
Karena Syala tidak tahu di mana keberadaan Gilang sekarang. Mereka pun memutuskan untuk pamit dan mencari Gilang dengan segera.
"Kami pamit, maaf kalau menganggu waktumu," ucap Gio ramah.
"Kenapa kalian buru-buru?" tanya Riani yang baru saja datang dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman untuk mereka.
"Kami masih punya urusan lain, Tante," jawab Gio dengan sopan.
"Setidaknya, minumlah dulu!" pinta Riani pada mereka.
Mereka pun minum dulu dan berdiam selama 10 menit di sana. Setelah itu, mereka pun kembali pamit.
"Apa kalian tidak mau istirahat dulu?" Syala seperti belum ikhlas mereka pulang.
"Tidak perlu. Untuk saat ini, mencari Gilang adalah hal yang paling penting untuk dilalukan." Gavin, Gia, dan Gio pun akhirnya keluar dari rumah itu dan diantar oleh Syala sampai depan rumah.
"Koko sangat mencintai Kak Syala, tolong cintai juga dan buat dia bahagia karena selama ini hidupnya selalu penuh luka!" Gia memeluk Syala dengan erat. Syala yang mendengar permintaan Gia hanya bisa tersenyum sedih karena dirinya juga ikut menjadi penyebab rasa sakit yang Gilang rasakan saat ini.
Maaf, Gia. Tapi aku tidak bisa melakukannya, semoga kakak kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, batin Syala sesak.
Gia melepaskan pelukannya kemudian bergabung om dan kakaknya masuk mobil mencari Gilang.
"Aku sudah menyuruh beberapa orang bayaran untuk mencari Gilang," ucap Gio seraya menoleh ke belakang di mana kedua keponakannya duduk.
Gia dan Gavin hanya mengangguk sebagai jawaban.
Gia berpikir sikap Syala ada yang aneh ketika membicarakan Gilang tadi. Gia curiga kalau mereka sedang bertengkar atau malah ada hal lain yang tidak dirinya ketahui tentang hubungan dua orang itu.
Gia meremas ujung bajunya sambil berpikir hal apa kira-kira yang membuat koko-nya sampai tidak bisa dihubungi sejak beberapa minggu yang lalu dan pergi dengan sesuka hati tanpa kabar sama sekali.
Satu jam berlalu, Gio mendapat kamar kalau saat ini Gilang sudah melakukan penerbangan ke Indonesia.
"Gilang kembali ke Indonesia, apa kita akan pulang hari ini?" tanya Gio pada kedua keponakannya.
"Huh, aku sangat kesal dengan Koko Gilang. Dari Indonesia aku ke Singapura dan lanjut ke Amerika, setelah itu lanjut ke London dan sekarang ke Indonesia lagi." Gia menggerutu, bukan masalah jika dirinya melakukan itu, yang jadi masalah adalah, waktunya terbuang sia-sia mencari orang yang ternyata mau pulang padahal sebelumnya mengatakan kalau tidak akan pulang ke Indonesia.
__ADS_1
Gavin mengangguk setuju dengan Gia, dirinya pun juga merasa cukup lelah karena hanya dalam waktu dekat harus bolak-balik naik pesawat.
Gio tersenyum mendengar keluhan mereka, adalah hal lain dari infomasi yang Gio dapat tentang Gilang. Namun, Gio sengaja menyembunyikannya dari Gavin dan Gia karena takut mereka akan khawatir dan membuat Gilang semakin sulit menghadapi cobaannya.
.
.
.
Gilang yang sudah sampai di Indonesia langsung pergi ke sebuah gedung tertinggi di kota kota jakarta. Dia berdiri tepat di pinggiran dan satu langkah saja dia maju, maka bisa dipastikan dia akan terjatuh dan nyawanya dijamin akan melayang.
Gilang memegangi dadanya yang terasa sakit karena dikhianati oleh Syala. Selama ini dia sanggup melakukan apa saja demi wanita itu, tapi balasan yang Syala berikan justru hanya bisa membuat dirinya merasa hancur dan kecewa.
"Satu langkah menentukan hidupku," ucap Gilang lirih.
