Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 94


__ADS_3

Jasmine langsung menutup mulutnya yang telah menganga melihat yang sesuatu yang ia lempar sampai tersangkut di kepala Gibran dan bergelantung dengan manja di wajah suaminya adalah ... benda berharga miliknya untuk menutup buah surga.


"Sayang in-" Gibran mengambil benda tersebut dari kepalanya kemudian menatapnya dengan lekat, Gibran langsung menatap istrinya horor, ia menarik dasinya yang sudah longgar tadi hingga terlepas dari kerja kemejanya.


Gleg ... Jasmine menelan ludahnya sudah payah, ia sudah mengambil ancang-ancang seribu langkah untuk kabur karena suaminya sudah menatap horor. Jasmine cengar-cengir kemudian berkata, "BRA aku, Maaaaaas." Jasmine langsung berlari hendak keluar dari kamar.


"Jasmine, jangan lari kamu!" Gibran meraih tangan Jasmine yang sudah sampai sampai di depan pintu kamar mereka.


Mati aku, aduh gawat, gimana ini?


"Siapa yang lari? Orang aku cuma marathon." Jasmine tersenyum, aduh punggung Jasmine rasanya sakit saat membentur pintu kamar karena Gibran mendorong dua bahunya hingga ia tersudut.


"Sontoloyo, aku nggak mau ke kantor." Tangan kanan Gibran bergerak ke bawah dan menyentuh sesuatu di bawah sana, Gibran memutarnya dengan perlahan sampai Jasmine menjerit keras.

__ADS_1


"Aaa ... kenapa pintunya di kunci?" Ya, Gibran tadi menyentuh kunci pada pintu kamar lalu mengunci pintu kamarnya agar Jasmine tidak lari.


"Ayo olahraga pagi!" Gibran langsung menggendong Jasmine tanpa aba-aba terlebih dahulu sampai Jasmine terkejut dibuatnya.


"Semalam kan udah, Mas. Dua kali lho, kamu nggak kasihan sama anak kamu di dalam perut aku?" Jasmine melingkarkan tangannya pada leher Gibran, kalau tidak begitu, ia jamin pasti akan jatuh.


"Anak kita senang kalau papanya sering menjenguk." Gibran mengerlingkan matanya, jika sudah begini, mau menolak pun Jasmine tidak bisa karena memang dirinya diperbolehkan untuk berhubungan dengan suami asal tidak dengan posisi yang membahayakan janin dalam rahimnya.


"Bukan anak kita yang senang, tapi kamu." Jasmine membenamkan wajahnya pada dada bidang Gibran.


Berbeda dengan kamar sebelah yang sedang berisik karena suara percintaan satu pasang suami istri dengan umur yang masih muda dan sedang dikelilingi banyak kepik imajinasi berbentuk hati, di kamar Ranti malah sangat sepi.


Gio, bayi gembul yang usianya jauh di bawah kakaknya itu sudah bangun tapi sibuk menyesap jempol tangan kanannya. Tangan kirinya terangkat ke atas dengan kaki yang sedikit mengangkang karena pampers yang ia pakai.

__ADS_1


Ranti sudah bangun sejak sebelum subuh, bahkan ia sudah mandi dan memakai pakaian rumahan yang rapi.


Ranti merasa bersalah pada suaminya karena membiarkan sang suami tidur di luar kamar. Namun, sesekali tidak apa, bukan?


Ranti melihat Gio yang anteng dan tidak rewel. Ia mencium dahi anaknya kemudian mengambil kunci pintu dan segera membukanya.


Ranti berjalan keluar kamar untuk mengecek apakah suaminya tidur di kamar lain atau malah tidur di sofa ruang keluarga dengan menonton televisi seperti yang sering dilakukannya.


Namun, saat ia keluar kamar, ia malah melihat suaminya tidur di dekat pintu kamar dengan posisi duduk selonjoran dengan dot susu milik Gio yang masih berada di mulutnya.


"Ya Tuhan, maafkan aku karena menjadi istri yang soleha—maksud bunda mungkin durhaka.


Ranti berjongkok di depan suaminya, ia mengambil dot milik Gio dengan pelan. Ranti mengusap kepala suaminya dengan prihatin, bisa dibayangkan betapa sakitnya apa yang kurasa, Tuhan kuatkanlah hatiku yang terluka. Malah jadi lirik lagu.

__ADS_1


"Gio ayah taruh ke kandang kelinci." Satya ngelindur tidak jelas.


"Anak sendiri mau ditaruh ke kandang kelinci." Ranti mencubit hidung suaminya dengan kesal.


__ADS_2