
Gavin dan Gia sudah berada di dalam pesawat yang mengudara menuju Amerika. Kaki Gia sudah sembuh walau masih sedikit pincang kalau digunakan untuk berjalan cepat.
Gia yang mengantuk lebih memilih tidur dan tidak mempedulikan sekitarnya sampai dia tidak tahu kalau om-nya ternyata juga ikut ke Amerika tanpa sepengetahuan dirinya.
Gavin yang melihat adiknya tidur pulas hanya membiarkan saja, dia pun juga ikut tidur karena juga lelah.
Setelah beberapa jam perjalanan, pesawat akhirnya mendarat di bandara dengan selamat. Gavin dan Gia langsung berjalan ke mobil yang telah menjemput mereka dan terkejut ketika tiba-tiba Gio ikut masuk tanpa permisi.
"Kenapa Om Gio bisa ada di sini? Sejak kapan?" Gia menatap Gio lekat.
"Sejak tadi, kalian saja yang tidak sadar kalau ada laki-laki setampan diriku satu pesawat dengan kalian." Gavin melongo mendengar ucapan Gio yang sangat percaya diri dan sedikit meremehkan dirinya.
Mereka bertiga pun akhirnya pergi bersama menuju tempat tinggal Gilang sambil sesekali berdebat hal yang tidak penting.
Sesampainya di tempat tinggal Gilang, mereka bertanya pada seseorang yang ditugaskan menjaga rumah dan orang itu mengatakan kalau Gilang sudah pergi tiga hari lalu tanpa memberitahu akan pergi ke mana.
Tentu saja hal itu membuat Gia, Gavin, dan Gio terkejut bukan main. Mereka bertiga saling menatap satu sama lain sambil berpikir di mana kira-kira Gilang berada sekarang.
"Apa mungkin Koko ke London?" tebak Gia tepat sasaran.
"Tapi, kenapa dia ke sana?" Gio mengerutkan dahinya dalam.
"Mungkin Kak Gilang mau bertemu dengan kekasihnya. Bukankah Syala kuliah di Inggris?" Ucapan Gavin langsung diangguki mereka. Tanpa istirahat dulu, mereka langsung memesan tiket pesawat menuju Inggris dan hari itu juga melakukan penerbangan ke sana.
.
.
.
Di sebuah taman yang cukup ramai, sepasang manusia duduk bersebelahan di kursi panjang yang berada di bawah pohon rindang.
"Maafkan aku, Gilang. Aku benar-benar tidak bisa." Ya, orang itu adalah Gilang dan Syala yang sudah tiga hari ini selalu bersama.
"Tapi, kenapa? Apa kamu akan menyerah begitu saja di saat aku mengorbankan semuanya untukmu?" Gilang menatap Syala penuh rasa kecewa, hatinya terasa sangat sesak dan sakit sekali.
"Aku mencintai laki-laki lain, maafkan aku!" Syala memalingkan wajahnya agar Gilang tidak bisa melihat matanya yang sekarang mulai berkaca-kaca.
"Siapa laki-laki yang kamu cintai? Apa dia membuat kamu bahagia? Apa dia sangat istimewa dan spesial untukmu sampai kamu rela meninggalkan aku dengan begitu mudah setelah kita berjuang bersama?" Runtutan pertanyaan keluar dari mulut Gilang.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu, itu bukan urusan kamu."
"Tapi, bagaimana dengan perjodohan antara kamu dengan adikku?" Syala langsung menatap Gilang dengan bertanya-tanya. Perjodohan? Memang ada ya perjodohan antara dirinya dengan Gavin? Kenapa selama ini dia tidak tahu?
"Aku tidak pernah dijodohkan dengan siapa pun, kamu jangan mengada-ada!" Syala menatap tajam mata Gilang yang penuh luka.
"Apa maksud kamu? Bukankah kalian dijodoh-- ah, aku tahu. Semua itu hanya bohong." Gilang tertawa keras, tawa yang penuh dengan luka dibaliknya.
Gilang mengacak rambutnya dengan frustasi dan menengadah menatap hamparan langit London yang berwarna biru cerah.
