Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
SCJC : Chapter 83


__ADS_3

"Sebentar lagi Gio punya teman, lho." Jasmine berbisik sangat lirih pada Gio, bayi laki-laki hasil pertempuran 100 ronde mertuanya itu memang selalu bisa membuat dirinya gemas dan semakin menyayanginya.


"Mel, kita itu lagi serius." Hati Airin rasanya semakin sesak melihat sahabatnya yang malah mengalihkan perhatian mereka.


"Aku juga serius. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, kecuali kalau bikin keponakan buat Gio, aku harus melakukan sama suami aku, nggak bisa main solo." Jasmine nyengir kuda, ia menatap Airin sambil tersenyum manis.


"Punya menantu gitu amat, ya?" Ranti tersenyum menatap suaminya yang menggelengkan kepala setelah mendengar ucapan Jasmine yang tidak tahu tempat.


"Aaaah ... sakit, Mas!" Jasmine menjerit saat Gibran tiba-tiba mengigit lehernya. Untung saja Gibran bukan vampir sehingga darahnya masih aman.


"Kamu itu bikin aku khawatir tahu nggak sih?" Gibran mencium pipi istrinya, memeluknya erat, menangis di ceruk leher istrinya, dan tangannya dengan tidak tahu malu hendak menyentuh buah surga milik istrinya kalau saja Jasmine tidak langsung menepis tangan kasar suaminya.


"Trans7. Tangan kamu kondisikan!" Jasmine mencubit tangan Gibran sampai suaminya itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Apa maksud Trans7?" Satya yang sejak tadi diam membuka suara.


"Tahu nggak sih di Trans7 kan, Yah?" jawab Jasmine yang dibalas angkatan bahu tanda tidak mengerti oleh mertuanya.


"Sakit, Sayang." Gibran mencuri ciuman di bibir Jasmine.


"Kok Lo bisa tahu kalau gue di sini?" Airin masih bingung, ia tidak peduli dengan apa yang ia lihat baru saja, Airin seakan-akan menjadi patung tadi. Yang terpenting sekarang adalah mengetahui alasan Jasmine kenapa bisa tahu jika dirinya berada di sana, pasalnya tidak seharusnya Jasmine melihat di mana ia berdiri, bukankah Jasmine buta?


"Dan di sini tetap menunggu, berada jelas di mataku ...." Jasmine bersenandung.


"Tarik sis ...." Gibran goyang jempol.


"Somplak," teriak Airin dan kedua orangtua Gibran dengan suara menggema di ruang rawat Jasmine.

__ADS_1


Jasmine tersenyum tipis, ia menimang Gio karena adiknya itu kaget dan menangis karena ulah orang dewasa yang berada di sekitarnya.


Dengan adanya Gio begini saja ia sudah merasa bahagia, kehadiran orang-orang di sekitarnya membuat Jasmine sadar jika masih banyak orang yang menginginkan dia kembali sehat dan menjalani aktivitas seperti biasanya.


Jasmine merasa sangat disayang, namun dalam waktu yang bersamaan ia juga merasa sedih karena tidak melihat satu keluarganya pun yang datang membesuknya.


Ayah sama Ibu nggak ke sini? Kak Ridwan juga nggak ke sini. Mereka sudah nggak peduli sama aku kah?


"Mel, Lo belum jawab pertanyaan gue," ucap Airin lagi.


"Aku punya mata, jadi jelas aku tahu kalau sahabat aku yang tersayang ada di sini." Jasmine mengulum senyuman manisnya, Airin terharu langsung menangis sesenggukan.


"Bun, Gio dikasih ASI dulu! Nangis dia dengar suara kalian yang seperti toa masjid." Jasmine mencium dahi Gio dengan sayang lalu mengembalikan kembali Gio ke gendongan Ranti. Namun, Gio seolah tidak ingin lepas darinya karena tangan mungil Gio berpegangan erat pada bajunya padahal usia Gio baru 4 bulan.

__ADS_1


__ADS_2