Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
Novel Hamil Tanpa Suami


__ADS_3

Assalamu'alaikum para pembaca.. apa kabar semuanya. Semoga baik-baik saja dan selalu bahagia ya.


Aku punya novel baru nih di sini.. yang penasaran yuk baca.



Ceritanya ada sedih dan senangnya, pokoknya menarik deh.


Baca ya, follow Ig aku juga Karlina_sulaiman.


Babay gaes..sampai ketemu di novel baru ya..


Aku spil isi bab pertama deh..


BAB 1.


"Sayang, besok mas pulang. Kamu harus berdandan yang cantik dan menyambut mas dengan pelukan ketika sampai rumah nanti!" pinta Evans seraya menatap lekat wajah Afifah dari layar ponsel miliknya. Evans saat ini sedang berbaring di ranjang sebuah hotel tempat dia menginap selama bekerja di luar kota.


"Alhamdulliah, pekerjaan kamu sudah selesai, ya, Mas?" Afifah juga berbaring. Namun, ia berbaring di kamar mereka yang menjadi satu dengan rumah mama dan papa Evans.


"Iya, Sayang. Alhamdulillah, pekerjaan aku sudah selesai." Evans terus memerhatikan wajah istrinya ketika meraka bicara.


"Kamu pasti rindu sama aku?" Afifah tersenyum manis sekali.


Ingin sekali rasanya Evans segera pulang ke rumah umah dan mencium bibir tipis istrinya yang membuatnya merasa candu kemudian berlanjut memadu kasih dengan sang istri untuk membuat Evans dan Afifah junior.


"Iya, Sayang. Aku rindu sama kamu, rindu sama semua yang ada di tubuh kamu." Evans tersenyum. Senyuman yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Suami aku pintar gombal." Afifah terkekeh begitu juga dengan Evans.


"Iya dong. Tapi, kamu senang, 'kan, aku godain kamu seperti ini?" Evans menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda Afifah.


"Siapa yang senang? Kamu sangat percaya diri." Afifah mengelak. Namun, wajahnya tidak bisa berbohong karena rona merah sudah terlihat jelas.


"Kalau nggak suka, kenapa wajah istri aku jadi merah, ya?" Evans terkekeh melihat Afifah mengerucutkan bibirnya, membuat pipi Afifah mengembung dan itu membuat Evans semakin gemas.

__ADS_1


"Dasar suami nyebelin!" Afifah memerhatikan wajah Evans dengan seksama. Entah mengapa, Afifah ingin berlama-lama menatap wajah tampan suaminya.


"Aku tahu aku tampan, tapi kamu jangan sampai melamun begitu, Sayang!" Evans melihat tatapan mata istrinya bersedih, padahal mata Afifah selalu menyorot penuh kebahagian dan ini adalah pertama kali Evans melihat tatapan sedih Afifah.


"Kamu sakit, Mas?" tanya Afifah cemas, Evans menggeleng pelan. Ia tidak sedang sakit sekarang.


"Aku baik-baik saja, aku sehat gak sakit, Sayang. Memang wajah aku terlihat seperti orang sakit?"


Afifah mengangguk, air mata sudah menggenang di pelupuk mata dan siap terjun kapan saja.


"Tapi, wajah kamu pucat gitu?" Benar, kan? Kelopak mata Afifah sudah tidak bisa lagi menampung air matanya hingga terjun begitu saja di pipi.


"Serius, Sayang. Aku baik-baik saja, kok. Kamu jangan nangis!" Evans jadi merasa cemas, ia ingin segera pulang dan menghapus air mata Afifah sekarang juga.


"Aku rindu." Afifah menghapus jejak air mata yang mengalir di pipinya menggunakan tisu.


"Aku matikan teleponnya sekarang, Sayang. Aku akan pulang hari ini saja, kamu tunggu di rumah, ya! Lima jam atau lima jam empat puluh lima menit lagi aku pasti sudah sampai di rumah." Afifah mengangguk, Evans memberikan kecupan jauh dari layar ponselnya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, Mas." Afifah sekarang bisa tersenyum bahagia, dia kemudian berguling ke kanan dan ke kiri karena sangat bahagia.


Enam jam berlalu, Afifah yang sudah terlalu lelah menunggu malah ketiduran sampai lupa kalau Evans akan pulang.


Suara mobil milik Evans terdengar di luar rumah. Mama Evans yang bernama Sarah kebetulan sedang berada di ruang depan sehingga langsung keluar dari rumah. Sarah melihat Evans sedang menurunkan koper dari bagasi mobil.


