Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Üzgünüm ve teşekkür ederim


__ADS_3

Gilang bersandar pada kepala ranjang seraya menerima suapan dari Jasmine. Di sebelah kanannya Gavin tidur sangat pulas karena meminta bertemu dengannya dan tidur bersamanya. Gilang membiarkan saja adiknya tidur di kamarnya, toh waktu kecil mereka juga tidur dalam kamar yang sama.


Memang benar jika darah lebih kental dari air, semarah dan sekecewa apa pun Gilang dengan Gavin. Rasa sayang pada adiknya tidak pernah berkurang, bahkan semakin hari semakin bertambah besar.


Tangan kiri Gilang mengusap kepala Gavin lembut, ia tahu Gavin tidak akan merasakan karena jika sudah tidur maka ia cukup sulit bangun.


"Kenapa dia bisa sakit, Ma?" Walaupun, Gilang sudah Mendengar alasan dari dokter, rasanya belum cukup puas jika tidak bertanya langsung pada mamanya.


"Dia sering mengeluh ketika kamu mengacuhkan dia," jawab Jasmine sedih.


"Aku hanya memberinya hukuman kecil," jawab Gilang sedikit merasa kasihan pada adik laki-lakinya.


Jasmine mengangguk, kedua anaknya sudah remaja dan sudah bisa melakukan apa pun yang menurut mereka benar, Jasmine hanya tinggal mendukungnya saja asal hal itu baik dan tidak merugikan diri sendiri serta orang lain.


Jasmine kembali menyuapi Gilang sampai bubur di mangkuk habis. Setelah itu, Jasmine menyuruh Gilang minum air putih dan obat agar segera pulih dan kembali sehat seperti sebelumnya.


Jasmine mengusap perutnya yang bergejolak tidak nyaman, ia merasa sedikit mual. Raut wajah Jasmine yang berubah ditangkap mata Gilang.


"Mama kenapa?" Gilang khawatir, ia takut penyakit maag mamanya kambuh.


Jasmine mengibaskan tangannya seraya menutup mulut, ia langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi. Suara Jasmine yang terdengar sedang muntah membuat Gilang semakin khawatir.


Jasmine merasa lega setelah mengeluarkan semua isi perutnya, ia segera berkumur untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Setelah itu, Jasmine langsung kembali keluar kamar mandi dan duduk lagi di tepi ranjang Gilang.


"Mama kenapa?" tanya Gilang lagi.


"Mama gak apa-apa, Sayang." Jasmine tersenyum manis sekali, tapi wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Maag Mama kambuh, ya?" tebak Gilang.


"Tidak," jawab Jasmine jujur.


Gilang mengangguk, ia yakin pasti mamanya sedang tidak baik-baik saja. Namun, tidak mungkin juga kalau mamanya hamil. Tapi, kalau mamanya hamil bagaimana?


"Sayang, kalau adik tahu kalian sakit secara bersamaan seperti ini, kira-kira siapa yang paling dikhawatirkan olehnya?" tanya Jasmine seraya menatap lekat wajah putranya.


"Adik?" Gilang mengerutkan dahinya memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.


"Iya," jawab Jasmine tersenyum manis.


"Kurasa, dia akan lebih mengkhawatirkan aku, Ma." Gilang menebak sendiri dan mungkin itu benar.

__ADS_1


Suara langkah seseorang terdengar cukup keras menuju kamar Gilang. Sontak, Jasmine dan Gilang menatap ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.


Mereka tersenyum ketika melihat Gibran datang dengan membawa buah apel hitam yang Gilang inginkan.


Gibran masuk tanpa mengucapkan apa-apa, ia langsung duduk di tepi ranjang dan menyerahkan apel hitam itu pada putra pertamanya.


"Üzgünüm ve teşekkür ederim," ( Maaf dan terima kasih) ucap Gilang seraya memeluk papanya dengan sayang.


"Untuk apa minta maaf?" tanya Gibran pelan, wajahnya terlihat sangat lelah karena tadi ia harus berkeliling mencari apel hitam yang sangat sulit didapatkan.


"Gilang merepotkan, Papa." Gilang tersenyum sedih namun juga bahagia.


