudaraan mereka.


***


Di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah.


"Nek, paman di mana sekarang?" tanya seorang gadis cantik yang baru menginjak usia tiga belas tahun.


"Di rumah istrinya, tumben nanyain paman. Biasanya kalau sama paman kamu gak pernah akur," ucap sang nenek seraya melanjutkan acara memasaknya.


"Kalau lihat paman rasanya sebel banget, Nek. Tapi, kalau gak ada paman rasanya sepi, hehe." Gadis itu cengengesan sambil menopang kepala menggunakan dua tangan yang sikunya bertumpu pada meja dapur.


"Paman itu jutek, Kek. Gak pernah nyambung kalau diajak bicara, ngalor ngidul." Gadis itu menjawab sopan.


"Bantuin nenek motong bawang merah dong, Sayang!" pinta nenek dengan ramah.


"Mau buat apa?" tanya gadis cantik itu penasaran.


"Digoreng, yang paling suka makan nasi anget campur bawang goreng siapa?" Nenek menatap cucunya lekat.


Gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun sangat rapi. "Aku, Nek," jawab gadis itu malu-malu.


"Memang enak makan nasi hangat pakai bawang goreng?" tanya kakek pada cucunya.

__ADS_1


"Enak dong, Kek. Pasti kalau Kakek dulu makan nasi hangat sama garam rasanya enak?" tebak gadis itu seraya menaik turunkan alisnya.


"Iya enak," jawab kakek santai.


"Nanti aku suapin Kakek pakai nasi hangat sama bawang goreng," ucap gadis itu.


Gadis itu berdiri kemudian mengambil pisau dan talenan. Dengan gerakan sangat lincah dan teratur gadis itu mulai memotong bawang merah yang akan digoreng.


"Wah, cucu kakek pintar motong bawang. Siapa yang ngajarin?" tanya kakek yang sekarang sudah berdiri di sebelah kanan gadis cantik itu.


"Kesayangan aku." Gadis itu tersenyum sedih.


"Siapa?" tanya nenek dan kakek bersamaan.


"Mau tahu aja atau kau tahu banget?" Gadis itu tidak langsung menjawab.


"Tempe mendoan aja," jawab nenek terkekeh geli.


"Hahaha, Nenek garing," ucap gadis itu ramah.


"Nenek penasaran, kesayangan yang kamu maksud itu siapa?" tanya nenek lagi. Kakek mengangguk ingin tahu juga.


"Gilang," jawab gadis itu singkat.


"Gilang?" Spontan nenek dan kakek menatap tajam pada cucunya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Telat up, kuota habis ✌


__ADS_2