Evans tersenyum ketika melihat Sarah menyambut dirinya. Evans segera berjalan menghampiri mamanya dan berhenti tepat di depan mamanya.


"Assalamu'alaikum, Ma. Istri aku di mana?" Evans mencium punggung tangan Sarah kemudian memeluk mamanya sebentar untuk melepas rindu.


"Wa'alaikumussalam, kok kamu sudah pulang hari ini? Bukannya kamu mau pulang besok, ya?" tanya Sarah ketika pelukan mereka sudah berakhir.


Evans tersenyum malu, ia menggaruk bagian belakang kepalanya. "Evans pulang hari ini karena Evans sudah sangat rindu dengan Afifah. Sekarang istri Evans di mana, Ma?" Evans menjawab sekaligus langsung menanyakan keberadaan sang istri.


Sarah terkekeh melihat Evans yang celingukan mencari Afifah. Sejak menikah dengan Afifah, anak laki-lakinya itu sering tersenyum dan semakin sayang dengan keluarga.

__ADS_1


"Kasih tahu nggak, ya?" Sarah sengaja menggoda Evans.


"Ma, jangan bercanda!" Evans mengerucutkan bibirnya, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Afifah sehingga langsung masuk setelah memberikan kecupan di pipi mamanya.


"Evans masuk," ucapnya lembut.


Evans berjalan cepat menaiki tangga menuju ke lantai dua. Evans membuka pintu kamar dengan sangat pelan, kemudian dia langsung masuk dan menutup kembali pintu kamar juga menguncinya dari dalam.


Evans melihat Afifah tidur dengan posisi berbaring miring menghadap ke kanan. Ingin sekali Evans langsung memeluk Afifah. Namun, Evans harus bersabar sebentar lagi karena harus membersihkan diri terlebih dahulu.


Evans meletakkan koper miliknya di dekat almari pakaian. Dia melepas sepatu dan kaos kaki kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan dirinya, Evans langsung keluar dari kamar mandi kemudian merangkak naik ke ranjang dengan gerakan pelan.


Evans berbaring miring di belakang Afifah, dengan gerakan pelan, tangannya memeluk tubuh wanita yang sangat dia rindukan. Evans mencium leher belakang dan pipi kiri Afifah dengan lembut.


"Sayang, aku pulang." Evans berbisik pelan di telinga Afifah.


Afifah yang merasakan ada seseorang memeluk tubuhnya juga berbisik di telinganya perlahan mulai membuka mata. Evans tersenyum melihat Afifah yang akan bangun tidur.


Saat mata Afifah telah terbuka dengan sempurna dan melihat ada Evans di dekatnya, Afifah dengan cepat membalikkan badan dan langsung memeluk tubuh Evans dengan erat.


"Aku rindu sama kamu, Mas." Afifah terisak pelan kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Evans.


"Aku juga rindu sama, kamu." Evans mencium puncak kepala Afifah dengan lembut. Evans mengeratkan pelukan meraka sehingga mereka berdua sama-sama mendapat kehangatan dari tubuh masing-masing.


"Cup-cup, Sayang. Berhenti nangisnya, aku sekarang sudah ada di depan kamu." Afifah menggeliat meminta Evans untuk melepaskan pelukan meraka, setelah pelukan mereka lepas, Afifah langsung duduk dan menatap lekat wajah Evans.


Afifah tersenyum malu, Afifah membuat Evans telentang di ranjang kemudian Afifah langsung duduk di perut Evans. Evans tentu saja sangat terkejut dengan perbuatan sang istri.


Afifah menangkup wajah Evans dan memerhatikan lagi dengan seksama wajah Evans. "Kamu kok makin tampan, Mas?" puji Afifah dengan malu-malu.


Aduh Afifah, kamu ini bicara apa sih? Ya ampun malu banget aku, batin Afifah dengan senyuman malu-malunya.


Mata Afifah dan Evans saling menatap lekat satu sama lain. Perlahan dan tanpa ragu Afifah mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Evans.


Jantung Evans berdetak sangat kencang dan wajahnya terasa panas karena merasakan embusan napas hangat dari Afifah. Evans memejamkan matanya ketika merasakan bibir manis istrinya mulai menyentuh bibirnya. Ya, saat ini Afifah sedang mencium bibir suaminya yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


Evans memeluk tubuh Afifah dan membuat ciuman mereka semakin dalam. Sepasang kekasih halal itu saling melepas rindu dengan berciuman.


~tbc~


__ADS_2