Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 106


__ADS_3

Jasmine memberikan ASI pertama untuk putra pertamanya. Saat anak kecil itu mulai menyesap ASI, air mata Jasmine luruh saat itu juga. Ia tidak pernah membayangkan akan segera menjadi seorang ibu dari dua bayi laki-laki yang begitu tampan dan menggemaskan.


"Mas, aku-" Jasmine sengaja memutus perkataannya untuk memastikan jika dirinya memang sedang tidak bermimpi.


Jasmine dapat melihat dengan jelas warna kemerahan pada kulit bayinya, bola mata bulat indah, dan semua bisa ia lihat dengan begitu jelas.


"Kamu kenapa?" Gibran panik, ia mengira jika tubuh Jasmine ada yang sakit karena isterinya itu menangis.


"Aku bisa melihat dengan jelas lagi." Ranti dan Satya langsung menatap Jasmine dengan wajah yang penasaran.


"Maksud kamu apa?" tanya Ranti dengan intonasi yang datar.


"Bunda, aku bisa melihat lagi. Semua aku bisa lihat dengan jelas. Aku sudah sembuh dari buta." Gibran langsung menyerahkan putra bungsunya kepada Ranti hanya untuk memeluk istrinya.


"Apa itu benar, Sayang?" tanya Gibran antusias.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku nggak bohong." Jasmine mengangguk yakin.


Sungguh, kebahagiaan ini datang bertubi-tubi membuatnya bingung harus bagaimana mengucapkan terima kasih kepada Allah yang membuat hidupnya begitu sempurna setelah melewati banyak cobaan yang begitu menyakitkan sampai ia pernah berpikir untuk putus asa.


Gibran memeluk Jasmine dengan begitu erat, sampai tidak menyadari jika salah satu tangannya menekan pipi putranya sedikit kuat. Ia menghadiahi ciuman bertubi-tubi di wajah dan kepala istrinya. Mungkin, jika anaknya sudah bisa bicara ia akan berkata 'Papa gila karena terus mencium papa dan menekan pipiku.'


Ranti tersenyum tipis melihatnya, ia berjalan mendekati suaminya lalu duduk di samping Satya dengan menyandarkan kepalanya di pundak kanan Satya.


"Jadi pengen punya anak lagi," ucap Ranti tanpa sadar.


"Aaa ta ta ...." Gio yang sudah mulai aktif langsung menarik rambut bundanya sampai Ranti meringis dan menjerit kesakitan.


"Aduh ... Gio, rambut bunda jangan ditarik, sakit ini ... aduh!" Gio malah semakin kencang menarik rambut bundanya. Satya mengembuskan napas lelah kemudian melepaskan genggaman tangan Gio yang menggenggam rambut istrinya.


"Gio nggak boleh nakal, kalau Gio nakal nanti bunda diminta sama keponakan kamu." Gio mengamuk, dia mencakar wajah Satya sambil menangis kencang.

__ADS_1


"Hwaaaa ...." Satya berdiri dan membiarkan putranya itu mengamuk, ia bahkan sengaja menurunkan Gio di lantai sampai tangisan anak itu semakin kencang dan merangkak memeluk kaki ayahnya dengan erat minta digendong.


"Gio jangan nakal, sudah besar nggak boleh nangis. Keponakan Gio saja pada diam kok, kalau Gio nakal nanti bunda sama ayah nggak mau gendong Gio lagi. Kak Jasmine sama Kak Gibran juga nggak mau main sama Gio." Gio merasa disudutkan, anak laki-laki itu menatap Jasmine dengan air mata yang sudah berdeleweran di wajahnya.


Gio merangkak ke kolong ranjang rumah sakit Jasmine lalu tidur telentang di sana. Dia memasukkan jari jempol tangan kanannya dan bermain sendirian di sana karena merasa sedih.


Satya dan Ranti yang melihat kelakuan putranya hanya bisa tersenyum tipis. Mungkin sekarang Gio sedang cemburu karena perhatian untuknya mulai berkurang karena kehadiran dua keponakan laki-lakinya.


GAVIN ANDRA DINARTA



GILANG ANDRA DINARTA


__ADS_1


__ADS_2