Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Ambruk


__ADS_3

Gia sekarang masih menangis dalam pelukan mamanya. Gia ingat satu setengah jam yang lalu, ketika dirinya masih berada di rumah Han dan mengobrol dengan laki-laki itu di ruangan yang dipenuhi foto dirinya, tiba-tiba saja mendapat telepon dari Gio dan dilakukan berulang kali.


"Angkat aja, mungkin penting!" perintah Han lembut, dia lelah melihat Gia tidak kunjung menjawab telepon dari Gio.


Gia menatap Han tajam karena saat ini dia sedang menginterogasi laki-laki itu dan tidak ingin diganggu siapapun. "Jangan jadikan ini sebagai alasan buat gak jawab!" ucapnya sinis.


"Abang bakal jawab semua pertanyaan kamu nanti. Tapi, kamu angkat dulu telepon dari om kamu, gak biasanya Gio telepon orang berulang-ulang kalau gak penting," ucap Han masih lembut.


Entah kenapa, Han memiliki pikiran tidak baik karena telepon itu.


"Gangguin banget sih, si Om." Gia mengambil ponsel miliknya yabg tergeletak di ranjang dan dia pun menerima panggilan itu.


"Hallo, Om. Ada apa?" tanyanya ketus.


"Kamu ke mana aja sih, Gi? Dari tadi gak diangkat-angkat juga. Om mohon sama kamu sekarang datang ke rumah sakit karena Koko kecelakaan!" Suara Gio sedikit ketus dan terdengar serak seperti orang menangis.


"Om jangan ngada-ada! Tadi Koko masih baik-baik saja." Gia mencoba tenang dan menganggap itu hanya sebagai alasan Gio agar dirinya cepat pulang.

__ADS_1


"Bohong apa untungnya buat aku? Tadi Koko ketabrak mobil karena mendorong Gavin yang hampir ditabrak mobil itu." Gia masih tidak ingin percaya, sampai panggilan video dari Gio masuk.


Dengan cepat Gia menerima panggilan video itu dan melihat kalau keluarganya sedang berkumpul di depan ruang UGD dan semuanya terlihat sedih, bahkan dia melihat mama dan abangnya menangis.


Tanpa mengatakan apa-apa, Gia menjatuhkan ponselnya dan menangis tersedu-sedu. Han yang tadi mendengar percakapan antara Gio dan Gia, langsung memeluk gadis itu dengan erat.


"Aku mau ke rumah sakit, Bang." Gia menarik baju Han agar mengantarkan dirinya pergi.


"Iya, Sayang. Kita ke sana sekarang." Han menuntun Gia dan mengajaknya keluar ruangan, setelah pamit dengan Naira. Mereka pun langsung ke rumah sakit dengan mengendarai sepeda motor.


Di perjalanan menuju rumah sakit, Gia terus menangis sampai baju bagian belakang Han basah.


Sesampainya di rumah sakit, Gia langsung berlari menghampiri keluarganya.


"Jahat kamu, Bang! Tega buat Koko kecelakaan cuma gara-gara nolongin, Lo!" Gia memukuli dada Gavin yang bajunya ada beberapa noda darah.


Gavin hanya diam dan tidak mengelak, rasa sakit di dadanya mulai terasa ketika tangan adiknya tidak berhenti memukulnya.

__ADS_1


Gavin berpikir jika semua ini memang salahnya. Kalau bukan karena menolong dirinya, mungkin saja yang berada di UGD sekarang bukan Gilang.


"Gia, jangan seperti ini, Sayang!" Gibran menarik baju belakang Gia agar berhenti memukuli Gavin.


Tubuh Gia merosot sampai terduduk di lantai, dia menangis tanpa suara. Masih ingat kalau tadi pagi mereka masih bersama-sama dan tertawa saling bercanda. Sekarang malah harus seperti ini.


Lamunan Gia buyar ketika Jasmine mencubit hidungnya. "Jangan melamun!" Jasmine mencium dahi Gia lembut.


Gavin sekarang berada di ruang operasi, sudah selama dua jam mereka menunggu sampai seorang keluar dari ruang operasi dengan wajah yang datar.


"Dokter, bagaimana operasi putraku?" Gibran menatap dokter tajam.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain."


Bruk!


Gia pingsan ambruk di pelukan mamanya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2