"Jika kamu memang mencintai laki-laki lain, semoga kamu bahagia dengannya." Gilang menatap lekat maya gadis cantik di sebelahnya, perkataan Gilang sangat tulus dia ucapkan dari hati yang paling dalam.
"Satu bulan lagi kami akan menikah." Syala tersenyum lebar pada Gilang. Namun, Gilang tidak mau melihat senyuman itu. Padahal, kalau Gilang pintar menebak ekspresi orang, bisa saja dia tahu kalau saat ini yang Gia katakan masih pantas untuk diragukan.
"Sakit, kenapa rasanya sangat sakit mendengar jika kamu akan menikah dengan laki-laki lain?" Gilang terkekeh sakit, dia berdiri dan berjalan meninggalkan Syala dengan hati yang hancur berkeping-keping, rasa cinta yang ada dihatinya kini berbuah menjadi rasa kecewa yang sambat besar.
Syala hanya bisa menatap punggung laki-laki yang dia cintai dengan mata yang telah berurai air mata. Dia sangat mencintai Gilang, maka dari itu dia lebih memilih menyakiti Gilang sekarang daripada nanti laki-laki itu lebih sakit dari ini.
"Tuhan, tolong jaga Gilang dengan baik! Aku tidak yakin bisa melihat dirinya lagi di lain waktu." Syala menyentuh perutnya sambil menangis penuh luka.
.
.
.
"Apa kamu yakin Gilang ada di sini?" Gio menatap keponakannya dalam-dalam.
"Sangat yakin," jawab Gia dengan mantab.
"Apa kamu tahu alamat tempat tinggal Syala?" Gavin menatap adiknya.
"Ya, aku sudah mendapatkannya." Gia tersenyum senang.
"Baguslah, sekarang lebih baik kita tidur!" ajak Gio pada mereka.
Mereka pun akhirnya tidur dalam kamar yang terpisah.
Pagi harinya, mereka membersihkan diri dan sarapan di restoran hotel. Setelah selesai, mereka pun langsung pergi ke alamat rumah yang diberikan Syala.
__ADS_1
...***...
Riani membuka pintu rumah ketika ada seseorang yang menekan bel. Riana mengerutkan dahi ketika melihat Gia, Gavin, dan Gio yang hadir.
"Pagi, Tante." Gia menyapa dengan senyum ramah.
"Pagi juga, kalian kenapa bisa ada di sini?" Riani heran.
"Kami ingin bertemu dengan Kak Syala, apa dia ada di rumah?" Riani mengangguk, dia pun menyuruh tiga orang itu masuk ke rumahnya.
Mereka di suruh duduk dan Riani pergi ke kamar Syala.
"Ada apa, Ma?" tanya Syala yang baru saja akan keluar dari kamar.
"Ada tamu yang mau bertemu dengan kamu." Riana menjawab lembut.
"Siapa?" Syala penasaran.
"Temuilah mereka, nanti kamu juga tahu sendiri," perintah Riani pada putri cantiknya itu.
"Iya deh, Ma." Syala pun berjalan menuju ruang tamu dan terkejut ketika melihat keluarga Gilang di sana.
"Kak Syala," panggil Gia dengan antusias.
"Hai, kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian sedang liburan?" tanya Syala seraya duduk di sofa lain yang berhadapan dengan mereka.
"Langsung ke inti saja. Apa Kak Gilang berada di sini?" tanya Gia yang tidak ingin basa-basi.
"Ya, Gilang memang berada di London. Selama tiga hari dia selalu bersama denganku. Tapi, kemarin dia pergi tanpa pamit dan aku tidak tahu di mana dia sekarang." Ada rasa sakit ketika menyebut nama laki-laki yang sangat dia cintai tapi telah dia lukai.
"Nomor Koko di luar jangkauan. Kami sudah menghubunginya sejak lama tapi tidak bisa." Gia mendesah kecewa.
"Apa kamu tahu di mana Gilang tinggal selama berada di sini?" tanya Gio pada kekasih Gilang itu.
"Maafkan aku! Tapi, aku sama sekali tidak tahu tentang dia." Syala menunduk sambil meremas ujung dress yang dia pakai.
***
Bersambung ...
__ADS_1