Dia sedang berpikir sekarang, antara ingin melompat atau mundur dan menghadapi semua masalahnya sendiri.
Cukup lama dia berpikir sampai rambutnya berantakan karena tertiup angin. Pada akhirnya, Gilang memilih mundur dan tidak lompat karena hal itu akan membuat dirinya dibenci Tuhan dan membuat keluarganya bersedih.
Sesampainya di pantai, Gilang duduk di sendirian membelakangi pantai dan menatap kosong ke sembarang arah dengan tangan kanan bertumpu pada pahanya dan tersenyum tipis dengan banyak rencana.
Gilang menatap pergelangan tangannya yang sempat dia gores dengan pisau untuk mengakhiri hidupnya sebelum dia sadar kalau Allah sangat sayang padanya.
Maafkan aku, Tuhan! Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.
Setelah merasa tenang, Gilang pun memutuskan untuk pulang ke mansion keluarganya yang sudah empat tahun tidak pernah dia datangi.
Namun, ketika sampai di rumah. Gilang malah menangis karena merasa manjadi orang paling bodoh di dunia karena melukai dirinya dan hampir membuat keluarganya malu.
Gilang adalah calon penerus perusahaan besar keluarganya. Dia sadar kalau tanggung jawabnya sangat besar.
Gibran melongo melihat putranya acak-acakan dan masuk rumah sambil menangis pilu. Gibran langsung menghampiri Gilang yang baru saja pulang tanpa mengabari mereka, bahkan pergelangan tangan putranya itu diperban seperti terluka.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang? Kamu juga kenapa menangis?" Kebetulan di rumah sedang sepi karena Jasmine sedang mengantarkan Ranti dan Satya ke rumah Akbar.
"Gilang sakit, Pa. Rasanya sakit sekali, hatiku hancur." Gilang memeluk papanya dengan erat sampai Gibran terbatuk-batuk karena pelukan putranya itu.
Gibran mencoba melepaskan pelukan Gilang tapi gagal, bahkan bajunya dijadikan lap air mata oleh putranya itu. Gibran ingin marah tapi tidak bisa.
"Maaf, Pa." Gilang meminta maaf dan melepaskan pelukannya dari Gibran. Dia berjalan gontai ke kamar dengan tatapan mata yang kosong.
Gibran kembali melongo melihat tingkah laku putranya yang sangat aneh. Gibran mengambil ponsel miliknya dan langsung menghubungi istrinya agar segera pulang.
Hari telah berganti, setelah melakukan penerbangan selama 16 jam lebih. Akhirnya Gavin, Gia, dan Gio sampai di Bandara Soekarno-Hatta.
Mereka sudah mendapat kabar dari Gibran kalau Gilang sudah berada di rumah dan keadaannya sangat kacau. Mereka bertiga pun segera kembali ke rumah dengan mata panda karena selama beberapa hari ini tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Ketika mereka dijemput oleh Pak Jumat mereka langsung tepar di dalam mobil yang melaju ke mansion.
Gia tidur pulas dengan tangan memeluk lengan Gavin, sedangkan kakaknya itu tidur dengan kepala menindih Gia. Sungguh malang nasib mereka bertiga saat ini.
"Den, Non. Sekarang kita susah sampai. Ayo bangun!" ucap Pak Jumat pada mereka.
Mereka bertiga pun membuka mata dan tersenyum bahagia karena sampai di rumah dengan selamat.
Mereka bertiga langsung turun dari mobil dan berlari masuk mansion sambil berteriak memanggil Gilang dengan panggilan masing-masing.
"Gilaaaaaang!" teriak Gio.
"Kokooooooo!" teriak Gia.
"Kakaaaaaak!" teriak Gavin.
Mereka berteriak bersamaan sampai membuat siapa saja akan menutup telinga mendengar suara membahana dari mereka bertiga.
Gibran datang menghampiri mereka dan menjewer mereka tanpa ampun, sedangkan Gilang yang sedang asik tidur hanya tertawa kecil mendengar suara mereka yang dalam mode sangat kesal padanya.
***
__ADS_1
Bersambung ...