
Satya dan keluarganya kini sedang menunggu Gilang di depan ruang UGD. Mereka sangat panik dan terlihat dengan sangat jelas orang yang paling bersedih saat ini adalah Gavin.
Tiga puluh menit yang lalu ketika Gavin melihat Gilang tidak mau bangun langsung mengangkat tubuh Gilang dan membawanya berlari keluar rumah untuk dibawa ke rumah sakit.
Gavin juga memberitakan pada semua orang jika Gilang jadi seperti ini karena dirinya. Gibran sangat ingin marah, tapi ia mengendalikannya karena tidak mau melukai anak-anaknya.
"Kalian sekarang puas? Kalian senang melihat Gilang seperti ini, 'kan?" tutur Ranti menusuk sampai ke hati Gio dan Gavin.
"Bunda, jangan bicara seperti itu! Ini semua terjadi sudah takdir, Bun," ucap Jasmine lirih, ia tidak mau membuat hubungan keluarga mereka jadi renggang karena masalah ini.
"Semua itu kenyataan, Nak. Mereka memang menginginkan Gilang pergi dari hidup mereka, 'kan?" Ranti merasa dirinya gagal menjadi seorang ibu karena tidak bisa mendidik Gio dengan baik.
Gio berlutut di depan Ranti. Gio memeluk kaki Ranti dan menangis tersedu-sedu di sana, Ranti membiarkan saja Gio melakukan itu, Ranti masih merasa kecewa dengan Gio yang menurutnya jahat karena memperlakukan keponakannya sendiri dengan berbeda antara Gavin dan Gilang.
"Maafin Gio, Bunda. Gio tahu Gio salah." Gio mendongak, ia menatap mata Ranti untuk meminta maaf. Namun, yang ia dapatkan adalah tatapan penuh kekecewaan dari Ranti.
"Untuk apa kamu meminta maaf kalau ini semua memang keinginan kamu?" tutur Ranti dengan sangat dingin.
Deg! Hati Gio rasanya sangat sakit ketika Ranti berbicara dengan dingin padanya. Inikah yang dirasakan Gilang dulu ketika ia bicara dingin padanya?
Gio tersenyum pedih, rupanya selama ini Gio baru tahu bagaimana perasaan Gilang yang sesungguhnya.
"Gio, bangun!" perintah Jasmine tegas, Jasmine tidak ingin Gio merasa bersalah dan terpuruk sepertinya dirinya. Gio menggeleng dan malah memeluk tubuh Ranti dengan erat.
"Maafin Gio, Bunda!" mohon Gio dengan tulus, Ranti tidak merespon. Ranti sengaja melakukannya agar Gio merasa jera, kalau Ranti langsung memaafkan Gio sekarang, pasti Gio akan berpikir kalau meminta maaf itu mudah sehingga kemungkinan besar Gio bisa sering melakukan kesalahan di lain waktu.
Dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah yang tetap ramah dan pembawaan yang tenang.
"Dokter, bagaimana kondisi kakak saya?" Gavin langsung bertanya ketika melihat dokter keluar.
"Kakak kamu baik-baik saja, dia kuat dan tidak mudah putus asa. Kamu yang tenang, ya!" ucap dokter tersebut sambil menepuk bahu Gavin dengan pelan.
Gavin tidak langsung percaya dengan dokter, hatinya merasa ragu dengan jawaban yang dokter berikan.
"Pak Gibran, bisa kita bicara di ruangan saya?" tanya dokter setelah berjalan ke arah Gibran.
__ADS_1
"Bisa, Dok," jawab Gibran.
"Suster, tolong pindahkan pasien ke ruang inap, ya!" perintah dokter pada perawat yang menemaninya di dalam.
"Baik, Dok," jawab perawat, perawat kembali masuk ke ruang UGD dan mendorong brankar Gilang menuju ruang rawat inap.
Gibran berjalan beriringan dengan dokter yang menangani Gilang menuju ruangan dokter tersebut.
Gavin mengikuti perawat, begitu juga dengan Satya, Ranti, dan Gio. Setelah sampai di ruang rawat inap, perawat langsung pamit dan kini hanya tinggal keluarga Gilang yang berada di sana.
"Sayang, bangun!" bisik Jasmine lirih, Jasmine mengelus kepala Gilang dengan pelan, wajah Gilang terlihat sudah tidak terlalu pucat lagi.