"Tidak apa-apa, kamu anak papa jadi papa tidak merasa repot." Gibran mengusap kepala putranya lembut.


...***...


Di rumah yang tidak terlalu mewah.


"Enak, Kek?" tanya gadis bernama Gia yang baru saja menyuapi kakeknya nasi hangat dengan bawang goreng.


"Iya, enak," jawab kakek jujur.


"Kamu harus makan sama lauk dan sayur juga, kalau gak mau nanti nenek aduin ke papa kamu!" ucap nenek yang sedang menikmati opor ayam buatannya.


"Nanti sore papa mau jemput kamu pulang, kamu sudah tiga bulan gak pulang ke rumah." Nenek memberitahu.


"Tadi malam papa udah ngasih tahu aku kok, Nek," jawab Gia dengan mulut penuh makanan.


"Kalau lagi makan jangan bicara!" nasihat kakek bijak.


"Nenek yang ngajak bicara," jawab Gia tidak mau disalahkan.


"Jangan diulangi!" perintah kakek lembut.


Gia mengangguk patuh, setelah selesai makan. Gia membantu neneknya membersihkan meja makan dan mencuci semua alat yang kotor.


"Gia ke kamar, Nek," pamit Gia setelah selesai membantu neneknya.


Di dalam kamar Gia langsung mengambil laptop karena ia ingin menonton drama asia sekarang.


"Itu cowok mau ngapain?" Gia menutup matanya saat cowok dalam drama tersebut berbuat sesuatu pada pacarnya.

__ADS_1


"Hua, gila tu cowok. Pacar sendiri di bunuh," komentar Gia setelah drama selesai.


Gia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 15.30 sore. Ia pun memutuskan untuk mandi karena papanya akan segera datang.


***


Suara mesin mobil terdengar jelas, seorang laki-laki keluar dari mobil dan membuka bagasi untuk mengambil oleh-oleh yang ia bawa untuk mertuanya.


"Sore, Bu." Laki-laki itu menyapa mertuanya yang menyambut kedatangan dirinya dan langsung mengajak masuk ke rumah.


"Sore juga, ayo masuk!" ajak ibu mertua.


Laki-laki itu sudah duduk di sofa ruang tamu setelah menaruh oleh-oleh di ruang tengah.


"Istri kamu gak diajak?" tanya kakek ramah.


"Kalau dia ikut nanti malah gak mau pulang, Pak," jawab laki-laki itu seraya tersenyum tampan.


"Sibuk ya?" hanya nenek yang datang dari dapur membawa teh hangat.


"Iya, Bu. Gia mana?" tanya laki-laki itu sopan.


Belum sempat dijawab, sebuah suara anak perempuan sudah terdengar di telinganya.


"Papaaa ...." Gia berlari dan langsung memeluk papanya yang cuma 2 minggu satu kali bertemu dengannya.


"Anak perempuan papa baru selesai mandi, ya?" Laki-laki itu menghujani banyak ciuman di wajah putrinya.


"Hu'um," jawab Gia sok imut.


Sebelum pulang, mereka mengobrol banyak hal terlebih dahulu untuk sekedar melepas rindu. Ketika jam menunjukkan pukul 16.45 WIB. Laki-laki itu mengajak putrinya pulang karena takut kemalaman sampai di rumah nanti.


"Nenek, Kakek. Gia pulang dulu, nanti. Gia main ke sini lagi kalau sudah masuk sekolah," ucap Gia seraya memeluk nenek dan kakeknya bergantian.


"Iya, kalian hati-hati di jalan!" pesan nenek pada menantu dan cucunya.


"Gia saya bawa pulang, Pak, Bu." Laki-laki itu mengalami kedua mertuanya kemudian mengajak Gia masuk mobil. Sebelum itu, ia memasukkan koper Gia ke bagasi.


Laki-laki masuk ke mobil dan melambaikan tangan pada kedua mertuanya saat mobil sudah melaju pelan.


"Dadah semuanya, nanti Gia sering telepon." Gia berteriak sambil meneteskan air mata karena pasti akan sangat merindukan mereka.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2