Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Luka


__ADS_3

Ketika lidah terasa kelu, bibir bungkam, dan suara seperti tertahan di tenggorakan. Mungkin, yang bisa kamu lakukan hanya menangis untuk mengurangi rasa sesak yang dirasakan. Tangisan dengan banyak air mata adalah obat paling manjur untuk mengurangi beban pada hidup kita.


Siluet cahaya bulan yang terang menerpa dedaunan dan sedikit memantulkan cahaya yang menyilaukan. Bulan yang terlihat sangat indah dan dikagumi banyak orang pun bukan benda berharga tanpa sinar matahari.


Seperti angin yang selalu ada di dekat kita, tetapi tidak pernah bisa dilihat kalau dalam bentuk yang normal. Jika kita bisa melihat bagaimana bentuk angin itu, mungkin kita akan lari karena menjadi bencana (angin beliung dan lainnya).


Mungkin hal ini yang sedang dirasakan Gia, di mana dia hanya bisa merasakan keberadaan kakaknya tanpa mampu melihat.


Gia menatap Gavin dan Gio tajam, dia sangat marah dan kecewa karena telah mempercayai mereka untuk menjaga Gilang. Kalau tahu begini akhirnya, Gia tidak akan pernah suka.


Gia menangis sesenggukan dalam pelukan hangat Gibran, rasa sakit dan khawatir ketika Gilang sakit empat tahun lalu masih membekas dalam ingatannya.


Dia tidak mau mengulangi hal itu lagi, merasakannya, dan mengkhawatirkan kembali.


Kenapa Tuhan seakan tidak adil pada Koko Gilang, kenapa Engkau terus memberinya cobaan yang berat? Kenapa Tuhan? Kenapa?

__ADS_1


"Gia, berhentilah menangis!" Gavin mengusap pelan kepala gadis itu.


"Diam! Semua yang terjadi pada Koko sekarang adalah ulah Abang. Gia benci sama, Abang." Teriakan sang adik membuat Gavin menunduk dan memegang dadanya yang terasa sangat sakit.


"Kalau saja abang bisa menggantikan posisi Kak Gilang. Sudah sejak tadi abang melakukannya," ucap Gavin dengan suara bergetar.


Tidak ada orang yang mau disalahkan jika dirinya memang tidak bersalah. Namun, kalau orang tetap berpikir hal yang sama. Berulang kali menjelaskan pun kalau orang tidak mau percaya maka akan terus berlanjut seperti itu.


"Tidak ada yang salah di sini, semua sudah rencana dari Tuhan." Gibran mencium puncak kepala gadis itu agar emosinya sedikit reda.


Mendengar perkataan Gibran, tidak membuat Gia merasa tenang. Hal itu justru menambah rasa kekecewaan di hati Gia dan melepaskan diri dari pelukan papanya.


Hatinya sangat sakit, pikirannya kacau. Mendadak semua kenangan manis bersama koko-nya melintas di depan matanya dan ketakutan pun semakin dia rasakan.


"Kalau sampai Koko kenapa-napa, aku tidak akan pernah mau lagi melihat wajah, Abang." Tubuh Gia merosot sampai terduduk di lantai, tangannya menutup seluruh wajah dan dibiarkan basah oleh air mata tanpa berniat membuatnya kering.

__ADS_1


"Koko akan baik-baik saja, Sayang." Jasmine memeluk putrinya dengan erat, dia ikut menangis dan merasa sakit sekarang.


"Bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya?" Gia menatap wajah mamanya dengan sendu.


"Berdoalah yang terbaik untuk Gilang." Jasmine mengusap punggung putrinya lembut.


"Gia tidak ingin kehilangan Koko, Ma." Membalas pelukan mamanya dengan sangat erat untuk berbagai rasa sakit yang dirasakannya.


.


.


.


Cuplikan

__ADS_1


Seorang dokter keluar dari keluar dari ruang operasi.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain."


__ADS_2