Perlahan Gilang membuka matanya, Gilang tersenyum melihat Jasmine berada di sisinya. Gavin yang melihat kakaknya membuka mata hanya bisa diam, ia bingung harus melakukan apa sekarang.
"Mama," panggil Gilang lemah. Jasmine tersenyum dan mencium dahi Gilang dengan hangat. Gilang memejamkan mata saat merasakan bibir Jasmine menyentuh kulit pada dahinya.
"Mama di sini, Sayang," jawab Jasmine pelan, air matanya menetes melihat Gilang yang terbaring lemah seperti sekarang.
"Haus, Ma," rintih Gilang.
"Masih sakit, Gi?" tanya Ranti khawatir, Ranti masih cemas dengan cucu pertamanya.
"Gilang baik-baik saja kok, Nek. Gilang gak sakit, cuma kelelahan aja," jawab Gilang, ia tidak mau membuat orang lain bersedih karena dirinya.
"Gilang, nenek sama kakek pulang dulu, ya! Kamu di sini sama papa dan mama." Ranti harus istirahat karena ia baru saja sembuh dari sakit.
"Iya, Nek. Hati-hati di jalan!" pesan Gilang tersenyum manis.
Ranti dan Satya pun keluar dan langsung pulang setelah pamit dengan Gilang.
Sekarang hanya tinggal Gavin, Gilang, dan Gio di dalam ruangan itu. Suasana menjadi canggung dan sepi, Gilang tidak melihat Gio dan Gavin sama sekali dan lebih memilih untuk memejamkan mata mengabaikan mereka.
Gavin menatap Gilang lekat, Gavin mendekati Gilang dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang Gilang.
"Kak Gilang," panggil Gavin lirih, Gavin menggenggam tangan Gilang tidak terlalu erat.
__ADS_1
Gilang tidak merespon, Gilang juga menarik tangannya dari tangan Gavin. Gilang tidak mau membuka mata, cukup sudah penderitaan yang ia rasakan selama ini.
Hati Gavin terasa sangat perih menerima penolakan dari Gilang. Gavin menatap wajah Gilang dengan lekat.
"Kak, maafin aku! Aku tahu selama ini aku salah sama, Kakak. Aku menyesal, Kak." Gavin berusaha untuk meminta maaf.
"Selama ini Kakak perhatian dan sayang sama aku. Aku mau Kakak seperti dulu lagi, Kak. Kakak sayang, 'kan?" Gavin terus berbicara.
"Gilang, om juga mau minta sama kamu. Kamu sangat berati untuk kita, Gi. Kita gak mau kehilangan kamu, kita sayang sama kamu." Entah Gilang harus tertawa atau menangis mendengar kata-kata itu.
Belum ada tiga jam mereka mengatakan kalau ingin dirinya pergi jauh dari kehidupan mereka dan tidak perlu kembali lagi, bahkan dengan teganya mengatakan kalau ia lebih baik mati. Namun, sekarang mereka bilang sayang dengan Gilang? Semudah itukah mereka mengubah perasaan dan sikap mereka?
Gilang tidak ingin kembali seperti dulu, Gilang ingin hidup tenang dan bahagia tanpa merasakan sakit hati lagi.
"Kak, Gavin janji akan menjadi adik yang baik untuk, Kakak. Kakak mau maafin aku, 'kan?" tanya Gavin berharap penuh.
"Apa kalian melakukan ini hanya karena kalian tahu kalau aku sakit?" tanya Gilang menatap tajam pada mereka.
Deg! Gavin dan Gio tidak percaya kalau Gilang akan berkata demikian. Gavin sama sekali tidak berpikir seperti itu, tapi apa yang dikatakan Gilang memang ada benarnya.
"Tidak, Kak," Gavin mengelak cepat.
"Ke mana saja kalian selama ini? Setelah tahu kalau aku sakit kalian baru mau peduli sama aku? Kalian pikir semudah itu memperbaiki luka pada hati yang telah hancur? Anggap saja aku sudah mati!" ucap Gilang dengan nada sedikit tinggi dan menusuk.
"Kak," panggil Gavin.
"Pergi dari sini!" perintah Gilang lirih.
"Tap-"
"Pergi!" teriak Gilang kencang.
***
Bersambung ...
__ADS_1